- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
- Protes Meluas, Warga Banyuasin Kesulitan Air Bersih
Cegah Gelombang Lanjutan Kasus Covid-19 setelah Libur Lebaran
PALEMBANG, SIMBUR – Gelombang lanjutan kasus Covid-19 diprediksi bakal terjadi setelah libur Lebaran Idulfitri 1443 Hijriah. Hal itu diungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito. Menurut Wiku, potensi penularan Covid-19 di Indonesia tetap harus diwaspadai dengan menjaga protokol kesehatan dalam setiap aktivitas.
Setidaknya, kata Wiku, terdapat tiga hal yang perlu memperketat prokes. Pertama, silaturahmi pada periode Idulfitri yang akan datang banyak melibatkan interaksi dengan kelompok anak-anak. Kedua, risiko terpapar virus lebih besar dari masyarakat yang melakukan perjalanan jarak jauh serta mengunjungi fasilitas umum dengan kepadatan Covid-19 yang tinggi. Ketiga, keberadaan kasus tanpa gejala di sekitar kita tidak mungkin dari sumber pengeluaran melihat tiga kenaikan kasus menjadi sumber penularan.
“Terakhir, melihat kenaikan tiga kasus yang lalu nyatanya terjadi saat kebijakan libur panjang, termasuk Idulfitri. Saat ini pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan. Tidak lagi dilakukan pembatasan mobilitas yang besar,” ungkap Wiku saat konferensi pers yang digelar secara offline dan online dari Graha BNPB, Jakarta, Selasa (19/4).
Wiku menambahkan, gelombang pertama periode Natal dan Tahun Baru 2021, kasus positif melonjak tiga kali lipat dan mencapai puncaknya. Terdapat 14.500 kasus kematian dalam sehari. Gelombang kedua periode Idulfitri bulan Mei 2021 ditengah keberadaan varian delta kasus positif melonjak sangat tajam pada tanggal 15 Mei 2021. “Kasus harian saat itu mencapai 50 ribu dalam satu hari. Lebih tinggi gelombang kedua daripada gelombang pertama,” terangnya
Gelombang ketiga saat Paskah periode Natal dan Tahun Baru di tengah keberadaan varian Omicron. Penambahan kasus positif ini puncaknya pada 16 Febuari 2022 yang melebihi rekor yaitu hingga 65 ribu kasus positif dalam satu hari. “Sebelumnya empat bulan berturut turut kasus meningkat. Meski demikian, angka kematian justru melonjak pada kasus pertama dan kedua,” ujarnya.
Lonjakan kasus akibat adanya penyesuaian kebijakan tahun ini dan tahun sebelum nya untuk tetap mengupayakan agar kasus yang saat ini berhasil ditekan tidak naik kembali serta akan memicu gelombang yang baru. Hal ini tentunya menjadi kewaspadaan agar lebih berhati-hati. Jangan sampai merasa terlalu aman untuk melakukan hal-hal berisiko yang menyebabkan lonjakan kasus.
“Saya ingatkan penyesuaian kebijakan ini tanggung Jawab kita untuk tetap disiplin memakai masker,mencuci tangan dan menghindari kerumunan menjadi kunci utama agar virus tidak menyebar,” tegasnya.
Meski sudah vaksin, lanjut Wiku, dirinya mengimbau agar tetap menjaga kesehatan terhadap gejala perawatan di rumah sakit hingga kematian virus yang ada di dalam tubuh tidak tertular kepada orang lain. Terlebih lagi saat masa mudik dan silaturahmi yang mudah terpapar virus pasca perjalanan jauh. Tentunya akan berisiko pula menularkan karena akan berjumpa dengan kelompok rentan orang tua kemudian penderita dan anak-anak. Jangan sampai terpapar virus sama sekali dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan, mudik aman jangan bawa virus pulang.
“Saya mengajak masyarakat untuk senantiasa berusaha sehat dan bugar selama periode bulan Ramadan ini dapat tercapai. Kita dapat menjaga hidup bersih dan sehat, dibarengi kepatuhan tinggi menjalankan dalam kebijakan Covid-19,” ungkapnya.
