- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Jumlah Pengangguran Menurun, Lapangan Kerja Pengangkutan dan Pergudangan Meningkat
PALEMBANG, SIMBUR – Jumlah pengangguran di Provinsi Sumatera Selatan dikabarkan telah mengalami penurunan. Data tersebut dirilis Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumsel dan Badan Pusat Statistik (SPS) Sumsel.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumsel Regina Ariyanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Sumsel dapat mendorong penciptaan lapangan kerja. Hal itu berdampak pada penurunan tingkat pengangguran terbuka. Tercatat pada Agustus 2023, penduduk yang bekerja sebanyak 4,40 juta orang, meningkat sebanyak 109,96 ribu orang dari Agustus 2022. “Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan terbesar adalah Sektor Pengangkutan dan Pergudangan (63,28 ribu orang),” imbuhnya.
Untuk tingkat pengangguran terbuka di Sumsel pada Agustus 2023 mengalami penurunan menjadi sebesar 4,11%, dari sebelumnya 4,63% pada Agustus 2022 atau turun sebanyak 19.750 orang.
“Beberapa upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumsel sesuai Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2023 antara lain, optimalisasi belanja pemerintah baik yang bersumber dari APBN maupun APBD,” jelasnya.
Dikatakannya, perekonomian Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tumbuh stabil sebesar 5,08 persen pada Triwulan III Tahun 2023 (year-on year/yoy). Capaian tersebut jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hannya 4,94 persen pada kuartal yang sama. Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera. Bahkan jauh menggungguli Provinsi Sumatera Utara yang pertumbuhan ekonominya 4,94 persen dan Kepulauan Riau sebesar 4,88 persen.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (SPS) Sumsel Moh Wahyu Yulianto menjelaskan, pada kuartal III Tahun 2023 di Sumsel tercatat mencapai 5,08% (year-on year/YoY) sementara pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,94%. Pertumbuhan ekonomi Sumsel pada kuartal III Tahun 2023 meningkat jika dibandingkan kuartal II Tahun 2023 sebesar 2,39%.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Sumsel turun 0,52% pada Agustus 2023 atau berada pada 4,11 persen jika dibandingkan pada Agustus 2022 sebesar 4,63 persen. Kemudian perbaikan kondisi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III Tahun 2023.
“TPAK adalah persentase banyaknya angkatan kerja terhadap banyaknya penduduk usia kerja. TPAK mengindikasikan besarnya persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara/wilayah,” kata Wahyu.
Diketahui, perekonomian Provinsi Sumsel masih didominasi sejumlah sektor. Di antaranya sektor lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 27,93 persen diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 17,34 persen dan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 13,65 persen.
Ketiga lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Sumsel mencapai 58,92 persen. Pada triwulan III tahun 2023 sektor lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 12,93 persen, pertambangan dan penggalian sebesar 10,23 persen, dan perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 6,25 persen.
Perhitungan ekonomi Sumsel dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,92 persen hal ini disebabkan oleh meningkatnya pengeluaran konsumsi per kapita sebesar 20,10 persen. Sedangkan pengeluaran dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mengalami pertumbuhan sebesar 2,12 persen, diikuti komponen pengeluaran konsumsi-pemerintah sebesar 1,07 persen.
Neraca perdagangan Sumatera Selatan pada Triwulan III tahun 2023 mengalami surplus sebesar US$1,19 Miliar atau tumbuh sebesar 41,43 persen (yoy) yang didukung oleh beberapa komoditas unggulan ekspor Sumatera Selatan. Di antaranya, yaitu bahan bakar mineral sebesar 597,63 (juta US$), bubur kayu (pulp) sebesar 281,59 (juta US$), karet dan barang dari karet sebesar 241,99 (juta US$) serta minyak dan gas sebesar 136,07 (US$).
Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani di Sumsel semakin membaik. Berdasarkan perkembangan nilai tukar petani di Sumatera Selatan pada Oktober 2023 sebesar 108,05 mengalami kenaikan sebesar 1,96% dibandingkan September 2023 yang sebesar 105,97. Peningkatan terjadi pada subsektor tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat. Produksi padi pada Januari-September 2023 sebesar 2.521.920 ton-GKG atau naik 1,93%, produksi karet untuk SIR 10 dan SIR 20 naik sebesar 0,87 persen (yoy), dan produksi CPO dan palm kernel naik sebesar 227,40 persen (yoy).
Sedangkan upaya lainnya Pemprov Sumsel mendorong pemerataan infrastruktur yang merata dan percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti Jalan Tol Palembang-Betung Jambi, Daerah Irigasi Lematang, Daerah Irigasi Lempuing, Bendungan Tiga Dihaji, Pelabuhan Palembang Baru di Tanjung Carat. Optimalisasi produktivitas sektor pertanian dan perkebunan. Mendorong peningkatan investasi, Hilirisasi Sumber Daya Alam dan pengembangan UMKM agar naik kelas.
Neraca perdagangan Sumsel surplus US$ 1,19 miliar pada kuartal III Tahun 2023 atau konstruksi sebesar 41,43% (YoY). Beberapa komoditas unggulan ekspor provinsi Sumsel, yaitu bahan bakar mineral, bubur kayu (pulp), karet, minyak dan gas.
Terdapat sejumlah catatan yang menjadi faktor perekonomian di Sumsel tumbuh dengan stabil. Di antaranya produksi padi secara YoY naik sebesar 11,03% dan secara q-to-q juga naik 13,53%. Kemudian, untuk produksi karet dengan karakteristik SIR 10 dan SIR 20 secara YoY naik sebesar 0,87%. Realisasi pengadaan semen secara YoY naik sebesar 3,80%. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita secara YoY naik sebesar 20,10%. Juga realisasi belanja modal pemerintah secara YoY naik sebesar 99,67%, dan secara q-to-q naik sebesar 50,83%.
Sejumlah sektor memberikan kontribusi yang cukup tinggi bagi pertumbuhan ekonomi. Di antaranya, sektor pertambangan 10,23%, sektor transportasi sebesar 5,88% dan sektor akomodasi dan makanan mencapai 12,93%. Pertambangan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,33%.(kbs/red)



