Hujan Merata di Sumsel Diprediksi Akhir November

PALEMBANG, SIMBUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini banyak terjadi tampaknya masih harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah provinsi (Pemprov) Sumsel. Pasalnya, sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palembang, hujan merata baru akan terjadi pada akhir November mendatang. Artinya, kebijakan penambahan 10 hari status tanggap darurat karhutla, kemungkinan masih belum cukup.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Palembang, Nuga Putrantijo menjelaskan bahwa untuk wilayah Sumsel memang diprediksi sudah masuk musim hujan pada November mendatang. “Saat ini sebenarnya awal musim hujan itu sudah mulai masuk. Terbukti bahwa pertengahan Oktober kemarin sampai akhir Oktober ini, sudah terjadi hujan di beberapa tempat. Memang prediksi kami dari utara Sumsel lalu menjalar ke selatan tetapi di sebelah barat Sumsel di sepanjang Bukit Barisan. Kalau di daerah timur sampai ke selatan dan tenggara yang saat ini terjadi karhutla, itu memang awal musim hujannya paling akhir. Kami prediksi itu sampai dengan November 3 (akhir November),” jelas Nuga Putrantijo, dikonfirmasi Simbur, Sabtu (26/10).

Dijelaskannya, itu memang secara normal seperti itu dan kami ada data 30 tahun yang dirata-ratakan, makanya BMKG menjadikan kondisi itu normal.  “Jadi untuk di Sumsel, musim hujan dimulai dari utara menjalar ke selatan namun terlebih dulu di sebelah barat. Terakhir itu memang di wilayah pantai timur Sumsel,” ungkapnya.

Ditambahkannya pula, dalam perjalanannya ada maju mundur, makanya disebutkan bahwa di 2019 seluruh wilayah Indonesia terjadi kemunduran termasuk di Sumsel. Namun mundurnya itu di  1 dasarian atau 10 hari sampai dengan 30 hari. “Kebetulan untuk Sumsel sendiri hanya mundur 1 sampai 2 dasarian, artinya 10 hari sampai 20 hari. Kami memang prediksi mundur 10 hari untuk hujan yang signifikan atau benar-benar musim hujan. prediksinya akhir November hujan sudah merata di Sumsel,” tambahnya.

Terkait penambahan 10 hari masa tanggap darurat karhutla, Nuga menjabarkan awal keluarnya kebijakan tersebut dimana prediksi awal BMKG memang awal musim hujan di Sumsel adalah Oktober 2 sampai dengan November 1. Namun setelah dianalisa kembali, BMKG mengupdate menjadi Oktober 3 sampai dengan November 2.

“Karena kondisi dinamika atmosfer saat ini, belum memungkinkan terjadinya hujan yang cukup signifikan yang bisa membantu memadamkan api di daerah karhutla. Atas dasar itu kami memberikan saran kepada BPBD Sumsel agar analisis BMKG dipakai untuk mengambil kebijakan tentang tanggap darurat itu. Lalu, atas dasar itu kepala BPBD Sumsel bersurat ke Gubernur Sumsel untuk diperpanjang (masa tanggap darurat),” jelasnya.

Apakah kemungkinan masa tanggap darurat diperpanjang lagi atau tidak, Nuga tidak bisa memastikannya. “Saya kurang tahu karena itu kebijakan (Pemprov Sumsel). Tetap kami update, dan tidak berpatokan harus ini dan itu. setiap sepuluh hari itu kami update (informasi iklim), dan melihat kemungkinan-kemungkinannya apakah mundur atau sudah terjadi. Itu berdasarkan kejadian di lapangan yang dianalisis apakah konsisten ke belakang atau tidak. Jika tidak kan tetap kami simpulkan dan menginformasikan apa yang terjadi di lapangan dan prediksinya seperti apa,” ujarnya.

Dalam konferensi persnya Nuga menuturkan,  Kota Palembang dan Kabupaten OKI saat ini mengalami 30 Hari Tanpa Hujan (HTH). Menurutnya kondisi ini menjadi sumber pemicu kekeringan di beberapa lahan gambut yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan, terlebih di kawasan Kabupaten Ogan Komering Ilir yang memang notabene lahannya merupakan lahan gambut.

“Update Dinamika Atmosfer Per September dasarian, prediksi El-nino Hingga Akhir Tahun diperkirakan dalam kategori Lemah hingga Netral, Secara Umum saat ini Provinsi Sumsel sedang berlangsung Musim Kemarau diperkirakan akan berlangsung Hingga Bulan Oktober Dasarian 2 tahun 2019,” tuturnya.

Sementara, pada bulan Oktober Dasarian 2, ia memperkirakan angin Monsun Australia masih akan berlangsung hingga bulan November  Dasarian 1, hal tersebut masih akan menghambat pembentukan awan terutama diwilayah Indonesia Bagian Selatan. “Jadi prediksinya hujan baru terjadi di akhir Oktober sekitar tanggal 27-30 Oktober atau di Dasarian I November sekitar tanggal 1 November. Potensi awan di tanggal tersebut harus dimanfaatkan untuk hujan buatan,” tambahnya.

