Menata Masa Depan Dunia Kerja dengan Etika bagi Lulusan Perguruan Tinggi Pascapandemi

PALEMBANG, SIMBUR – Peserta magang yang mengikuti program Simbur Apprenticeship: Journalist of Independent Campus 2022 memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Berhubung pelaksanaan Hardiknas yang jatuh pada 2 Mei 2022 bertepatan dengan hari raya Idulfitri 1443 Hijriah, maka kegiatan tersebut baru digelar setelah libur Lebaran. Sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap 20 Mei.

Kegiatan ditandai pertukaran kelompok peserta yang mengikuti magang jurnalistik di Kantor Berita Simbur (SimburSumatera.com), Jl Srijaya Negara Bukit Besar Palembang.  Kelompok I diikuti 8 mahasiswi pada 8 Maret-8 Mei 2022. Sementara, kelompok II diikuti 7 mahasiswi pada 12 Mei-12 Juli mendatang. Satu mahasiswi sedang melakukan penelitian akhir tentang berita Simbur. Program ini dibuka selama tahun 2022.

Muhammad Azhari, pemimpin umum media Simbur mengatakan, salah satu agenda kegiatan ini untuk menyelaraskan kompetensi mahasiswa sesuai dengan prediksi masa depan dunia kerja pascapandemi. Khususnya dalam bidang pers dan jurnalistik.

“Agenda besar pendidikan nasional yang kami dukung saat ini. Salah satunya, bagaimana menata masa depan dunia kerja dengan etika, khususnya bagi lulusan perguruan tinggi. Termasuk beradaptasi dengan teknologi digital. Di samping mendukung pendidikan universal yang berkualitas serta solidaritas dan kemitraan,” ungkap Azhari, Kamis (12/5).

Simbur Apprenticeship, lanjut dia, membekali proses peningkatan etika mahasiswa sebagai kompetensi dasar, khususnya dalam bidang pers dan jurnalistik. “Sebelum mahasiswa berkompetisi pada dunia industri setelah lulus dari perguruan tinggi,” ungkapnya.

Senada diungkap Ayu Puspita Indah Sari MPd, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan, Ilmu Pendidikan, dan Bahasa Universitas Bina Darma Palembang. Menurut Ayu, etika sangat penting diterapkan mahasiswa. “Dengan etika apa pun profesi mahasiswa nantinya akan sangat bermanfaat di dunia kerja. Pintar saja tidak cukup. Kalau tidak punya etika, siapa yang mau memberi pekerjaan,” ungkapnya.

Dijelaskan Ayu, pihaknya sengaja menempatkan mahasiswa mengikuti magang jurnalistik karena berita dan produk pers lainnya menggunakan bahasa sebagai media, baik bahasa lisan maupun tulisan. “Terutama analisis wacana (media) dapat menjadi pilihan alternatif bagi mahasiswa untuk dijadikan referensi penelitian. Tidak hanya mengkaji nilai moral atau penelitian tindakan kelas dan teori konvensional lainnya,” tutupnya.(red)