Masih kata Wiku, perlu digarisbawahi sehat selama Ramadan ini untuk tetap aman di hari raya. Saat bulan Ramadan tetap menjaga protokol kesehatan dalam menjalankan aktivitas ingat walaupun kasus melandai tapi virus Covid-19 tidak hilang pandemi berakhir.
Pertama di bulan Ramadan ini umat Islam menjalankan dengan ritme yang berbeda dengan sebelumnya. Oleh krena itu, harus melakukan penyesuaian dalam beraktivitas demi tubuh senantiasa sehat karena imunitas tubuh yang terjaga perilaku yang harus dilakukan yaitu mengusahakan tidur dengan waktu yang cukup delapan jam perhari untuk orang dewasa. Selanjutnya, masyarakat diminta cermat tidur di tengah aktivitas ibadah dan di siang hari agar kebutuhan tubuh beristirahat dengan baik. Berikutnya tetap cegah dehidrasi. Walaupun berpuasa kebutuhan konsumsi air waktu berbuka dengan saur secara bertahap dan makanan yang baik sehat dan bernutrisi . “Hindari makanan yang kadar gula pangan olahan yang umum nya cepat saji. Tetap aktif berolahraga melakukan aktivitas ringan,” ujarnya.
Diungkap Wiku, jumlah pemudik tahun ini akan lebih besar daripada tahun sebelumnya. Hingga 85 juta orang yang mudik sehingga terjadi kemacetan panjang untuk. Untuk mencegah hal kerumunan mudik tersebut maka masyarakat diminta untuk beetanggung Jawab saling melindungi perjalanan yang matang sesuai peraturan pemerintah. Harpannya agar semua dapat sehat saat berangkatan maupun pulang dimohon juga untuk berhati-hati dalam beraktivitas.
Wiku menjelaskan, khusus menyambut lebaran dengan mudik tahun ini, ada 4 aspek aktivitas masyarakat yang diatur. Yaitu, syarat pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN), syarat pelaku perjalanan luar negeri (PPLN), modifikasi mobilitas arus mudik dan sistem penegakan disiplin protokol kesehatan di fasilitas publik dan pemukiman masyarakat.
“Hal ini agar masyarakat tetap aman dari penularan Covid-19 di tengah potensi kenaikan aktivitas dan tren mobilitas mudik. Masyarakat diharapkan mampu mematuhi kebijakan pemerintah yang sudah sedemikian rupa dirancang berdasarkan data terkini, fakta ilmiah, dan pengalaman sebelumnya untuk mencegah kemunculan gelombang kasus baru,” ujarnya.
Diketahui, perkembangan kasus Covid-19 per 19 April 2022 secara nasional, angka kesembuhan harian bertambah 2.750 orang terdiri 2.711 transmisi lokal dan 39 Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Angka kumulatifnya terus meningkat melebihi 5,8 juta orang sembuh atau tepatnya 5.836.310 orang (96,6 persen).
Kasus aktif atau pasien positif yang membutuhkan perawatan medis, berkurang 1.947 kasus sehingga angka kumulatifnya dibawah 50 ribu kasus atau tepatnya 49.022 kasus (0,8 persen). Lalu, pasien terkonfirmasi positif (RT-PCR/TCM dan rapid antigen), per hari ini jumlahnya sudah di bawah seribu kasus. Dengan penambahan 837 kasus terdiri 813 transmisi lokal dan 24 PPLN. Sehingga angka kumulatifnya, atau jumlah pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga hari ini mencapai 6.041.269 kasus.
Sementara, pasien meninggal bertambah 34 kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya mencapai 155.937 kasus (2,6 persen). Selain itu, dari hasil uji laboratorium per hari, spesimen selesai diperiksa (RT-PCR/TCM dan rapid test antigen) per hari sebanyak 146.805 spesimen dengan jumlah suspek sebanyak 5.013 kasus.
Pada perkembangan program vaksinasi, penerima vaksin ke-1 bertambah 101.372 dengan totalnya melebihi 198 juta atau 198.351.438 orang. Penerima vaksinasi ke-2 bertambah 157.719 orang dengan totalnya melebihi 163 juta atau tepatnya 163.036.814 orang. Serta vaksinasi ke-3 bertambah 511.767 dengan totalnya melebihi 31 juta atau 31.860.369 orang. Sementara target sasaran vaksinasi berada di angka 208.265.720 orang.