Dalam paparannya pula, Menjelaskan suhu udara di kawasan Palembang bulan Oktober rata-rata mencapai 36,2 derajat Celcius dan terendah terjadi di Februari yang mencapai 34,2 derajat Celcius. Hal tersebut turut menjadi penyebab terjadinya kebakaran di sejumlah kawasan terutama di Selatan wilayah Sumsel seperti di Kabupaten OKI.

Saat puncak musim kemarau terjadi, Ia menguraikan, daerah – daerah yang perlu diwaspadai dan sering terjadi karhutbunla dengan sifat hujan di musim kemaraunya dibawah normal (lebih kering) antara lain Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten OKI, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Muba dan beberapa daerah lainnya.

“Prakiraan awal masuk musim hujan tahun 2019-2020 provinsi Sumsel secara umum akan masuk pada bulan oktober Dasarian 3 tahun 2019. Setelahnya akan berlangsung merata di seluruh wilayah Sumsel. Tapi, BPBD juga harus mengantisipasi terjadinya bencana banjir,” pungkasnya.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah menuturkan, Pemerintah Provinsi Sumsel telah melakukan upaya dan usaha yang sangat besar mulai dari Intruksi Gubernur Sumsel yang telah menetapkan status siaga dengan menurunkan satuan tugas untuk agar penanganan karhutla bisa ditanggulangi. Ia menjelaskan di Provinsi Sumsel terdapa 9 kabupaten/kota yang rawan terjadi karhutla diantaranya Kabupaten OKI, OI, Muba dan Banyuasin.

“Mulai dari pengendalian operasi darat, operasi udara, kemudian sosialisasi dan satgas doa. Di Provinsi Sumsel ada 9 kabupaten/nota yang rawan karhutla, disana juga juga telah dibuat satuan tugas di tingkat kabupaten untuk menanggulangi dan mencegah karhutla,” ungkapnya.

Menurutnya, sembilan kabupaten/kota yang rawan terjadi karhutla tersebut empat diantaranya (OKI,OI, Muba dan Banyuasin) merupakan daerah yang sangat luas sekali, mulai dari luas lahan hutannya, luas lahan perkebunannya dan luas lahan gambutnya. Sebanyak 1512 pasukan yang diturunkan oleh tim untuk pencegahan karhutla di desa yang rawan karhutla tersebut.

“Nah kondisinya berpotensi untuk mudah terjadi kebakaran karena kondisi cuaca juga yang mempengaruhi dari karhutla tersebut. Oleh sebab itu pemprov telah berupaya bagaimana untuk mengantisipasi, mencegah karhutla ini sejak dini. Kami mengusulkan bantuan 1 unit helikopter lagi ke pemerintah pusat untuk melengkapi 9 helikopter yang beroperasi saat ini. Selain itu ada dua pesawat yang melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang terus mengupayakan pembentukan hujan,” terangnya.

Iriansyah menjelaskan proses pemadaman cukup sulit dilakukan akibat kemarau tahun ini yang cukup ekstrem. Sehingga mudah sekali terjadinya karhutla dan membuat titik hotspot meningkat. Kondisi terakhir dampak karhutla yang terjadi di Daerah OKI khususnya daerah kecamatan rambutan, pampangan, tulung selapan, cengal, pedamaran dan pematang panggang membuat asap dibawa angin hingga ke Kota Palembang. “Memang betul asap karhutla yang ada di Palembang  ini masuknya dari Pangkalan Lampam, kabupaten OKI. Proses pemadaman sudah dilakukan siang dan malam oleh petugas. Hanya saja, kondisi cuaca yang panas serta angin kencang membuat karhutla terus meluas,” ungkapnya.

Senada, Kabid Tanggap Darurat BPBD Sumsel, Anshori menilai penambahan 10 hari masa tanggap darurat karhutla di Sumsel sudah cukup, namun pihaknya tetap menunggu prediksi dari BMKG jika kembali terjadi anomali cuaca. “Untuk 10 hari itu mungkin sudah cukup karena perkiraan sudah masuk di musim pancaroba. Kalau memang nanti ada perubahan perkiraan dari BMKG misalnya anomali cuaca, kemungkinan bertambah. Tetapi mudah-mudahan tidak,” harapnya.

Dijelaskan, kalau untuk perkiraan BMKG saat ini sebenarnya sudah masuk musim penghujan mulai Oktober dasarian kedua. Namun memang ada beberapa wilayah musim hujannya di dasarian kesatu sampai ketiga November. “Jadi kemungkinan walaupun hujannya belum banyak tapi sudah transisi ke musim penghujan. Harapan kami karhutla tidak terlalu parah karena sudah mulai hujan walaupun masih sedikit. Tetapi untuk daerah OKI sebenarnya memang agak terlambat,” pungkasnya. (dfn)