Indonesia Berhasil Menurunkan Kebakaran Hutan

# Presiden Jokowi Buka Opening Ceremony of The 7th Session of The GPDRR

 

PALEMBANG, SIMBUR – Indonesia sering mengalami bencana kebakaran hutan. Kejadian tersebut menjadi ancaman bagi rakyat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Akan tetapi, saat ini Indonesia telah berhasil menurunkan angka kebakaran hutan. Hal itu diungkap Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) yang dilaksanakan di Bali, 23-28 Mei 2022.

Menurut Presiden, sepanjang 1997 hingga 1998 merupakan kebakaran terbesar yang telah dialami Indonesia. Peristiwa itu menghanguskan lebih dari 10 juta hektre lahan yang tersebar di Indonesia. “Pada 2021 Indonesia telah berhasil merestorasi lahan gambut seluas 3,4 juta hektare. Indonesia juga berhasil menurunkan kebakaran hutan dari 2,6 juta hektare. Hanya menjadi 358 hektare,” jelas Jokowi saat membuka Opening Ceremony of The 7th Session of The GPDR, di Bali dan langsung disiarkan secara virtual, Rabu (25/5).

Presiden menambahkan, Indonesia merupakan negara rawan bencana. Kata Jokowi, per 23 Mei 2022 telah terjadi 1.613 bencana di Indonesia. “Rata-rata dalam sebulan terjadi 500 kali gempa dengan skala kecil maupun skala besar. Gempa besar dan disertai tsunami terakhir kali terjadi di Palu pada tahun 2018. Sebanyak 2.113 orang meninggal,” ungkap Jokowi.

Bukan hanya itu, lanjut Jokowi, Indonesia juga memiliki 139 gunung berapi aktif. Letusan gunung berapi juga mengancam masyarakat Indonesia sepanjang 2015 hingga 2021. “Sebanyak 121 letusan gunung berapi di Indonesia,” terangnya.

Dikatakan Presiden, investasi dalam kesiapsiagaan dan pengurangan bencana sangat penting dilakukan. “Itulah mengapa pentingnya untuk berinvestasi dalam kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko. GPDRR memiliki peran penting untuk pengurangan remisiko bencana (PRB),” imbuhnya.

Diketahui, GPDRR yang ke-7 ini merupakan strategi Indonesia. Karena baru pertama kalinya di Asia dan Indonesia menjadi tuan rumahnya. Opening Ceremony of The 7th Session of The GPDRR ini dihadiri oleh beberapa para petinggi dari dalam negeri maupun luar negeri, Di antaranya Megawati Soekarnoputri (Presiden kelima Indonesia), Armina Jane Mohammed (Deputi Sekretaris Jenderal PBB), Abdulla Shahid (Presiden Majelis Umum PBB).

Presiden memukul kulkul, alat komunikasi tradisional masyarakat Bali. Ini menandai pembukaan secara resmi Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7 yang berlangsung pada 23 – 28 Mei 2022.

Kulkul merupakan alat komunikasi dalam organisasi masyarakat tradisional, seperti banjar dan subak. Alat yang terbuat dari kayu ini biasanya ditempatkan pada bangunan bale kulkul. Bangunan ini berada di balai banjar atau pura.

Menurut Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati, kulkul memiliki makna erat dengan isu GPDRR, yaitu pengurangan risiko bencana. “Dengan memukul kulkul, bunyi yang dihasilkan merupakan peringatan dini kepada masyarakat,” ujar Raditya.

Peringatan dini sangat erat berkaitan dengan pengurangan risiko bencana. Menurut Raditya, kulkul telah menjadi bagian dari masyarakat Bali. Ia berharap kulkul tetap hidup di dalam masyarakat dan menjadi bagian dari sistem peringatan dini bencana.

Ia juga mengatakan ini merupakan bentuk kearifan lokal dari Indonesia sebagai praktik baik dalam pengurangan risiko bencana. “Kearifan lokal seperti diharapkan terus hidup menjadi bentuk resiliensi berkelanjutan. Pada akhirnya peringatan dini ini dapat menyelamatkan masyarakat setempat dari ancaman bencana,” tambahnya. (wms10)