- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Kurangi Dampak Kabut Asap akibat Karhutla Sumsel, Operasi TMC Dilanjutkan karena Musim Kering Cukup Panjang
PALEMBANG, SIMBUR – Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) kembali dilanjutkan. Mengingat musim kering cukup panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih tebal. Hal itu disampaikan Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang (Danlanud SMH) Palembang Kolonel Pnb Sigit Gatot Prasetyo MMOAS.
Menurut Sigit, Lanud SMH Palembang sebagai posko operasi TMC di wilayah Sumsel telah menerima konfirmasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Untuk kegiatan TMC berakhir hari ini (Jumat, 6/10). Kami sudah mendapat konfirmasi dari Kepala BNPB bahwa akan dilanjutkan hingga tanggal 12 Oktober. Ini kabar baik bagi seluruh masyarakat Sumsel,” ungkap Sigit kepada pers di sela pagelaran wayang kulit dalam rangka HUT ke-78 di halaman gedung Bima Sakti Lanud SMH Palembang, Jumat (6/10) malam.
Pihaknya, lanjut dia, sangat berharap peran serta masyarakat. Agar tidak membakar lahan sembarangan selama musim kering. “Kami mohon bantuan dan pengertian dari masyarakat, pertama tidak membakar lahan secara asal karena musim kering cukup panjang. Kami sosialisasikan di mana saja anggota TNI bertugas bersama Polri, pemerintah provinsi dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Sigit menambahkan, operasi TMC menjadi bukti kehadiran negara di tengah masyarakat yang terdampak kabut asap akibat karhutla, khususnya di Sumsel. “TMC merupakan salah satu metode atau upaya yang dilakukan negara melalui Satgas Karhutla untuk mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran yang terjadi saat ini,” terangnya.
Dirinya berharap hujan segera turun. Dengan demikian kabut asap dapat berkurang. Selain upaya, dia mengimbau masyarakat untuk berdoa dan berikhtiar agar segera terlepas dari bencana. “Dengan adanya TMC ini kami berharap turun hujan lokal. Ini juga tergantung bibit awan yang mengandung hujan. Sebagai manusia kami juga berikhtiar untuk mengeliminir dampak kebakaran hutan yang terjadi,” tandasnya.
Sebelumnya, Danlanud mengatakan fokus titik peninjauan akan dilakukan di Daerah Jungkal yang terdapat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). “Fokus patroli ini kami lakukan di daerah Jungkal, di OKI lebih kurang delapan belas menit penerbangan dengan jarak tempuh kurang lebih 90 kilometer,” kata Sigit.
Sementara, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis telah merilis peringatan dini kekeringan meteorologis. Berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) dan prediksi probabilistik curah hujan dasarian (10 harian) hingga dua dasarian ke depan, lanjut Dayan, sapaan Wandayantolis, terdapat indikasi potensi kekeringan meteorologis pada beberapa kecamatan di wilayah Kota / Kabupaten.
Kota Palembang terdiri dari Gandus (40 hari tanpa hujan), Seberang Ulu I (34 hari tanpa hujan), Sematang Borang (23 hari tanpa hujan). Banyuasin meliputi Rambutan (22 hari tanpa hujan), Sembawa (33 hari tanpa hujan). Kemudian, Ogan Ilir mencakup Indralaya (36 hari tanpa hujan), Indralaya Utara (39 hari tanpa hujan), Muara Kuang (36 hari tanpa hujan), Tanjung Batu (35 hari tanpa hujan), Sungai Pinang (36 hari tanpa hujan).
Selanjutnya, OKI terdiri dari Jejawi (35 hari tanpa hujan), Pampangan (38 hari tanpa hujan), Pangkalan Lampam (36 hari tanpa hujan), Tulung Selapan (32 hari tanpa hujan). OKU meliputi Lubuk Batang (35 hari tanpa hujan). OKU Timur: Belitang (35 hari tanpa hujan), Buay Madang (67 hari tanpa hujan). Terakhir OKU Selatan: Banding Agung (35 hari tanpa hujan).
