- Sebarkan "Virus" Perdamaian dan Riding Skuter di Palembang, Slank Bakal Rilis Album Terbaru pada 5 Juni 2026
- Buronan Kasus Pelecehan Seksual Ditangkap di Rumah Tetangga
- Olahraga Bersama Insan Media, Kodam II/Sriwijaya Turut Menjaga Ketahanan Informasi Nasional
- Pangdam II/Swj Ambil Sumpah 1.583 Tamtama Remaja, Kasad: Perkuat Batalyon Teritorial Pembangunan
- Tinjau Koperasi Merah Putih di Lahat, Apresiasi Pembangunan dan Dorong Ekonomi Lokal
Gubernur Dukung Tanjung Tapa Jadi Pelabuhan Internasional
PALEMBANG, SIMBURNEWS – Rencana Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) untuk membangun pelabuhan internasional di Air Sugihan tampaknya mendapat respons positif dari Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Alex Noerdin. Apalagi, rencana tersebut dapat menunjang tol laut yang menjadi program prioritas Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo untuk mengembangkan sektor kemaritiman.
Respons positif tersebut disampaikan Alex usai menghadiri rapat terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api Api (TAA) dan Tanjung Carat di Griya Agung, Senin (16/10). Gubernur memberi dukungan terhadap potensi pelabuhan internasional tersebut. Alex menganggap semua perlu untuk diintegrasikan. “Iya dong. Jadi itukan ada untuk pengumpan (Tanjung Tapa). Pengumpannya dulu untuk ke sana,” pungkasnya optimis.
Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten OKI siap mendukung program tol laut Presiden Joko Widodo (Jokowi). Itu karena kabupaten ini memiliki potensi di bidang kemaritiman. Tanjung Tapa, di wilayah Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) berpotensi menjadi pelabuhan laut internasional.
Bupati Ogan Komering Ilir H Iskandar SE mengatakan, Tanjung Tapa sangat layak untuk pelabuhan laut dalam (deep sea port). Dikatakannya, potensi Tanjung Tapa sebagai pelabuhan internasional sangat memungkinkan untuk mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api (TAA). “Studi kelayakan (FS) sudah dibuatkan. Dalam waktu dekat investor akan paparan dengan Gubernur dan Bupati,” ungkapnya kepada Simbur.
Dikatakannya, OKI dianugerahi wilayah yang luas terdiri dari dari daratan dan perairan serta garis pantai terpanjang di Sumsel. Dalam dinamika itu, laut akan semakin penting stategis bagi masa depan. Diketahui, OKI berada tepat di tengah-tengah proses perubahan strategis itu, baik secara geografis, maupun geo-ekonomi. OKI memiliki garis pantai sepanjang 295,14 km di pesisir timur. Posisi geostrategis dan keuntungan goegrafis itu membuka peluang bagi Ogan Komering Ilir untuk dipilih sebagai salah satu titik program tol laut Presiden Jokowi untuk membangun kerja sama regional dan internasional bagi kemakmuran rakyat.
Mewujudkan pelabuhan samudera internasional di Tanjung Tapa ini ada tiga agenda utama yang harus dilakukan. “Pertama, melalui diplomasi maritim, kami akan mengajak semua mitra untuk bekerja sama di bidang kelautan. Memberi keyakinan kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi serta stakeholder lainnya yang membidangi kelautan,” ungkapnya.
Kedua, mengundang dan meyakinkan investor bahwa investasi pembangunan pelabuhan samudera di Tanjung Tapa sangat memungkinkan dan menguntungkan. Ketiga, memastikan kepastian hukum dan kepastian investasi pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, seperti pelabuhan laut dalam, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata maritim.
Sebelumnya, Wakil Direktur PT OKI Pulp and Paper, Gadang H Hartawan mengatakan, survei yang dilakukan pihaknya sejak 2013 itu menyebutkan wilayah Tanjung Tapa yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka memiliki kedalaman air (bathymetric) lebih dari 16,50 meter. Selain itu, Tanjung Tapa memiliki luas lebih dari 2.000 meter dihitung dari garis pantai tanjung tapa hingga ke Selat Bangka.
Berdasarkan laporan tim survei, Asosiasi Navigasi Internasional (PIANC) merekomendasikan bahwa setiap alur setidaknya harus tiga kali lebar dari kapal terluas yang menggunakan alur tersebut. Untuk lalu lintas kapal yang berpapasan satu sama lain serta memiliki kedalaman minimal 16 meter pada sudut terendah atau ketika pasang surut dan kapal dengan dalam keadaan bermuatan penuh.
Selain persyaratan pelabuhan laut tersebut, pencatatan gelombang dan arus angin juga dilakukan selama periode survei tersebut. Lokasi Tanjung Tapa dianggap terlindung dari pengaruh perubahan gelombang laut yang meningkat meski memiliki paparan angin dari timur selatan. Lokasi ini juga mempunyai catatan risiko yang rendah terhadap bencana alami seperti intensitas gema, badai tropikal dan gelombang pasang.
Selanjutnya, Pelabuhan Tanjung Tapa interline dengan sejumlah daerah, kondisi jenuh di Selat Malaka juga diprediksi akan memberikan keuntungan jika di tanjung tapa dibangun pelabuhan. Sebab ribuan kapal melintasi Selat Malaka setiap harinya, dengan kejenuhan dan penambahan waktu layar, tentu jalur pantai timur akan semakin dilirik Kabupaten OKI bersama pemprov akan mengusulkan peningkatan fungsi pelabuhan tersebut kepada Menteri Perhubungan dan Menteri Kelautan dan Perikanan. (mrf)



