Demo Kabut Asap di Kantor Gubernur Sumsel, Tiga Mahasiswa Unsri Terluka

PALEMBANG, SIMBUR  – Demo Gerakan Aliansi Sumatera Selatan (Sumsel) Melawan Asap di halaman depan kantor Gubernur diwarnai kericuhan. Mahasiswa yang berusaha maju ditahan oleh petugas yang siap dengan tameng dan pentungannya. Alhasil, aksi saling dorong pun tidak bisa dielakkan. Suasana berubah menjadi gaduh, dan terlihat beberapa kali pentungan petugas mengarah ke massa yang juga kian beringas.

Akibat bentrok tersebut, tiga mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) terluka. Ketiga mahasiswa itu IL (kepala bocor), IR (lecet pada kepala dan sekitar leher), dan Ab (luka lecet). Mahasiswa mengalami cedera akibat pentungan polisi yang mendarat di muka saat berusaha menolong IL.

Ricuh terjadi sesaat setelah Wakil Gubernur (Wagub) Sumsel meninggalkan massa aksi dan menerima penolakan. Mahasiswa tetap menginginkan agar Gubernur Sumsel yang menerima mereka. Mahasiswa Teknik Unsri, IR yang mengalami luka-luka tidak mengetahui pasti siapa yang memukul dan mencakarnya saat ricuh. “Saat Wakapolda Sumsel akan naik ke mobil orasi, massa memblokade dan saya berusaha menenangkan mereka. Tetapi saya mendapat pukulan oleh polisi atau Satpol PP dengan menggunakan tongkat, ada juga kena cakar dan tinju,” akunya setelah sempat dikira telah diculik oleh petugas.

Koordinator Aksi, Nikmatul Hakiki Febriawan menegaskan, mahasiswa ingin hari ini Gubernur yang menemui massa aksi dan menyatakan komitmennya melalui kontrak politik dengan mahasiswa. “Soal ricuh, sebenarnya tadi Wagub sudah datang namun massa menginginkan Gubernur sehingga kami menolak. Kami tahu saat ini Gubernur berada di Palembang. Kami berharap jangan cuma memikirkan petinggi negara, tapi pikirkan masyarakat yang sudah memilih dia. Seharusnya yang dilayani terlebih dulu adalah kami,” jelasnya, Selasa (17/9).

Dilanjutkan, saat Wakapolda Sumsel ingin naik ke mobil orasi dinilai lebih rawan konflik sehingga dicegah dengan membuat pagar hidup di sekitar mobil. “Kami cegah. Tetapi saat dicegah, polisi membawa tameng dan pentungan. Akibat ricuh tersebut kawan kami ada yang kepalanya bocor (IL) dan satunya lagi lecet (IR). Satu lagi mengalami lecet (AA) yang mengalami luka lecet akibat pentungan yang mendarat di mukanya saat berusaha menolong Indra Lesmana,” ungkapnya seraya menambahkan jika para koordinator sudah berusaha menenangkan massa aksi, namun petugas terus mengejar.

Massa aksi memastikan akan terus bertahan dan menunggu sampai orang yang ditunggu datang menemui. “Kami akan terus bertahan sampai Gubernur memenuhi tuntutan kami. Kami tidak memberikan deadline kepadanya, tetapi kami hanya meminta Sumsel bebas asap mulai 2020. Ini urgensi dan kami minta Gubernur datang menemui kami, kalau tidak kami akan bertahan. Kami ingin ada jaminan dari Gubernur untuk kami sampaikan ke masyarakat,” ujarnya.

Sebenarnya, massa aksi menginginkan soal penegakan hukum karhutla. Kalau sekadar menuntut asapnya. Asap hilang tapi masalah hukumnya tidak. “Kami minta koorporasi yang memang (terbukti) membakar lahan dicabut izinnya. Karena menurut data, setengah lebih titik api di Sumsel itu ada di lahan koorporasi. Memang sisanya ada di lahan masyarakat. Namun, dari berita yang ada, itu hanya masyarakat yang ditangkap,” lanjut Nikmatul.

