Tawarkan Investasi Butik, Selebgram Lokal Rugikan Korban Rp50 Juta

PALEMBANG, SIMBUR – Niat mendapatkan profit dalam menanamkan investasi pada usaha butik dan baju sebesar Rp50 juta. Korban berinisial CG (30) seorang pegawai perempuan di perusahaan BUMD di Palembang justru menderita kerugian alias jadi korban dugaan penipuan.

Alhasil korban berinisial CG melaporkan perkaranya ke pihak kepolisian, setelah upaya persuasif kekeluargaan dan dua kali somasi dilayangkan tidak menemukan kesepakatan. Korban melayangkan laporan perkara penggelapan dengan Nomor: STPL/564-BI/IX/2021/IB 1/Restabes/Polda Sumsel. Pada tanggal 7 September 2021 pukul 20.25 WIB.

Dikatakan Septalia Furwani SH MH didampingi Welly Anggara SH MH sebagai tim kuasa hukum pelapor atau korban berinisial CG (30) (Cavarina Gustiandari) warga Sutan Mansyur, Kelurahan Bukit Lama, Palembang. Saat ditemui Simbur, Jumat (14/1/22) sekitar pukul 15.45 WIB, di Mapolsek Ilir Barat I atau Padang Selasa mengungkapkan, kliennya CG merupakan salah satu korban dari terlapor AN saat ini dalam pemeriksaan tim penyidik Polsek Ilir Barat I.

Peristiwanya terjadi pada Senin 8 Februari 2021 sekitar pukul 10.02 WIB, di Jalan Sutan M Mansyur, Lorong Kolam, Kelurahan Bukit Lama, Palembang.  “Kami melapor tanggal 7 September 2021 dengan tindak pidana penipuan Pasal 372 KUHP. Klien kami CG (korban) memberikan nilai investasi pada usaha Butik dan Baju, senilai Rp 50 juta. Janjinya terlapor memberikan profit setiap bulannya, tetapi cuma satu kali profit diberikan ke korban. Maka kami sudah memberikan somasi 2 kali, surat undangan klarifikasi 2 kali, panggilan saksi 2 kali, namun terlapor tidak hadir ke Polsek IB 1. Setelah perjuangan panjang terlapor ada disini, sedang dilakukan pemeriksaan,” jelasnya.

Septalia dari kantor hukum Law Firm and Partners di Jalan Angkatan 45, Lorok-Pakjo, membeberkan terlapor Al Naura KP, diduga telah banyak korban melaporkannya ke pihak kepolisian. Salah satunya di Polsek Ilir Barat I.  “Korban lainnya banyak nilainya hampir Rp 800 juta. Sebelumnya terlapor selebgram ini juga tersandung perkara arisan online,” timpalnya.

Welly Anggara menegaskan kembali, terlapor AN diperiksa penyidik sejak sekitar pukul 14.00 WIB. “Awalnya kami sudah melakukan banyak upaya persuasif ya. Cuma terlapor tidak kooperatif, tidak dijemput paksa juga hari ini. Tapi akhirnya terlapor hadir, yang bersangkutan maka bisa diperiksa,” jelasnya kepada Simbur.

Welly juga awalnya, sudah mengajak yang bersangkutan menyelesaikam masalah secara kekeluargaan, tetapi malah memberikan solusi yang tidak masuk akal.  “Somasi sudah 2 kali kita lakukan, cuma sayangnya tidak ditanggapi, ditanggapi juga dengan solusi tidak rasional. Diduga uangnya digunakan untuk kepentingan pribadi, juga untuk menutup hutang-hutang investor lainnya di bidang butik dan baju,” tukasnya.

Dari Pantauan Simbur, sekitar pukul 16.15 WIB saat akan meminta tanggapan terlapor AN sendiri. Sore itu tim kuasa hukum korban yakni Septalia Furwani dan Welly Anggara menemui terlapor, tampak terlapor tengah menjalani pemeriksaan, di ruangan penyidik Polsek Ilir Barat I. “Lagi diperiksa, nanti saja,” langsung pintu ruangan penyidik disamping sel tahanan Mapolsek IB 1 itu ditutup.

Terpisah Artulius SH sebagai kuasa hukum terlapor, saat dikonfirmasi Simbur pukul 21.00 WIB, terkait perkara investasi butik yang merugikan korban, saat ini kliennya memang sedang diperiksa di Polsek IB 1. “Nanti lihat dari pembuktian dari berkas-berkasnya seperti apa. Apakah ini masuk ranah pidana atau perdata,” tanggapnya.

Terkait kliennya telah dilayangkan somasi 2 kali dan tidak hadir dipanggil penyidik. Artulis menegaskan bahwa hari Jumat ini baru sempat hadir. “Sibuk klien kami, jadi hari ini baru sempat datang untuk diperiksa. Iya diperiksa sebagai saksi. Belum tahu ketetapannya malam ini seperti apa dari penyidik,” cetusnya kepada Simbur.

Soal dikatakan kuasa hukum korban, bahwa banyak korban dirugikan dalam investasi butik ini, Artulius mengatakan ia masih fokus pemeriksaan yang ini saja. “Saya fokus untuk pemeriksaan yang ini (di Polsek IB 1),” tukasnya. (nrd)