Lebih lanjut dijelaskannya, pada perkembangan per provinsi, angka kesembuhan harian bertambah dari 28 provinsi. Terdapat 5 provinsi dengan angka harian tertinggi diantaranya, Lampung 983 orang dari kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya 68.988 orang, diikuti Jawa Tengah 376 orang dengan kumulatifnya 584.006 orang, Jawa Barat 347 orang terdiri 346 transmisi lokal dan 1 PPLN dengan kumulatifnya 1.074.981 orang, DKI Jakarta 312 orang terdiri 282 transmisi lokal dan 30 PPLN dengan kumulatifnya 1.228.511 orang, serta DI Yogyakarta 158 orang dengan kumulatifnya 210.840 orang.
Pada kasus terkonfirmasi positif harian bertambah dari 31 provinsi. Terdapat 5 provinsi dengan angka tertinggi. Diantaranya Jawa Barat 222 kasus terdiri 220 transmisi lokal dan 2 PPLN dengan kumulatifnya 1.104.423 kasus, diikuti DKI Jakarta 179 kasus terdiri 165 transmisi lokal dan 14 PPLN dengan kumulatifnya 1.246.002 kasus, Jawa Timur 79 kasus terdiri 43 transmisi lokal dan 3 PPLN dengan kumulatifnya 575.148 kasus, Jawa Tengah 72 kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya 626.469 kasus, serta Banten 66 kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya 291.867 kasus.
Pada sebaran kasus aktif masih terdapat di 34 provinsi. Namun 5 provinsi dengan angka tertinggi berada di Jawa Barat 13.722 kasus, Papua 12.217 kasus, Jawa Tengah 9.699 kasus, DI Yogyakarta 3.673 kasus dan DKI Jakarta 2.250 kasus. Disamping itu, hari ini kasus kematian dari transmisi lokal bertambah dari 13 provinsi. Angka tertinggi harian 7 kasus di provinsi Jawa Timur dengan kumulatifnya 31.560 kasus dan Jawa Barat dengan kumulatifnya 15.720 kasus.
Diikuti 3 kasus masing-masing di DI Yogyakarta dengan kumulatifnya 5.877 kasus, Lampung 4.147 kasus, Aceh dengan kumulatifnya 2.210 kasus dan Kalimantan Selatan kumulatifnya 2.530 kasus. Lalu, 2 kasus di DKI Jakarta dengan kumulatifnya 15.241 kasus. Sementara 1 kasus masing-masing Kalimantan Timur kumulatifnya 5.707 kasus, Riau kumulatifnya 4.429 kasus, Sumatera Utara kumulatifnya 3.245 kasus, Sumatera Selatan kumulatifnya 3.336 kasus, Bangka Belitung kumulatifnya 1.599 kasus, dan Nusa Tenggara Timur kumulatifnya 1.506 kasus.
Hasil uji per hari jejaring laboratorium berbagai wilayah, jumlah kumulatif spesimen selesai diperiksa mencapai 94.310.264 spesimen. Terdiri dari spesimen positif (kumulatif) sebanyak 11.564.873 spesimen dan spesimen negatif (kumulatif) sebanyak 81.065.018 spesimen. Positivity rate spesimen (NAAT dan Antigen) harian di angka 1,28 persen dan positivity rate spesimen mingguan (10 – 16 April 2022) di angka 1,73 persen. Sementara spesimen invalid dan inkonklusiv (per hari) berjumlah 8 spesimen.
Untuk jumlah orang yang diperiksa per hari ini ada 110.045 orang dan kumulatifnya 62.061.663 orang. Lalu pada hasil terkonfirmasi negatif jumlah kumulatifnya meningkat menjadi 56.020.394 orang. Termasuk tambahan hari ini sebanyak 199.208 orang. Sementara positivity rate (NAAT dan Antigen) orang harian di angka 0,76 persen dan positivity rate orang mingguan (10 – 16 April 2022) di angka 1,25 persen. Secara sebaran wilayah terdampak masih berada di 34 provinsi dan 510 kabupaten/kota.(wms05)