“Problem kami bukan hanya masalah asapnya saja. Kami minta dengan penegasan hukum ke depan tidak akan ada lagi bencana asap. Kami juga minta saat ini Dinkes sedang bagi-bagi masker. Itu sebenarnya kurang dan kami minta lebih (upaya Dinkes) minimal ada posko jika masyarakat membutuhkan,” harapnya.

Sementara, Rektor Unsri, Prof Anis Saggaf mengatakan, dirinya datang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Saya lihat anak-anak saya lewat video viral bahwa mereka ke sini untuk bercerita masalah karhutla. Makanya saya datang. Saat ini bukan hanya Rektor saja yang datang, tetapi juga semua wakil rektor dan beberapa dekan. Karena kami tidak mau nanti dalam demo terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya setelah memastikan dirinya kembali dipercaya menjadi rektor terpilih Unsri.

Soal tiga mahasiswa Unsri yang terluka, Prof Anis berharap baik mahasiswa maupun aparat agar menyikapi demostrasi dengan baik. “Mahasiswa yang terluka nanti setelah P3K (pertolongan pertama) akan diurus oleh WR III. Mudah-mudahan ke depan jika ada aspirasi itu disampaikan baik-baik, dan yang menerima juga baik-baik. Mahasiswa punya cara sendiri yang penting disampaikan dengan cara baik-baik, dan tidak anarkis,” ujarnya.

Rektor juga memaklumi mengapa Gubernur belum hadir untuk menemui massa aksi yang akan terus bertahan di halaman Kantor Gubernur. “Saat ini Gubernur sedang meninjau lahan yang terbakar. Jadi nanti kami akan ajak utusan mahasiswa untuk bertemu langsung dengan Gubernur. Mahasiswa ini bukan anak-anak yang tidak bagus. Mereka menyampaikan aspirasi dengan baik-baik kan, dan mereka memikirkan untuk kepentingan masyarakat dan rakyat. Tidak pernah mahasiswa itu memikirkan pribadi (nya). Sebenarnya ini (aksi) bagus, jadi tinggal bagaimana kita merespon,” katanya.

Dalam kericuhan tersebut, Wakapolda Sumsel, Brigjen Pol Rudi Setiawan yang berusaha menenangkan massa terlihat menyesalkan bentrokan yang terjadi. “Saya terima kasih dan bangga kepada kalian semua. Begitu besar kepedulian kalian terhadap nasib bangsa ini. Kami ini sama-sama mencari solusi jadi jangan mudah terprovokasi. Saya  akan coba mengakomodir (semua pihak),” ujarnya kepada massa yang sedang tersulut emosinya.

Diketahui, aksi yang dilakukan oleh Gerakan Aliansi Sumsel Melawan Asap (G-ASMA) menuntut enam hal kepada Gubernur Sumsel.  Pertama, tangkap, adili, dan cabut izin perusahaan pembakar lahan di Sumsel. Kedua, tindak tegas oknum pembakar lahan di wilayah sumsel menurut Perda No 8/2016 pasal 17 dan 18 dan atau UU Nomor 32/2009. Ketiga, tegaskan aturan hukum terkait pembukaan lahqn sesuai pasal 56 uu 39 tahun 2014.

Keempat, membentuk tim gugus tugas untuk melakukan mitigasi bencana karhutla serta pengawasan lahan gambut dan atau lahan yang rentan terbakar. Kelima, memfasilitasi pelayanan kesehatan masyarakat yang terkena dampak penyakit akibat karhutla secara gratis. Terakhir, menerbitkan SK Gubernur tentang kewajiban pencegahan karhutla oleh setiap perusahaan yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berkaitan dengan karhutla. “Jika tidak memenuhi keenam tuntutan tersebut, maka Gubernur Sumsel dituntut untuk mundur dari jabatannya,” ungkapnya.

