Dana Revitalisasi Miliaran, Bukit Siguntang Kurang Diminati

PALEMBANG, SIMBURNEWS – Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sudirman Teguh mengatakan bahwa keberadaan Bukit Siguntang saat ini masih kurang diminati masyarakat. Jangankan masyarakat dunia, warga Palembang pun kurang mengapresiasi. Dengan begitu, dana revitalisasi Bukit Siguntang dari APBN sekitar Rp15 miliar dan APBD sebesar Rp1,2 miliar yang digelontorkan melalui Disbudpar Provinsi Sumsel diduga menguap begitu saja.

“Pembangunan fisik Bukit Siguntang sudah mewakili sejarah dan kebudayaan. Tetapi, sosialisasi kepada masyarakat yang kurang. Padahal, Bukit Siguntang merupakan salah satu cikal bakal sejarah kota Palembang. Hanya saja, karena sosialisasi masih kurang, hal tersebut yang membuat kita lemah,” ujarnya kepada Simbur di Kampung Tzu Chi, Sabtu (10/6).

Apalagi, saat ini pembangunan di Palembang sedang dikebut yang pasti akan memunculkan sedikit benturan-benturan kebudayaan. “Sekarang ini kebudayaan sedang digalakkan pelestariannya, sementara sudah banyak terjadi ekspansi budaya-budaya luar yang sebetulnya tidak sesuai dengan kebudayan asli Palembang,” ungkapnya.

Dijelaskan, bahwa sekarang sudah ada Undang Undang (UU) kebudayaan yang baru, dimana kebudayaan merupakan salah satu tiang penyangga masyarakat Indonesia. “Pusat-pusat kebudayaan di daerah khususnya Palembang akan selalu kami tumbuhkan baik kesenian, cagar budaya dan segala macam baik itu benda dan tak benda. Hal tersebut dikembangkan berdasarkan lokalitas atau muatan lokal masing-masing daerah,” jelasnya.

Jika hal tersebut sudah terjamin, Sudirman optimis setiap daerah akan punya kebudayaan spesifik. “Kami sudah mencanangkan sebuah tagline ‘Plembang Nian’. Seperti yang diketahui, Palembang kaya akan kebudayaan termasuk kesenian. Hal itulah yang akan kita pelihara, lestarikan, pertahankan dan dikembangkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat budaya Sumsel, Saudi berlian mengatakan jika Bukit Siguntang masih efektif sebagai pusat kebudayaan di Sumsel. “Intinya adalah perjuangan. Diperjuangkan, tetap dijaga dan dijadikan seseuatu yang sentral untuk sejarah,” pungkasnya.

Hanya saja, jika dibandingkan antusiasme wisatawan luar dengan masyarakat Sumsel sendiri masih rendah sekali. Pasalnya, orang luar negeri datang ke Bukit Siguntang, sementara masyarakat lokal hanya menganggap karena di tempat itu ada sejarah sehingga dirawat walaupun tidak sesuai dengan tingkat kualitas sejarahnya.

Selain itu, sebenarnya bukan hanya Bukit Siguntang saja yang dimiliki Palembang. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau sebelumnya dikenal dengan nama Situs Karanganyar adalah taman purbakala bekas kawasan permukiman dan taman yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang terletak tepi utara Sungai Musi. Hanya saja sampai sekarang tidak pernah lagi terdengar bahkan hampir tidak dikenal lagi.

Menanggapi masifnya pembangunan di Palembang, Saudi berpendapat bahwa pembangunan juga sangat berpengaruh terhadap kearifan lokal. Dan, jika kearifan tersebut tidak dijaga, maka dampaknya adalah masyarakat akan kehilangan identitas.

“Contoh kecil hal yang belum bisa dilakukan oleh pemerintah yaitu keberadaan Benteng Kuto Besak (BKB). Seharusnya pemerintah bisa menyiapkan tempat Kesatuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai kompensasi markas mereka. Sehingga BKB dijadikan satu situs sejarah dan kebudayaan yang bebas diakses oleh masyarakat,” ungkapnya.

“Ini adalah soal konsep. Sebab jika tidak punya maka hanya bersifat adang-adang (kadang-kadang). Intinya adalah wawasan yang menghasilkan program. Program tersebut akan ditunjang oleh fisik atau infrastruktur yang mendukung kebudayaan,” tutupnya. (mrf)