Dirasakan Masyarakat Berpenghasilan Harian, Social Distancing Berdampak pada Ekonomi dan Kriminalitas

PALEMBANG, SIMBUR – Wabah Covid-19 membawa mimpi buruk bagi masyarakat. Virus mematikan yang bersumber dari Wuhan, Cina kini telah menyebar luas dan menimbulkan banyak korban. Pemerintah Indonesia pun telah mengonfirmasi status darurat Corona. Karenanya, penerapan social distancing dengan isolasi mandiri juga diterapkan sebagai salah satu upaya memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Meski demikian, masih banyak warga yang mengabaikan social distancing.

Pemerintah telah mengimbau rakyat untuk melakukan aktivitas seperti bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Kendatipun telah dikeluarkan maklumat oleh kepolisian, diduga masih ada saja warga keluyuran serta melakukan aktivitas yang berpotensi mengumpulkan massa, termasuk kegiatan keagamaan dan kebudayaan, serta resepsi acara keluarga.

Sosiolog dan budayawan Sumatera Selatan, Dr Saudi Berlian menjelaskan bahwa social distancing itu bagus. Seharusnya dilakukan masyarakat untuk menanggulangi penyebaran virus Corona di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Meski beragam budaya dan adat istiadat, Saudi berharap agar  masyarakat mengikuti dan mematuhi imbauan pemerintah untuk melakukan social distancing dan isolasi mandiri.

“Yang jelas (social distancing) untuk jaga-jaga ya bagus karena disarankan orang-orang kesehatan (medis) yang kompeten (melalui imbauan pemerintah). Sudah ada upaya kasih jarak. Batuk ada jarak. Bersin juga ada jarak. Social distancing itu bagus untuk membatasi keadaan sosial. Termasuk membatasi utang leasing (pembiayaan),” ungkap Saudi kepada Simbur, Kamis (26/3).

Ditanya beda social distancing dan physical distancing yang menurut WHO lebih relevan, Saudi menerangkan, kalau physical distancing itu objektif karena lebih memberikan pada batasan fisik. “Berbeda dengan social distancing tadi lebih mengarah subjektif secara psikologis,” jelasnya.

Saudi berharap masyarakat dapat mengikuti perkembangan. Tidak selamanya harus terbelenggu dalam paradigma konvensional, terutama dalam kaitannya dengan budaya dan adat istiadat masa lalu. Menurutnya, kesehatan, keselamatan rakyat, dan kemaslahatan umat manusia itu yang lebih diutamakan agar terhindar dari virus Covid-19.

“Saatnya kompatibel (menyesuaikan) dengan keadaan. Budaya dibentuk untuk kemaslahatan bagi warga. Tapi karena terfokus pada idiom-idiom lain sehingga budaya seolah-olah ditinggalkan. Sebenarnya (social distancing) itu untuk melindungi, bukan membatasi. Sekarang orang banyak ngeyel tidak mau melakukan social distancing atau physical distancing,” ujarnya.

Masih kata Saudi, ada dua dampak negatif diterapkannya social distancing jika tidak tepat substansinya. “Pertama, lebih banyak berdampak pada ekonomi. Orang yang penghasilannya harian yang terasa betul. Setelah itu, dampak kedua adalah kriminalitas. Karena ekonomi sulit, kriminalitas meningkat. Makanya harus hati-hati dalam menempatkan substansi (social distancing),” sarannya.(maz)