- Sidak Ranmor di Makodam II/Sriwijaya, Tertibkan Administrasi Kendaraan Dinas dan Pribadi
- Asrendam II/Sriwijaya Tutup Pelatihan Tugas dan Fungsi Satker Tahun 2026
- Firdaus Minta SMSI Jadi Penanggung Jawab HPN 2027
- Babinsa Koramil 402-07/Indralaya Bersama Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Desa Rambutan
- Pramuka Dorong Lahirnya Generasi Mandiri, Berkarakter, dan Siap Hadapi Era Digital
Bentuk Relawan Pilkada Sehat
PALEMBANG, SIMBUR – Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak dilaksanakan pada 9 Desember 2020. Kekhawatiran terhadap penularan Virus Corona terjadi di tengah masyarakat. Di Indonesia, 575.796 korban telah terpapar pada Minggu 6 Desember kemarin. Data tersebut harus membuat masyarakat berhati-hati terhadap virus ini.
Melihat kondisi ini, Perkumpulan Gerakan Kebangsaan membentuk Relawan Pilkada Sehat dengan menggelar acara bertajuk “Pilkada Sukses, Terapkan Prokes. Masyarakat Sehat, Demokrasi Sehat”. Senin, 7 Desember 2020. Kegiatan berlangsung di Bundaran Patung Kuda, Jakarta.
Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, Riyan Hidayat mengatakan bahwa kegiatan tersebut dalam rangka kampanye budaya mencegah penularan Covid19 khususnya pada gelaran Pilkada 9 Desember mendatang. “Teman-teman dengan berpakaian adat dari 34 provinsi dan menggunakan bahasa daerah masing-masing mengajak masyarakat untuk membudayakan protokol kesehatan dalam kesehariannya. Terlebih daerahnya yang sedang melaksanakan pilkada,” ucap Riyan.
Pihaknya memandang bahwa untuk menegakkan disiplin protokol kesehatan akan sulit apabila dilakukan hanya dengan pendekatan penegakan hukum. “Indonesia memiliki beratus ragam budaya, adat istiadat, serta bahasa. Oleh karena itu, Relawan Pilkada Sehat melaksanakan kegiatan ini dengan melakukan kampanye pendekatan budaya. Khususnya menjelang Pilkada Serentak 2020. Masyarakat harus terus diajak bersama membudayakan protokol kesehatan, dan bukan justru membudayakan pendekatan hukum yang cenderung memaksa,” ungkap mantan Ketua BEM UIN Jakarta ini.
Ditengah perekonomian masyarakat yang masih terpuruk akibat pandemi, pendekatan hukum justru hanya akan memantik emosi publik sehingga menghadirkan gesekan bahkan clash antara masyarakat dan negara. “Rajin mencuci tangan, mengenakan masker, serta disiplin menjaga jarak harus membudaya dan membumi ditengah masyarakat dengan penuh kesadaran, bukan paksaan. Semua harus siap menjadi suri tauladannya,” tutup Riyan.(rel)



