Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Sumsel 2.784 Orang, Tidak Ada Daerah dengan Risiko Tinggi

# Kasus Aktif 1.292, Kasus Selesai 1.492 Orang

# Pasien Sembuh 1.359, Meninggal 133 Orang

PALEMBANG, SIMBUR – Meskipun kasus konfirmasi positif Covid-19 terus bertambah, sementara tidak ada zona merah atau daerah dengan risiko tinggi di Provinsi Sumatera Selatan. Hal itu berdasarkan data update hasil analisis Gugus Tugas Nasional per tanggal 12 Juli 2020.  Demikian diungkap Dr Iche Andriyani Liberty SKM Mkes, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Selatan.

Menurut Iche, kasus konfirmasi positif tidak menjadi satu-satunya indikator karena ada indikator lainnya, yakni 10 dari epidemiologi, 2 dari surveillance kesehatan dan 2 dari pelayanan kesehatan. “Mungkin hasil analisis pusat, skoring atau total skor, meskipun kasus konfirmasi positif terus bertambah, ada indikator-indikator lain yang sudah tercapai,” ungkap Iche saat video conference, Rabu (15/7).

Meski demikian, lanjut Iche, ini harus dijadikan momentum untuk lebih waspada. “Karena sifat peta risiko atau pemetaan zona akan sangat dinamis. Sangat tergantung dengan pergerakan mobilitas penduduk. Bisa saja sekarang zona orange minggu depan berubah menjadi merah kalau masyarakat euforia. Karena sifat pemetaan dinamis,” jelasnya.

Dari 17 kabupaten/kota di Sumsel, 9 daerah risiko sedang, 7 rendah dan 1 tidak ada kasus. Dipaparkannya, 9 daerah dengan risiko sedang meliputi Banyuasin, Pagaralam, Muara Enim, Ogan Ilir, Pali, OKI, Prabumulih, Musi Rawas, dan Palembang. Selanjutnya, 1 daerah dengan risiko rendah meliputi OKU, Lahat, Muratara, OKUT, Muba, Empat Lawang, dan Lubuklinggau. Sementara, 1 daerah yang tidak ada kasus yakni OKU Selatan.

Iche menambahkan, semua daerah di 17 kabupaten/kota akan diberi rekomendasi terkait percepatan penanganan Covid-19. Karena itu, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur No 378/KPTS/Dinkes/2020 telah dibentuk tim tenaga ahli dalam rangka mendukung Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel.

“Tugasnya untuk melakukan kajian dan memberikan saran dan masukan, data dan informasi yang akan direkomendasi agar bisa menjadi sebuah kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah di Sumatera Selatan,” kata Iche.

Selain itu, lanjut dia, tugas tim ahli tersebut melakukan evaluasi dan penilaian daerah untuk mendapatkan data dalam rangka menyambut adaptasi kebiasaan normal baru agar masyarakat produktif dan aman Covid. “Ada perlindungan kesehatan dan pertumbuhan ekonomi berjalan dengan baik,” harapnya.

Dijelaskannya pula, kasus positif Covid-19 di Sumsel menjadi 2.784 orang. Ada penambahan 30 kasus baru pada Rabu, 15 Juli 2020. “Kasus konfirmasi positif baru per tanggal 15 Juli 2020 mengalami penambahan sebanyak 30 orang,” ungkap Iche.

Menurut Iche, penambahan kasus baru tersebut berasal dari Palembang 10 orang, Prabumulih  1 orang, Muara Enim 2 orang, Banyuasin 3 orang, Ogan Ilir 11 orang, OKU Timur 1 orang, OKU Selatan 1 orang, dan Pali 1 orang. “Jumlah kasus positif di Sumsel menjadi 2.784 orang,” ungkapnya.

Jumlah kasus yang sudah selesai (closed cases) 1.492 orang (133 kasus meninggal ditambah 1.359 kasus sembuh). “Sementara kasus yang masih aktif dan dalam proses menunggu hasil, bisa sembuh atau tidak sebanyak 1.292 orang,” terangnya.

Adapun jumlah orang dalam pantauan (ODP) sebanyak 9.405 orang, selesai dalam pantauan 7.978 orang, dan masih dipantau sebanyak 1.427 orang. Sementara, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 1.290 orang. Sebanyak 813 orang sudah selesai pengawasan, serta masih dalam pengawasan 477 orang.

Pasien dinyatakan sembuh berjumlah 1.359 orang. “Ada penambahan kasus sembuh 30 orang. Berasal dari Kota Palembang 16 orang, Muara Enim 2 orang, Lahat 2 orang, Banyuasin 8 orang, Ogan Ilir 1 orang, dan OKU Timur 1 orang,” ungkapnya seraya menambahkan, kasus pasien meninggal 133 orang. “Tidak ada penambahan kasus meninggal pada hari ini,” tutupnya.

Ditanya protokol kesehatan di perusahaan, Iche menjawab tempat kerja sudah ada parameternya bagaimana protokol kesehatan dan  regulasi yang harus ditaati. “Sebaiknya ada pengawasan dan monitoring tentang pelaksaksanaan protokol kesehatan di perusahaan masing masing,” tutupnya.(kbs)