Jelajah Toleransi Lewat Wisata Budaya, SimburSumatera.com Gelar Ekspedisi Jurnalistik Wangsa Warmadewa

Bangsa Indonesia, lanjut dia, menerapkan dan melestarikan budaya toleransi sejak abad ke-9. Tercermin dari apa yang telah dirintis kerajaan di Nusantara. Salah satunya wangsa Warmadewa yang berkuasa di Pulau Bali. Wangsa Warmadewa merupakan dinasti yang pernah berjaya di Nusantara pada abad ke-9 hingga abad ke-11. Sri Kesari Warmadewa, raja pertama Wangsa Warmadewa yang berkuasa di Bali sejak tahun 882 M sampai 914 M. Raja Bali yang dikenal dengan nama Dalem Selonding ini berasal dari Kerajaan Sriwijaya.

Saat rombongan Sri Kesari Warmadewa menempuh perjalanan dari Prambanan-Kahuripan ke ujung Pulau Jawa atau Prawali, Walidwipa atau P’oli kemudian disebut Bali. Semangat yang diusung dan dikembangkan oleh raja-raja rumpun Syailendravamsa dalam menjalankan pemerintahannya ini memiliki banyak nilai. Salah satu nilai yang dirintis sejak masa Bali Kuno, yaitu toleransi.

Dikonfirmasi, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Tjok Bagus Pemayun membenarkan bahwa toleransi sudah dikenal sejak zaman kerajaan di Bali. Bukan hanya bercorak Hindu-Buddha, toleransi juga dibangun masyarakat beragama Islam dan Kristen yang tinggal di Pulau Dewata.

“Toleransi itu ada sejak zaman kerajaan. Bali mula ada di sini. Di samping itu, ada juga kerajaan muslim. Kerajaan muslim di Karangasem masih ada. Di Denpasar ada. Agama Kristen juga ada. Itu menunjukkan Bali dari awal sangat toleransi. Terbuka tapi sangat terukur. Makanya ada, masjid dan gereja tapi bercorak Bali,” ungkap Tjok, diwawancara eksklusif di ruang kerjanya Dinas Pariwisata Provinsi Bali di Denpasar, Senin (18/11).

Tjok menambahkan, toleransi yang tumbuh dan berkembang di Bali tidak terbatas dengan suku dan agama. Toleransi di Bali mencerminkan Indonesia pada umumnya dan telah mendapat pengakuan dari masyarakat dunia. “Budaya tidak mengenal suku, agama tapi toleransi. Mengetahui budaya dari bahasa. Yang minoritas menghargai mayoritas. Yang mayoritas menghargai minoritas. Itu yang menjadikan Bali mewakili Indonesia pada umumnya,” tutupnya.

Toleransi di Bali, lanjut Tjok, dapat dilihat dari kehidupan beragama dan dari sisi budaya masyarakat yang tinggal di Bali. Termasuk hubungan antara umat Islam, Kristen, dan Buddha dengan mayoritas Hindu di Pulau Dewata. “Di Buleleng ada komunitas muslimnya, seperti pure Gambur Anglayang. Di Nusa dua ada, di Puja Mandala. Itu dari sisi agama. Dari sisi budaya, ada orang dari Sumatera membuat destinasi wisata seperti taman mini,” ungkapnya.

Gayatri, muslimah yang lahir dan dibesarkan di Bali mengungkap, toleransi di Pulau Dewata itu sangat tinggi hingga saat ini. Dia menyebut kawasan Puja Mandala di Nusa Dua. Dimana lima tempat ibadah dari semua agama berada dalam satu kawasan. Semua umat beragama hidup rukun berdampingan. Terutama saat peringatan hari besar keagamaan yang terjadi secara bersamaan. Toleransi beragama dan budaya masyarakat Bali sangat tinggi,” ujarnya.