- Hadapi Dampak Krisis Global dengan Indonesia Bicara Baik
- Jon Heri Kembali Pimpin SMSI Sumsel
- Sebelas Detik Mengubah Makna: Ketika Algoritma Mengalahkan Fakta
- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
Hadapi Dampak Krisis Global dengan Indonesia Bicara Baik
Ketiga, Cloud dan Otomasi meliputi proses digital mengubah cara kerja tim kehumasan. Terakhir, media sosial sebagai platform digital sebagai arena utama komunikasi publik. “Artificial intelligence itu kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan itu koding yang menyerupai perilaku otak atau cara kerja otak,” ungkap Iqbal.
Iqbal menambahkan, informasi menyebar dalam hitungan detik. Humas dituntut responsif tanpa kehilangan akurasi. Dikatakannya, waktu rata-rata artikel berita viral tersebar ke 1 juta orang sekitar 6 detik. Sekitar 78 persen konsumen mengharapkan respons media sosial dalam 1 jam. “Kecepatan penyebaran hoaks dibanding berita terverifikasi tiga kali lebih cepat,” ujarnya.
Masih kata Iqbal, ada enam tantangan yang dihadapi humas era digital. Kecepatan informasi, tuntutan respons real-time dan manajemen krisis digital yang cepat. Hoaks dan disinformasi, dihadapi dengan memerangi berita palsu yang menyebar lebih cepat dari fakta. “Transparansi publik, mencakup tuntutan keterbukaan informasi di era media sosial,” ujarnya.
Selanjutnya, teknologi AI yang beradaptasi terhadap otomasi dan penggunaan AI dalam komunikasi. Privasi dan keamanan data, perlindungan data publik dan kepatuhan regulasi digital. “Terakhir, fragmentasi media dengan mengelola pesan di ratusan platform dan saluran digital,” ungkapnya.
Selain memberikan workshop, Iqbal Permana juga melakukan softlaunching bukunya berjudul Revolusi Industri 4.0 Pedang atau Boomerang. Dia juga menjadi pemandu diskusi bersama 4 BPC Perhumas yang bakal terbentuk (Palembang, Bengkulu, Jambi, dan Pangkalpinang).
Diketahui, Perhumas adalah organisasi profesi para praktisi humas dan komunikasi Indonesia yang didirikan pada 15 Desember 1972. Perhumas secara resmi telah tercatat di Depdagri sebagai organisasi nasional kehumasan di Indonesia dan pada International Public Relation Association IPRA yang berkedudukan di London, Inggris. Saat ini Perhumas tergabung dalam Global Alliance for Public Relations and Communication Management. Sementara, BPC Perhumas Palembang sendiri kembali aktif sejak 2019. Menghimpun akademisi dan praktisi humas dan komunikasi di Sumatera Selatan.(red)



