- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
“Preman” Pengawal Gubernur Tantang Wartawan Begoco
PALEMBANG, SIMBUR – Kabar tak sedap muncul dari lingkar pengawal pribadi (walpri) yang diduga dari kalangan preman dan selalu mendampingi Gubernur Sumatera Selatan, H Herman Deru. Sangat disayangkan, pengawal pribadi Herman Deru diduga masih mengedepankan aksi premanisme, khususnya terhadap wartawan. Oknum walpri tersebut dikabarkan menantang Raja Adil Siregar, wartawan media siber detik.com untuk begoco (berkelahi). Hal itu disampaikan Raja terkait konfliknya pada acara yang digelar PT Sampoerna di PTC mall, Sabtu (10/11).
Dikisahkan Raja, awalnya dia akan wawancara dengan Gubernur Herman Deru terkait UMKM di Sumsel. Karena kondisi yang sempit, akunya, Raja sempat minta izin dengan walpri berpakaian safari hitam lengkap namun bukan dari kepolisian.
“Karena jarak saya dengan Gubernur jauh dan tidak bisa bertanya, saya bilang mau izin untuk ke depan. Saat itu saya ingin bertanya terkait UMKM, tapi perut saya selalu dihalangi dan tidak bisa maju ke depan. Saat itu ada wartawan lain di depan dan masih ada jarak untuk saya maju sedikit,” ungkap Raja dalam broadcastnya kepada sesama awak media.
Saat wawancara hampir selesai, imbuhnya, Raja mengaku coba maju dan menanyakan ulang terkait UMKM. “Beberapa kali saya bertanya dengan gubernur namun tetap ditarik dari belakang saat wawancara,” ungkapnya kesal.
Raja pun mengingat perkataannya yang diduga menjadi penyulut emosi walpri. “Selesai wawancara saya sempat bilang. Izin saya wartawan. Saya dari media dan tahu kapasitas saya Mas. Saya bisa jaga jarak kok, nggak mungkinlah saya dorong-dorong,” ungkap Raja yang diduga membuat walpri naik pitam.
Saat kalimat itu diucapkan, terang Raja, walpri menanyakan kenapa dia bicara begitu. Padahal menurut Raja, kalimat itu menjawab pernyataannya supaya tidak terlalu dekat dengan gubernur. “Entah apa yang terjadi, tiba-tiba seorang walpri menarik saya dan mendorong ke belakang,” akunya.
Raja mengaku walpri berseragam safari lengkap datang beberapa orang dan menyorongnya keluar dari kerumunan. “Untungnya saya saat itu tidak jatuh,” helanya menarik napas panjang.
Masih kata Raja, saat akan mundur ke belakang, lagi-lagi walpri datang dan menyorong sambil melontarkan kalimat. “Memangnya kenapa kau ha?” aku Raja menirukan perkataan walpri sambil mendorongnya ke belakang.
“Saat itu suasana semakin panas. Setelah didorong saya masih berusaha menjelaskan. Tiba-tiba teman-teman media lain datang. Saya sempat ditarik ke belakang. Tapi tetap saja beberapa walpri mengejar saya dan mengajak berkelahi,” imbuhnya sembari mengatakan, dirinya dipisah oleh Alfrenzi Panggarbesi, biasa disapa Ojik, staf khusus Gubernur Sumsel Bidang Media.
Ojik meminta Raja pergi dan menjauh dari acara saat itu. “Tidak ada pembicaraan lebih lanjut saya dan walpri setelah insiden ini. Menurut saya, walpri bersafari lengkap itu terlalu berlebihan dalam pengamanan. Mereka seolah menghalangi wartawan untuk wawancara. Padahal gubernur saat itu masih bersedia untuk diwawancarai terkait UMKM,” terangnya.
Hari ini, ungkap Raja, mungkin dirinya yang merasakan. “Saya tidak tahu apakah teman-teman media lain pernah merasakan hal yang sama. Intinya, saya kecewa dengan tim walpri yang pengamanannya terlalu berlebihan itu. Menurut saya sudah di luar kewajaran,” kritiknya.
Ketua Bidang Advokasi/Pembelaan Wartawan PWI Pusat, H Ocktap Riady menyesalkan terjadinya ‘keributan’ preman pengawal pribadi Gubernur Sumsel dengan wartawan detik.com yang sedang melakukan tugas peliputan. “Kami meminta walpri menahan diri, tidak perlu menantang wartawan berkelahi. Menghalangi tugas wartawan tidak dibenarkan karena melanggar UU Pers No 40/1999,” tegasnya.
Dijelaskan Ketua PWI Sumsel dua periode itu, wartawan tidak dilengkapi ilmu bela diri, sementara walpri pasti dilengkapi ilmu bela diri dan mungkin senjata. “Pasti kalah wartawan. Bertindak arif dan bijaksanalah. Gubernur harus memberikan peringatan dan teguran kepada walpri yang bertindak arogan. Kalau perlu minta maaf atas insiden tersebut,” ungkapnya seraya menambahkan, wartawan bisa juga mengadukan hal ini ke polisi atau Dewan Pers dan organisasi pers tempat dia bergabung. (kbs/rel)



