Terinspirasi dari Internet, Jualan dari Mulut ke Mulut

INDERALAYA, SIMBURNEWS – Aktivitas berselancar internet ataupun yang juga dikenal dengan istilah browsing tak selamanya berdampak buruk. Jika dilakukan dengan benar, justru hal ini akan memberikan banyak manfaat untuk seseorang seperti halnya mencari hal-hal yang positif dan inspiratif.

Hal ini pula yang membuat Ahmad Adha Khomeini terinspirasi dalam menciptakan kerajinan tangan dari barang-barang bekas. Dirinya menyulap batok-batok kelapa dan kayu-kayu yang sudah tidak terpakai lagi menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai jual.

Batok kelapa dan kayu bekas ini dibuatnya menjadi benda-benda yang unik seperti tabungan, asbak, jam, miniatur motor, miniatur kapal hingga miniatur pesawat dan beberapa bentuk kerajinan lainnya yang bisa dibuat sesuai pesanan konsumen.

“Buat ini (kerajinan) sudah lama, dari kelas X SMA. Awalnya sama temen-temen tapi sekarang sudah sibuk masing-masing jadi jarang buat bersama lagi. Bisa muncul ide ini dari internet, bagaimana orang-orang memanfaatkan barang-barang bekas dan lainnya itu,” ungkap mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Sriwijaya (Unsri) semester lima ini.

Pria yang akrab disapa Omen ini menjelaskan, karena jarang bertemu dengan teman-teman lamanya, dirinya melanjutkan produksi kerajinan ini dengan ‘pakde’-nya. “Jadi jualnya juga di toko milik pakde, Deket kampus Unsri Palembang Fakultas Pertanian,” ungkapnya.

Mengenai harga, Omen menjelaskan tergantung kerumitan dalam membuat. “Kalau harga kisaran antara Rp50 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung kerumitan pembuatannya. Paling simpel ya buat celengan (tabungan), kalau yang sulit itu biasanya kapal-kapalan karena banyak bagian yang harus dibuat secara detil. Kadang ada anak-anak sekolah yang minta bantuan buat untuk prakarya, tapi tidak semuanya kita yang buat,” jelasnya.

Hasilnya, tambah dia, lumayan. “Pokoknya ada,” ungkapnya yang malu-malu mengatakan omset hasil penjualan prakaryanya ini.

Meskipun pembuatan kerajinan ataupun prakarya ini diakuinya terinspirasi dari internet, Omen mengatakan dirinya tidak memasarkan produknya di internet. “Dak kak, ini kita jual di toko pakde saja tidak di Facebook atau media sosial lainnya. Karena trauma, dulu sempat juga jualan di Facebook, tapi ada yang mengancam jadi dari pada jadi masalah mending jual di toko saja. Dipasarkan dari mulut ke mulut. Alhamdulillah yang beli yang pesan juga masih ada,” pungkasnya. (yrl)