- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Bawa Misi Perubahan Lebih Baik, PWI Sumsel Hadiri Kongres di Solo
PALEMBANG, SIMBUR – Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Selatan (PWI Sumsel) mengikuti Kongres XXIV PWI di kota Solo, Jawa Tengah. Pelaksanaan kongres yang digelar organisasi wartawan terbesar di Tanah Air itu berlangsung 27-30 September 2018.
“Misi kami ikut karena kongres merupakan pemilihan ketua umum PWI. Diharapkan dapat memilih ketua umum yang bagus, dekat dengan pengurus daerah, serta dapat membawa perubahan, meningkatkan citra dan memperbaiki PWI ke depan. Karena PWI di daerah masih dipandang sebelah mata,” ungkap Ketua PWI Sumsel, H Ocktap Riady SH, dikonfirmasi Rabu (26/9).
Wartawan senior yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumsel itu menambahkan, kongres PWI di Solo kali ini bukan sekadar kongres biasa. “Mengapa berlangsung di Solo karena latar belakang lahirnya pers Pancasila,” ungkapnya.
Harapan dari hasil kongres tersebut, lanjut Ocktap, dirinya mengimbau kepada rekan-rekan wartawan, khususnya di Sumsel agar dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Republik Indonesia melalui pemberitaan. “Kami harap pemberitaan kawan-kawan wartawan jangan sampai memecah belah persatuan,” tegasnya sembari mengingatkan pers tetap harus netral di tahun politik.
Diketahui, calon ketua umum PWI yang akan dipilih pada kongres kali ini, yakni Hendry Ch.Bangun (Kompas), Teguh Santosa (Kantor Berita Politik RMOL), Sasongko Tedjo (Suara Merdeka), Atal S Depari (sportanews.com), dan Ahmad Munir (Antara).
Ketua Panitia Pengarah Ilham Bintang mengatakan, masing-masing kandidat harus menandatangani pakta integritas. Diantaranya berjanji tidak terlibat dlm politik uang, guna memenangkan sebagai ketua umum. Setelah terpilih, tidak akan terlibat dan membawa-bawa PWI dalam politik praktis. Adapun, dalam proses pemilihan Ketua Umum PWI, jika tidak bisa musyawarah dan mufakat, disepakati lewat pemilihan suara, yang harus dilakukan dengan sepenuhnya mengacu pada PD/PRT dan kaidah Kode Etik Jurnalistik.
Yang perlu dicatat, ketua umum yang dipilih tahun ini diharapkan dapat melanjutkan estafet kepengurusan PWI selama 72 tahun sejak berdiri pada 1946. Adapun ketua PWI yang pertama kali dijabat Soemanang (1946 – 1947, 1949 – 1950), dilanjutkan Usmar Ismail (Februari – November 1947), Djawoto (1950 – 1951, 1951 – 1952, 1961 – 1963), T. Sjahril (1953 – 1955, 1955 – 1959, 1959 – 1961), dan Abdul Karim Daeng Patombong — A. Karim D.P. (1963 – 1965).
Kemudian tongkat komando PWI dipegang Mahbub Djunaidi (1965 – 1968 – 1970), diteruskan B.M. Diah / Rosihan Anwar (1970 – 1973), Harmoko (1973 – 1978, 1978 – 1983), Atang Ruswita ( Maret 1983 – November 1983), serta Zoelharmans (1983 – 1988). Ketua berikutnya M. Soegeng Widjaja (1988 – 2003), Sofyan Lubis (1993 – 1998), Tarman Azzam (1998 – 2003, 2003 – 2008), serta Margiono yang menjabat dua periode (2008 – 2013, 2013 – 2018).
Kongres kali ini diikuti sekitar 150 orang peserta dan peninjau. Selain para pengurus Harian PWI Pusat, PWI Provinsi dan se-Indonesia, plus PWI Surakarta sebagi peserta serta unsur-unsur PWI lainnya sebagai peserta. Ada pula peninjau dari unsur PWI maupun luar PWI. Antara lain Dewan Pers, Serikat Penerbit Surat Kabar, organisasi perusahaan periklanan, radio, televisi, aliansi jurnalis, dan organisasi pers nasional negeri tetangga (Malaysia). (red)



