- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
- Hadapi Medan Sulit, Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Koala Dua Belas
- Lumbung Energi Jadi Beban Moral, Layanan Listrik di Sumsel Harus Lebih Baik
- Jalan Berlumpur Jadi Ajang Berfoto Warga Desa
- Banjir Rendam Bayung Lencir, Warga Terisolasi dan Butuh Bantuan
Indikasi Perubahan Iklim Terdeteksi di Sumsel, Ancaman Gagal Panen dan Penyebaran Penyakit
Dayan menambahkan, akibat perubahan iklim tentu akan berimbas pada sektor ekonomi dan kesehatan masyarakat. “Ini akan memengaruhi atau mengganggu pola tanam. Tentunya ancaman pada gagal panen akan meningkat yang berimbas pada pendapatan masyarakat. Kemudian peningkatan cuaca ekstrem meningkatkan potensi bencana yang dapat merusak berbagai struktur bangunan dan sendi ekonomi,” jelasnya.
Bagi kesehatan, perubahan iklim dapat mempercepat menyebarnya virus dan bibit penyakit di masyarakat. “Pada sisi kesehatan, tingginya curah hujan menyebabkan peningkatan kelembapan udara yang mendorong cepatnya penyebaran penyakit seperti malaria dll,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyebut fenomena hujan lebat dan cuaca ekstrem yang terjadi di sepanjang musim kemarau 2022 merupakan salah satu indikasi dampak perubahan iklim. “Situasi yang terjadi saat ini sesuai dengan hasil analisis BMKG yang dikeluarkan Maret 2022 lalu. Saat itu, BMKG menyampaikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mengalami keterlambatan datangnya awal musim kemarau. BMKG juga memprakirakan bahwa musim kemarau akan terjadi dengan sifat hujan di atas normal (kemarau basah) pada sebagian wilayah Indonesia, sekaligus menegaskan adanya penyimpangan iklim pada tahun 2022 ini,” ujar Dwikorita melalui keterangan yang diterima redaksi.



