- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Butuh Tim Peneliti Tambahan
KAYUAGUNG, SIMBUR – Pembongkaran salah satu gedung di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kayuagung untuk dilakukan renovasi mendapatkan perhatian khusus dari beberapa pihak. Pasalnya, bangunan ini disebut-sebut merupakan salah satu agar budaya di OKI dan merupakan salah satu peninggalan Belanda.
Terkait pembongkaran ini, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten OKI, Dedi Rusdianto menepis bahwa bangunan yang berada di depan tersebut bukanlah cagar budaya. Bahkan, menurutnya, baik pihaknya telah berkoordinasi dengan pemangku adat di OKI.
“Kami juga sudah mempertanyakan hal ini kepada pihak pemangku adat, H Amin Jalalen. Kami juga sudah koordinasi sama Saiful Ardan selaku komite,” ungkapnya, Rabu (1/8).
Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan OKI, Nila Maryati SPd MM mengungkapkan, pihaknya belum sempat melakukan pendataan terhadap bangunan tersebut. Pasalnya, bangunan tersebut merupakan sekolah dan milik pemerintah.
Menurutnya, untuk mendata dan meneliti semua bangunan yang bernilai sejarah di OKI masih membutuhkan SDM tambahan. Oleh karena itu, dirinya mengharapkan agar ke depan ada tambahan untuk tim peneliti ini.
Nila menuturkan, hingga saat ini baru terdapat 26 bangunan yang diverifikasi dan diajukan untuk menjadi bangunan cagar budaya di OKI.
Selama ini, pihaknya tengah melakukan penelitian rumah-rumah tua di beberapa kecamatan yang dinilai mengandung unsur budaya milik perorangan. “Kami memilih rumah milik perorangan agar bangunannya tidak dirubah pemiliknya,” ungkapnya.
Tahun 2018 ini, lanjutnya, ada 10 bangunan yang didata untuk ferivikasi bersama tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi. “Rencananya penelitian akan terus dilakukan karena banyak sekali bangunan bernilai sejarah di OKI yang harus dilestarikan,” tandasnya. (yrl)