“Kekeringan meteorologis biasanya diikuti antara lain, berkurangnya persediaan air untuk rumah tangga dan pertanian serta meningkatnya potensi kebakaran semak, hutan, lahan dan perumahan,” ungkap Wandayantolis belum lama ini.
Dirinya berharap semua pihak dapat meningkatkan kewaspadaan dan pertimbangan untuk melakukan langkah mitigasi dampak dari kekeringan meteorologis.
Tinjau Karhutla dari Udara
Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Agus Fatoni melakukan peninjauan langsung ke lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melalui pantauan udara dari helikopter. Peninjauan ini dilakukan di daerah Jungkal yang terdapat berlokasi di Ogan Komering Ilir, Kamis (5/10). Dalam peninjauan tersebut, Fatoni ditemani oleh Komandan Resort Militer (Danrem) 044/Gapo, Brigjen TNI M Naudi Nurdika dan Komandan Lanud Sri Muloyono Herlambang, Kolonel Pnb Sigit Gatot Prasetyo.
Fatoni mengatakan akan meninjau langsung titik-titik lokasi kebakaran yang lain. Nantinya, keseluruhan hasil peninjauan akan dijadikan bahan untuk mengambil kebijakan terkait penanganan Karhutla di Sumsel. “Saya bersama Danrem dan Danlanud telah meninjau beberapa lokasi kebakaran untuk bisa mengetahui kondisi kebakaran lahan dan hutan. Hasil ini akan dijdikan bahan bagi kami dalam megambil kebijakan,” kata Fatoni.
Geser Anggaran Pemda
Pj Gubernur mengungkapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel siap mengalokasikan anggaran untuk mendukung percepatan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Sumsel.
“Untuk penanganan agar tidak terjadi lagi Karhutla, banyak sekali yang dilakukan. Pertama sosialisasi, kedua penegakan hukum pemadaman api dan macam-macam, termasuk kita siapkan alokasi anggaran,” ujar Fatoni.
Terkait metode penanganan Karhutla, pihaknya tetap menggunakan cara atau langkah yang telah dilakukan selama ini. Namun, Fatoni menegaskan akan melakukan penambahan sejumlah teknologi. “Penambahan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga diusulkan penambahan termasuk water bombing. Kemudian juga akan melakukan penggeseran anggaran di Pemda,” tambah Fatoni.
Selain mengalokasikan anggaran, Fatoni juga meminta pihak swasta untuk ikut berkontribusi membantu percepatan penanganan Karhutla. Seperti menambah pembuatan embung, kanal dan lainnya. “Soal anggarannya, kita hitung dulu kemudian kita carikan sumbernya baik dari pemerintah daerah, kabupaten/kota maupun dari pihak swasta. Untuk pendanaan dapat dilakukan Pemda melalui pergeseran anggaran yang bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT),” jelas Fatoni.
Hal lain yang tak kalah penting dilakukan untuk mempercepat penanganan Karhutla di Sumsel adalah tetap melakukan sosialisasi secara masif, baik Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota hingga ke tingkat desa. “Perlu juga penegakan hukum dengan mengaktifkan Gakkumdu bersama Polri, Kejaksaan dan Gakkum KLHK,” ujar Fatoni.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK RI Sigit Reliantoro mengatakan terdapat 4 titik prioritas penanganan Karhutla, di antaranya PT Waringin Agro Jaya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kedua area Suaka Margasatwa Padang Sugihan, ketiga ruas jalan tol Palembang-Kayuagung, tol Indralaya-Prabumulih dan Jalan Lintas Timur Sumatera serta keempat area PT Banyu Kahuripan Indonesia Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin.
Senada dengan Fatoni dalam penanganan Karhutla, Panglima Kodam (Pangdam) II/ Sriwijaya Mayjen TNI Yanuar Adil mengungkapkan pihaknya siap menerjunkan sebanyak 3 satuan setingkat kompi (SSK) dengan total 350 personel. Menurutnya, El Nino diperkirakan dapat terjadi hingga November mendatang. Hal itu tentu butuh atensi khusus karena masih akan berlangsung satu bulan ke depan.(kbs/red)



