Sriwijaya FC Terancam Kehilangan Satu Sponsor Perusahaan Daerah

# PDPDE Transformasi Jadi PT SEG

 

PALEMBANG, SIMBUR 
Logo Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) tak lagi terlihat di jersey Sriwijaya FC (SFC) sebagai salah satu sponsor dalam mengarungi ketatnya Liga Indonesia. Pasalnya untuk saat ini, Yohanes memastikan jika PT SEG memilih untuk fokus pada core business, sehingga hal-hal lain termasuk sponshorship atau yang di luar itu akan ditahan dulu.

“Saya rasa, kami sekarang lebih fokus kepada core business perusahaan itu. Lain-lainnya seperti sponsorship dan segala macam itu tidak primer. Jadi kami mendahulukan hal-hal yang memang menurut kami menjadi core business PT SEG. Itulah (saja) dulu, yang lain-lain nanti dulu,” terangnya.

Yohanes H Toruan membenarkan jika terjadi perubahan dalam tubuh PT SEG. Namun, Pemprov Sumsel dipastikan tetap menjadi pemegang saham tunggal. “Pemegang saham tunggal tetap Pemprov Sumsel. Memang ada pergantian, karena dulu badan pengawas sekarang sistemnya komisaris,” ungkap Yohanes yang saat ini juga menjabat sebagai Asisten Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel.

Terkait target yang disampaikan Wagub, dirinya menekankan pada kerja keras dalam mengembangkan usaha sesuai dengan core business perusahaan. “Soal target, kami upayakan dengan cara kerja keras dalam bentuk pengembangan usaha. Itu yang sekarang akan dilakukan karena sudah berbentuk PT. Kami akan mencari kiat-kiatnya. Ini kan baru berbentuk PT dan melakukan RUPS untuk pertama kali. Ini masih jalan, jangan khayal dulu mesti ril dong. Ril itu tidak bisa hanya komisaris utama tapi mesti tim,” ujarnya.

Diketahui, PDPDE bertransformasi menjadi Perseroan Terbatas (PT) Sumsel Energi Gemilang (SEG). Untuk kali pertama perseroan daerah (Perseroda) itu mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di ruang rapat Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Senin (26/8).

Wagub Sumsel, Mawardi Yahya mengatakan dalam perubahan status tersebut tentu terjadi perubahan direksi perusahaan. Selain itu, dalam agenda RUPS juga dilakukan evaluasi kinerja dan target-terget ke depan. “Tentunya dengan perubahan perusahaan daerah itu menjadi persero mungkin akan ada perubahan di tubuh direksinya. Tentang evaluasi selama satu tahun ini. Oleh sebab itu, ada keinginan dari direksi untuk kenaikan gaji tetapi belum kami setujui. Kami akan melihat terlebih dulu rencana anggaran kerja mereka dan prospeknya ke depan. Nanti, kenaikan gaji itu akan seiring dengan pencapaian dari targetnya,” ungkapnya.

Dikatakan, selama ini PDPDE (PT SEG) dirasa belum maksimal dalam membantu daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Sumsel. Masih banyak peluang dan strategi yang harus diambil dan dilakukan oleh direksi yang baru dibentuk. “Kalau selama ini sumbangsih PDPDE (PT SEG) hanya lebih kurang Rp 7 miliar per tahun. Harapan kami ke depan bisa mencapai Rp 15 miliar per tahun. Terkait cara untuk mencapai targetnya, tergantung direksinya bagaimana kiatnya itu terserah, yang penting tercapai. kami akan lihat pada laporan akhir tahun nanti,” tegasnya.

Setelah berubah menjadi persero, Pemprov Sumsel sebagai pemegang saham tunggal tidak bisa lagi melakukan intevensi tanpa melalui mekanisme yang berlaku. “Harapan kami setelah menjadi persero, tentunya itu akan menjadi otonom dan bagaimana masa depan perusahaan itu, yang menentukan adalah direksinya. Pemerintah tidak bisa melakukan intervensi secara langsung, harus melalui RUPS baru bisa intervensinya. Tidak bisa lagi sewaktu-waktu (diintervensi),” jelasnya.(dfn)