Ahli Migas Ingatkan Solar Sulingan Bikin Mobil Cepat Rusak 

PALEMBANG, SIMBUR – Perkara minyak solar sulingan dari daerah Keluang, Muba yang melibatkan 5 orang terdakwa digelar Kamis (25/5/23) pukul 14.00 WIB, dengan agenda keterangan ahli migas dari Dinas ESDM Provinsi Sumsel.

Ketua majelis hakim Harun Yulianto SH MH didampingi Paul Marpaung SH MH memimpin persidangan di Pengadilan Negeri Palembang kelas IA khusus. Untuk kelima terdakwa merupakan buruh dan sopir yang mengangkut solar sulingan tersebut.

Terdakwa Oktariansyah mengemudikan mobil Grandmax pick up BG 1420 Jo warna silver membawa 2.400 liter atau 2,4 ton solar sulingan. Dimana mobil minyak itu milik Dollah akan dibawak ke Muara Padang Banyuasin ke tempat Dollah. “Baru kedua kali ini bawa minyak,” ujar terdakwa kepada majelis hakim.

Ahli Migas dari Dinas ESDM Provinsi Sumsel Andre menerangkan kepada majelis hakim, bahwa barang bukti BBM dari pemeriksaan, untuk jenis BBM itu solar tapi tidak memenuhi standar mutu untuk diperdagangkan.

“Variabel bahan bakar solar tidak sesuai ke pasaran. Lebih cepat, mesin belum nyala tapi sudah terbakar. Harusnya solar ada standar teknis dari ESDM, baru bisa dijual ke masyarakat,” cetus Andre.

“Akibat memakai solar ini, kendaraan masyarakat akan cepat rusak. Maka BBM illegal regulasinya dilarang dijual, tidak bisa dikelola perorangan, kalau konsep SDA itu dikelola pemerintah,” timpalnya.

Hakim sendiri mengeluhkan, sebab hanya buruh dan sopir saja yang dijerat, sedangkan para penampungnya tidak. “Pengedar juga bisa dikenakan UU konsumen. Ini yang ditangkap hanya yang membawa saja, harusnya penampunya juga. Kalau itu menurut pendapat ahli,  mobil yang sering pakai solar ini, bisa terbakar dan sangat membahayakan,” tegas Harun Yulianto.

Ahli menegaskan kembali, bahwa regulasi untuk pengangkutan solar ini, bila memakai truk bisa berbahaya, maka mulai dari pemilik sumur minyak dan masyarakat serta pemerintah harus ada satu kesatuan dan disiplin yang sama untuk kepentingan bersama dan masyarakat sekitar yang sejahtera.

Diketahui, terdakwa Oktariansyah bersama Abdullah (DPO) pada Kamis (9/2/23) sekitar pukul 00.30 WIB, di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Alang – Alang Lebar, Palembang. Anggota Polda Sumsel menindaklanjuti aplikasi Banpol terkait pengangkutan BBM solar sulingan dari Desa Keluang, Muba menuju Desa Muara Padang, Banyuasin.

Dari penyelidikan tim melihat 2 unit mobil Grandmax pick up BG 1420 Jo warna silver, dikemudikan terdakwa Oktariansyah dan mobil Suzuki Carry BG 8582 XA dikemudikan terdakwa Azhari, mengangkut minyak solar sulingan. Dengan terdakwa Okta membawa 2.400 liter atau 2,4 ton solar sulingan dan terdakwa Azhari sebanyak 2.500 liter atau 2,5 ton solar tanpa dilengkapi dokumen resmi.

Solar sulingan itu milik Abdulah yang pada Selasa 17 Februari 2023 pukul 10.00 WIB, diminta Abdullah alias Dollah kepada terdakwa Okta untuk diantarkan ke rumahnya. Maka mobil pick up warna silver BG 1420 Jo didalamnya 2 babytank plastik berkapasitas 1000 liter atau 1 ton dan 4 drum berkapasitas masing – masing 200 liter diantar ke rumah terdakwa di Desa Babat Saudagar, Kecamatan Pemulutan, Ogan Ilir. Untuk membeli solar sulingan di Desa Keluang tempat Bude (DPO).

Selanjutnya Rabu (8/2/23) pukul 10.30 WIB terdakwa Okta dihubungi Abdullah alias Dollah, untuk menemui terdakwa Azhari yang lebih dulu mengambil solar sulingan ditempat Bude (DPO), terdakwa mendapat uang Rp 1 juta sebagai uang jalan dan uang upah.

Setibanya di lokasi di tempat sulingan solar Desa Keluang, Muba milik Bude. Kedua terdakwa bertemu terdakwa lain, Sadiono, Salman, M Alvin Saputra. Terdakwa Okta lalu mengisi solar sebanyak 12 drum sebanyak 2.400 liter. Kedua terdakwa lalu membawa solar sulingan ke kota Palembang.

Saat melintas di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Alang – Alang Lebar, Palembang pukul 00.30 WIB pada 9 Februari 2023, kedua mobil terdakwa diperiksa anggota Polda Sumsel. Perbuatan tersebut melanggar Pasal 54 UU RI No 22 tahun 2001 tentang migas. (nrd)