Wacana Wangsa Warmadewa dalam Konteks Kekuasaan, Memperkuat Alam dan Budaya Bali sejak Abad Ke-9

Persaingan dua kerajaan antara Mataram dengan raja yang berwangsa Sanjaya dan kerajaan Sriwijaya dengan raja berwangsa Syailendra (cikal bakal dinasti Warmadewa) terus berlanjut sampai ke Bali. Saat itu mulanya terdapat kerajaan Singamandawa yang didirikan Gajayana (wangsa Sanjaya) dari Kanjuruhan. Pada tahun 913 Masehi muncul Kerajaan Singhadwala dengan Raja Sri Kesari Warmadewa yang merupakan keturunan wangsa Warmadewa (dinasti Syailendra).

Munculnya dua kerajaan ini tidak terlepas dari persaingan antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Syailendra pada abad ke-6. Kedua Kerajaan bersaing untuk menguasai daerah yang lebih luas sehingga harus akhirnya terlibat dalam peperangan secara berkelanjutan.

Singhamandawa atau Balingkang merupakan kerajaan di Panglapuan. Diketahui dari Prasasti Dinoyo Jawa Timur dan Prasasti Canggal di Jawa Tengah abad ke-8. Kerajaan Singhamandawa dipimpin utusan Sriwijaya, Gajayana dari dinasti Sanjaya yang mendirikan Kerajaan Kanjuruhan. Raja Gajayana senantiasa diserang kerajaan kecil dari wangsa Syailendra lalu pindah ke Bali. Gajayana dikenal juga Gaja Wahana berdasarkan Babad Usana Bali.

Bali pada masa Kerajaan Singamandawa dipimpin Gajayana (Wangsa Sanjaya). Gajayana Raja Singhamandawa akhirnya terdesak dan dikalahkan oleh Kerajaan Singhadwala pimpinan Raja Sri Kesari Warmadewa (wangsa Syailendra) yang diutus Kerajaan Sriwijaya untuk menaklukkan Pulau Jawa dan menjadi penguasa di Bali.

Diperkirakan Kerajaan Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dengan Raja Gajayana (Wangsa Sanjaya) jatuh ke tangan Kerajaan Singhadwala yang dipimpin Sri Kesari Warmadewa dengan jalan damai. Dinasti Singamandawa hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng sedangkan Wangsa Warmadewa telah menguasai wilayah yang lebih luas yang dibuktikan dengan prasasti berupa pahatan batu di Penataran Gede Malet dan Pura Panempaan Manukaya.

Keberadaan Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa diketahui pula dari prasati Belanjong di Pura Belanjong di Desa Sanur, Denpasar, Bali. Di pura itu terdapat sebuah batu besar yang kedua belah mukanya terdapat tulisan kuno dengan bahasa Sansekerta dan menyebut nama “Kesari Warmadewa” yang beristana di Singhadwala.

“Prasasti Blanjong peninggalan Sri Kesari Warnadewa. Berapa kali banyak kerajaan yang ingin menguasai Bali. Beberapa kerajaan saling berebut kekuasaan. Bali menguasai beberapa kerajaan sampai Nusa Tenggara Timur (NTT) sehingga banyak sekali akulturasi kebudayaan. Karena core-nya tetap sama dengan lingkungan,” ujar Tjok Bagus Pemayun.

Sri Wira Dalem Kesari tiada lain adalah Sri Kesari Warmadewa yang terletak di lingkungan Desa Besakih. Beliau memerintah di Bali kira-kira dari tahun 882 M hingga 914 M, seperti tersebut di dalam prasasti-prasasti yang kini masih tersimpan di Desa Sukawana, Bebetin, Terunyan, Bangli (di Pura Kehen), Gobleg dan Angsari. Mengingat gelar yang mempergunakan Warmadewa, para ahli sejarah menduga bahwa Sri Kesari Warmadewa adalah keturunan raja-raja Syailendra yang menjadi penguasa Kerajaan Sriwijaya di Palembang pada masa Balaputradewa. Sri Kesari Warmadewa datang ke Bali untuk mengembangkan Agama Buddha Mahayana.