Gubernur Sumsel, Herman Deru yang baru menemui massa aksi sekitar pukul 17.00 WIB, meminta maaf langsung di depan mahasiswa. “Sebagai koordinator Forkompimda, pemimpin rakyat dan pemimpin daerah Sumsel. Jika ada perkataan dan perbuatan yang tidak berkenan dalam bentuk penerimaan adik-adik sekalian, atas nama Forkompimda saya menyampaikan permohonan maaf,” ujarnya.

Di hadapan mahasiwa, Herman Deru  didampingi Kapolda Irjen. Pol. Firli Bahuri dan Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI Irwan meminta semua pihak untuk tidak mengiring opini  dan saling menyalahkan dalam kasus kabut asap yang timbul akibat karhutla. Adapun yang paling penting saat ini, lanjut Gubernur, bagaimana caranya menanggulangi  karhutla yang telah terjadi agar tidak meluas. “Terpenting sekarang bagaimana  bekerja menghentikan   kabut asap yang ditimbulkan karhutla ini. Yang  bisa bantu silakan bantu. Kalau tidak bisa bantu minimal bantu dengan doa,” ajak Gubernur.

Gubernur menegaskan, dirinya secara pribadi juga tidak ingin kasus karhutla terus terjadi di Sumsel. Sebagai seorang pemimpin daerah lanjut  dirinya memiliki tanggung jawab yang besar terhadap wilayah dan masyarakat  yang dibuktikan dengan bekerja secara maksimal.

“Kalau yang membakar manusia pasti ada tujuannya  untuk ditanami. Namun nyatanya ada  lahan yang tidak dibakar malah terbakar sendiri. Dari hasil kajian 90 persen karhutla karena oleh manusia, nah 10 persennya kita tidak tau inilah perlu kita selidiki. Kita juga tidak mau uang negara habis karena karhutla ini,” tambah Gubernur.

Lebih lanjut Gubernur mengucapkan terima kasih atas support  yang diberikan mahasiswa yang telah bersedia duduk bersama mencari solusi terbaik dalam mengatasi karhutla di Sumsel. “Sumsel ini milik bersama, jadi mari sama-sama mencari solusi. Jangan ini dijadikan sebagai lahan maling panggung. Sekarang saya ajak  besok adik-adik  mahasiswa  semuanya untuk ikut berdoa dengan mengelar salat Istisqa berjemaah di Griya Agung,” ajak Herman Deru.

Terkait dengan tuntuan mahasiswa  yang meminta pemerintah serius dalam menanggulangi karhutla dan meminta penegak hukum menangkap pelaku pembakaran terutama pihak korporasi yang diduga  melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Gubernur menegaskan  sanksi tegas akan diambil pihaknya jika sudah ada keputusan hukum tetap. “Jika  sudah ada putusan hukum tetap  dan terbukti melakukan pembakaran. Tegas di sini, saya akan cabut izinnya,” tegas Herman Deru.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Firli Bahuri menegaskan, segala upaya telah dilakukan pemerintah berkerja sama dengan TNI/Polri dalam  menekan kasus karhutla di Sumsel. “Sayang ingat betul tanggal 10 Juli lalu. Kami sudah menyebarkan maklumat bersama antara Gubernur, Pangdam dan Kapolda  yang isinya larangan membakar hutan dan lahan. Jika ini dilanggar  maka ada sanksi hukumnya,” tegas Kapolda.

Hal yang senada juga diungkapkan Pangdam II/ Sriwijaya Mayjen TNI Irwan. Pangdam menambahkan cuaca panas merupakan faktor utama terjadinya karhutla di Sumsel. “Sampai saat ini kendala yang kita hadapi pertama cuaca panas, sehingga lahan yang kerinng sangat  mudah terbakar,” tutup Pangdam.  (dfn)