- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Tingkatkan Interoperabilitas Data untuk Memonitor Perkembangan Covid-19
JAKARTA – Pemerintah terus menargetkan upaya penanganan Covid-19 ke depan. Salah satunya meningkatkan interoperabilitas data untuk memonitor perkembangan Covid-19 di Indonesia. Hal itu diungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito. “Meningkatkan interoperabilitas data agar kemampuan melihat perkembangan yang ada dengan kasus Covid-19 ini agar cepat di monitor,” ungkap Wiku saat jumpa pers di Kantor Presiden, Kamis (3/9).
Dijelaskannya, upaya yang akan dilakukan di antaranya melindungi yang rentan, penderita komorbid, lanjut usia, termasuk tenaga kesehatan. Bukan hanya itu, pemerintah juga menekan kasus aktif, meningkatkan kesembuhan, dan menurunkan kematian. Pemerintah juga terus meningkatkan testing, tracing dan treatment, melakukan vaksinasi dan meningkatkan ketersediaan reaagent, PCR dan alat pelindung diri. Di samping melakukan sosialisasi secara masif menggunakan SDM nasional, meningkatkan perubahan perilaku untuk mematuhi protokol kesehatan.
Wiku menambahkan, dalam enam bulan melawan pandemi, sejumlah upaya dan kebijakan yang dilakukan pemerintah telah membuahkan hasil dalam menekan persebaran virus Covid-19. Sejumlah pencapaian tersebut seperti mengeluarkan kebijakan sistem zonasi guna melakukan penetapan dan pengendalian wilayah.
Zona yang dibuat, lanjut Wiku, merujuk pada sistem kebencanaan. Zona merah mewakili darah berisiko tinggi, zona oranye mewakili daerah berisiko sedang, zona kuning mewakili daerah berisiko rendah dan zona hijau mewakili daerah tidak terdampak atau tidak ada kasus.
“Pemerintah juga telah menambah jumlah laboratorium testing, dari 1 menjadi lebih dari 300 laboratorium di seluruh Indonesia, dari 12 kementerian lembaga yang berbeda. Demikian juga rumah sakit rujukan kini telah berkembang lebih dari 800 rumah sakit baik di tingkat nasional, maupun tingkat provinsi,” jelasnya.
Dari hasil pencapaian, persentase kasus aktif nasional cenderung menurun, dimana per Agustus 2020, sudah mencapai 23,64 persen dari persentase sebelumnya 91,26 persen pada bulan Maret 2020. “Pada persentase kematian pun cenderung menurun setelah mencapai puncaknya pada April 2020, yaitu 8,64 persen, menjadi 4,47 persen pada bulan Agustus,” lanjutnya.
Persentase kesembuhan nasional juga cenderung meningkat pada Agustus mencapai 72,17 persen dari hanya 3,84 persen bulan Maret 2020. Lalu dari aspek inovasi, pemerintah mendorong produksi alat pelindung diri dan alat-alat medis lainnya buatan Indonesia dengan bahan baku 100 persen dari Indonesia yang memenuhi standar internasional AATCC 42 dan ISO serta ASTM.
“Kedua, Inovasi bidang lain membuat ventilator buatan Indonesia yang telah teruji klinis dengan baik. Yang ketiga, telah memproduksi masker kain, dengan kemampuan filtrasi setara masker bedah dan bisa digunakan ulang. Serta mengembangkan vaksin dalam negeri melalui konsorsium Eijkman dan Biofarma, yaitu vaksin Merah Putih,” ujarnya. (red)



