- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Buka Pintu Ekonomi Warga OKI dan OKU Timur
# Tawarkan Tiga Alternatif Akses Exit Tol Mesuji
PALEMBANG, SIMBUR – Exit tol atau pintu keluar tol Mesuji di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan mulai dikerjakan pada 2020 mendatang. Hal tersebut dipastikan Kepala Balai Besar Pengelolaan Jalan nasional (BBPJN) Wilayah V, Kiagus Syaiful Anwar usai rapat dengan Bupati dan Wakil Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) di ruang rapat BBPJN, Senin (5/8).
Dikatakan Syaiful, rapat pembangunan exit tol dilakukan berdasarkan hasil rapat dari Menteri PUPR, Gubenur Sumsel, dan Bupati OKI beberapa waktu lalu. “Saat ini masih dibahas karena ada tiga alternatif (pintu tol) yang akan dilakukan feasibility study (FS) terlebih dahulu. Akan dilengkapi dahulu dukumen lingkungannya, Larap-nya, pembabasan lahan baru berbicara soal detail enginering design (DED). Jadi masih membahas itu, tetapi 2020 sudah dianggarkan dan harus dibuat fisiknya,” ungkapnya.
Ketiga alternatif tersebut yang pertama titik awal di Jl Mataram Jaya dan exit tolnya di jalan nasional melewati Lubuk Makmur dengan panjang jalan 21 kilometer. Kedua, awalnya di Surya Adi dan exit tolnya di Suka Mukti dengan panjang jalan 17 kilometer. Ketiga, titik awalnya di Mataram Jaya dan exit tolnya di Bumiarjo.
“Jadi ketiga alternatif tersebut di jalan nasional semua. Alternatifnya masih tiga dan kami akan buat FS-nya terlebih dulu, tapi Kementerian PUPR akan fisikalnya. Lelangnya harus 2020. Kami akan melelang fisiknya pada November 2020. Tetapi menunggu kesiapan pemerintah provinsi untuk soal DED, dokumen amdalnya, lahannya, dan lain-lain,” ujarnya.
Soal kendala, menurut Syaiful terletak pada kesiapan lahan untuk jalan. Karena, dibutuhkan lahan yang lebar agar sesuai dengan standar yang ditetapkan. “ Exit tol itukan sudah harus dibuat karena sudah direncanakan. Jadi baru sebatas FS, tetapi sudah mau dibuat. Nah ada tiga alternatif pilihan. Lebar jalan kan ada standarnya lebar bahu 72 (meter). Di Kabupaten (OKI) ada tidak lahan seluas itu. Rata-rata (di sana) jalan kabupaten, pemukiman, ada jalan perkebunan,” jelasnya.
Dari ketiga alternatif itu hanya akan ada satu exit tol yang dibuat. Soal yang mana akan dikaji terlebih dulu terkait aspek sosial, ekonomi, maupun budayanya. “Lahan dari Pemprov. Jalan itu nanti statusnya akan dinaikkan jadi jalan provinsi,” tambah Syaiful.
Syaiful Anwar mengungkapkan pihaknya akan melakukan segera melakukan identifikasi lebih lanjut. Studi kelayakan (FS) dan Detail Engenering Desain (DED) atas Usulan tersebut, menurut dia, perlu segera disusun mengingat permintaan pembuatan exit tol itu mendapat atensi langsung dari Menteri PUPR. “Kami sudah diatensi oleh Pak Menteri langsung, artinya kita harus segera action di lapangan,” ujarnya.
Di tempat yang sama, Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), H Iskandar SE ingin potensi agro ekonomi di Mesuji dan Lempuing OKI serta kawasan agropolitan Belitang OKU Timur terhubung ke infrastruktur nasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Bupati Iskandar beralasan konektivitas antara infrastruktur dengan sentra lumbung pangan Sumatera Selatan ini penting untuk menjaga pasokan pangan serta mendukung ketahanan pangan nasional.
“Kami butuh exit tol yang bisa menyambung ke sentra pertanian maka sekarang sedang di-exercise agar ada konektivitas antara infrastruktur dengan sentra ekonomi rakyat seperti pertanian, perkebunan untuk menjaga pasokan dan distribusi,” kata Iskandar saat memaparkan penambahan exit tol trans Sumatera di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) V Palembang, Senin (5/8/19).
Bukan hanya untuk warga OKI, Iskandar juga ingin proyek strategis nasional (PSN) tersebut juga memberi dampak positif bagi kabupaten tetangga yang tidak dilalui langsung tol. “Kami ingin membukakan pintu ekonomi tidak hanya untuk warga OKI, bahkan untuk kabupaten tetangga yang tidak dilalui langsung oleh tol seperti OKU Timur bahkan OKU raya,” pungkasnya.
Tersambungnya infrastuktur strategis dengan sentra ekonomi rakyat ini tegas Iskandar sesuai dengan visi Presiden terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo (Jokowi) yang akan melanjutkan pembangunan infrastruktur agar terhubung ke industri pertanian, perikanan, dan perkebunan. “Kami hanya menindaklanjuti visi presiden untuk menyambungkan infrastruktur besar dengan kawasan persawahan, kawasan perkebunan, dan tambak-tambak perikanan,” katanya.
Untuk akses exit tol Trans Sumatera ruas PPKA sepanjang 77 km itu, Pemkab OKI mengusulkan tiga alternatif akses jalan. Jalur yang disiapkan antara lain, ruas Lubuk Seberuk-Mataram Jaya, lalu alternatif kedua di jalur Surya Adi-Suka Mukti, dan alternatif ke tiga pada ruas Bumi Arjo-Mataram Jaya. “Ada tiga alternatif yang kami usulkan semua membuka akses wilayah sentra pertanian ke tol PPKA,” ungkap Kepala Dinas PUPR Kabupaten OKI, Ir. Hafidz, MM.
Kepala Bidang Bappeda Sumsel, Amiruddin menginginkan agar jalur alternatif yang dipilih sebagai exit tol harus dapat mengakomodir kabupaten lain yang berdekatan. “Kami berharap pintu tol yang dibuat mampu juga berdampak untuk Kabupaten lain tidak hanya warga OKI. Namun tentunya hasil feasibility study (FS) nanti yang menentukan,” ungkapnya.(dfn)



