Tanggung Jawab Bersama, Pendidikan di Indonesia Masih Rendah dari Negara Lain

PALEMBANG, SIMBUR – Pendidikan itu tanggung jawab bersama di negara masing-masing. Peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di dunia, termasuk di Indonesia, berkaitan dengan pendidikan. Hal itu diungkap Prof Waspodo MEd PhD.

Menurut guru besar ilmu pendidikan itu, proses pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa sehingga banyak sekali dampaknya. Sebelumnya, kata Waspodo, dahulu belajar melalui offline (tatap muka). Sekarang menjadi online (dalam jaringan).

“Tahun 2019 kita mengalami masalah yang membuat media pembelajaran harus berjalan tetapi harus diubah. Perubahan yang drastis ini membuat guru dan peserta didik harus bijaksana dalam menghadapi goncangan-goncangan ini,” ungkapnya, Rabu (18/5).

Dijelaskan, dengan sistem pembelajaran yang berubah, lanjut Waspodo, dikhawatirkan akan kehilangan basis pada anak. Padahal, Indonesia diramalkan punya potensi yang luar biasa untuk mengembangkan generasi-generasi sekarang. “Saat ini, yang kita lakukan adalah menggunakan media online dalam belajar itu tidaklah mudah,” ujarnya.

Yang dikhawatirkan, kata Waspodo, akan menjadi kiat yang sangat luar biasa. Hal itu dikarenakan yang terjadi di desa akan sangat sulit menggunakan jaringan untuk alat komunikasi yang canggih seperti di kota. “Mendidiknya dilihat dari materi, proses belajar juga berbeda. Keseriusan belajar juga berbeda,” terangnya.

Dia menambahkan, walaupun pemerintah sudah menyediakan dana untuk media belajar, dana masih perlu ditambah lagi. “Agar fasilitas anak-anak di desa sama dengan media belajar di kota,” harapnya.

Setelah dilihat perkembangannya, Waspodo menilai sudah cukup bagus dari tahun ke tahun sehingga terbiasa menggunakan media yang berbeda. Orang tua ikut kaget dalam mengajari anak-anak di rumah. Sinergi sekolah, orang tua, masyarakat harus sejajar.

“Pendidikan itu luas. Masalah yang menonjol dalam pendidikan tentang pertimbangan pendidikan di sekolah kota dan desa. Orang yang mampu dan tidak mampu, serta keseriusan dalam mengikuti pendidikan di sekolah,” paparnya.

Waspodo berpendapat, makna pendidikan tidak boleh dipersempit. Karena pendidikan yang sangat luas akan membuat merasa terdidik. “Untuk saat ini, pendidikan di Indonesia masih rendah dibanding dengan negara lain,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Waspodo, pemerintah sudah cukup intens dalam memajukan pendidikan. Akan tetapi, kembali lagi kepada individu masing-masing. Karena menurutnya, semua pihak menyadari bahwa pendidikan itu penting.

“Pendidikan bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya, perhatian pemerintah harus ditingkatkan lagi dalam sekolah maupun perguruan tinggi sehingga peserta didik memperoleh kesempatan untuk menambah ilmu,” imbaunya.

Orang tua dan masyarakat, kata Waspodo, juga harus mempunyai komitmen membantu pendidikan untuk menjadi lebih luas. Termasuk juga lembaga-lembaga yang lain. Tidak hanya lembaga pendidikan tetapi semua lembaga. “Pemerintahan atau masyarakat juga punya tanggung jawab di Indonesia. Bisa bersaing dengan negara lain dalam dunia pendidikan,” tandasnya.

Ditanya Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Waspodo mengatakan, harus diperingati semua pihak. Bukan hanya milik lembaga pendidikan. Akan tetapi, Hardiknas juga milik semua. “Bukan hanya di sekolah, tetapi juga pemerintahan daerah, militer dan kepolisian,” tutupnya.(wms11)