Mahasiswa Komputer Hobi Ikan Predator, Bekerja Menghias Kuliah

Hobi memelihara ikan bukan hal baru bagi mahasiswa perikanan dan kelautan. Kegemaran main ikan juga merambah mahasiswa segala jurusan, termasuk fakultas ilmu komputer. Berangkat dari hobi, Muhammad Agung Fajrin (20) mendapat pekerjaan sebagai pelayan toko ikan hias dan akuarium di kawasan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Palembang. Dari pekerjaannya, Agung berusaha mendapatkan penghasilan untuk biaya kuliahnya pada diploma tiga (D3) Program Studi Manajemen Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya.

 

PALEMBANG, SIMBUR – Pandemi membuat banyak mahasiswa melakukan aktivitas dan kuliah dari rumah (study from home). Mahasiswa leluasa meluangkan waktu dalam mengerjakan tugas sembari menghilangkan jenuh akibat pandemi tak kunjung reda serta kondisi ekonomi yang belum pulih. Banyak pula mahasiswa putus studi akibat krisis ekonomi yang dialami keluarga. Memelihara ikan hias, baik di akuarium maupun kolam, menjadi salah satu hiburan alternatif bagi mahasiswa di era normal baru. “Kerja sambil kuliah. Main ikan sudah lama sekaligus hobi. Mulai tahun 2017. Pertama kali mencoba ikan predator seperti tiger fish, oscar, channa,” ungkap Agung, Senin (18/10).

Dikatakannya, beragam jenis ikan hias akuarium yang banyak digemari meliputi ikan mas koki, koi, komet, guppy, palty, moly, manfish, cupang, botia, sumatera (tiger fish), blackghost hingga discus. “Kalau ikan diskus agak ribet, agak rewel ikannya. Tidak cocok untuk pemula,” ujar mahasiswa semester tiga ini.

Demikian halnya, ikan hias aquascape seperti neon tetra, redfin, danio zebra, corydoras, glolfish, glassfish, alamandae dan lainnya sangat menarik untuk dipelihara. “Kalau ikan hias aquarium (polos) pemain pemula juga bisa. Untuk ikan aquascape dan predator memang ada orang-orang tertentu,” jelas Agung yang kini tinggal di Perumnas, Kecamatan Sako, Palembang.

Ikan hias predator pun masih banyak diminati seperti arwana, louhan, oscar, aligator gar, parrot, piranha, red devil, peacock bass (Pbass), TSN catfish, RTC catfish, dan leopard catfish. Selain itu, ada gengis khan (hiu air tawar), green terror, belida, palmas, tiger datz, chiclid, bawal, araipama, channa (gabus hias) dan lainnya semakin menjadi buruan para kolektor dan pemain ikan.

“Channa dilihat dari segi warna, bunga/coraknya. Ada jenis channa yang memang mahal. Ada juga yang (ikan gabus) biasa tapi harganya jadi ikut mahal. Lain halnya dengan peacock bass (Pbass), asyik dilihat dari cara makan. Karakter predatornya kelihatan,” ujar remaja yang pernah bergabung di komunitas Palembang Snakehead Keeper ini.

Bagi pemain ikan hias, harus jeli dalam memilih ikan reject (beda dari yang lain secara positif), baik dari warna ekor dan bentuk tubuh ikan. Itu karena para breeder (penangkar) dan pedagang ikan hias ada juga yang menjual ikan cendolan (berbeda karena buruknya bentuk dan warna ikan) serta hanya mencari cuan (laba) tanpa memerhatikan kualitas ikan hias dan kepuasan pelanggan. “Lebih banyak beli langsung daripada pesan lewat online karena risikonya. Kalau beli langsung bisa memilih ikannya,” imbaunya.

Harga berbagai jenis ikan hias berbeda-beda. Mulai dari harga terendah dan paling murah hingga harus merogoh banyak uang. Kata Agung, harga ikan selama ini mengikuti zaman. “Dari penjualan melambung (sebelum pandemi), sekarang turun harga ikan,” ungkapnya.

Pantauan di sejumlah toko dan lapak akuatik di kota ini, harga ikan hias jenis mas koki jenis oranda, black moor, mutiara dengan kisaran Rp10 ribu-Rp100 ribu per ekor bahkan ada yang mencapai Rp1juta per ekor. Ikan komet Rp3ribu-Rp5ribu per ekor. Harga ikan cupang kisaran Rp15 ribu per ekor. Ikan koi ukuran sedang dominan jenis ochiba dan taisho dijual dengan kisaran harga Rp15-Rp30 per ekor. Harga ikan guppy jenis mozaik dan blue moscow antara Rp10ribu-Rp70 ribu per ekor. Ikan palty, moly, dan swordtail dengan harga rata-rata Rp2 ribu-Rp5ribu per ekor. Kemudian, ikan blackghost seharga Rp15 ribu-Rp20 ribu per ekor. Hanya ikan discus dengan harga minimal Rp80 ribu-Rp250 ribu per ekor.

Selanjutnya, harga ikan hias aquascape seperti neon tetra, redfin, danio zebra, corydoras, glolfish, glassfish, alamandae kisaran Rp2 ribu-Rp10 ribu per ekor. Sementara, harga ikan predator seperti arwana silver brasil kisaran Rp125 ribu, arwana super red tembus di atas Rp8 juta, louhan Rp25 ribu-Rp350 ribu, oscar Rp40ribu-Rp150 ribu, aligator gar Rp45 ribu, parrot Rp60 ribu, piranha Rp100 ribu lebih, peacock bass (Pbass), TSN catfish, RTC catfish, leopard catfish, gengis khan (hiu air tawar) kisaran Rp45 ribu-Rp150 ribu, belida Rp40 ribu-Rp200 ribu, palmas Rp30 ribu-Rp75 ribu, green terror Rp40 ribu-Rp90 ribu. Branding ikan gabus hias, channa mampu menembus pasar Rp45 ribu-Rp30 juta.

“Sekarang merata. Banyak yang minat aquascape daripada ikan hias akuarium. Harga ikan akuarium biasa ada yang tinggi dan rendah. Kalau predator tidak terlalu turun harganya,” jelasnya.

Sebelum membeli ikan hias, pemula lebih dahulu menyiapkan akuarium (tank). Baik yang terbuat dari kaca maupun fiberglass. Beragam ukuran akuarium tersedia. Mulai dari megatank berukuran jumbo hingga nano tank berukuran kecil. Harga akuarium bagi pemula cukup bervariasi. Akuarium ukuran 60x40x40 cm dijual Rp180 ribu, ukuran 50x30x30 cm seharga Rp120 ribu. Ukuran 30x20x20 cm seharga Rp50 ribu dan ukuran 20x10x10 cm seharga Rp15 ribu.

Demikian pula perlengkapan akuarium seperti aerator, batu aerasi, filter hang on back (HOB), top filter, floating filter, undergravel filter, hang on filter, internal hingga mini filter, sirkulator pemompa air, lampu penerang (led) dalam air, tempat makanan. Tidak lupa pula menyiapkan material penjernih air seperti biofoam, bio ring, bioball, karbon aktif hingga pasir silika yang disusun dalam filter box.

Bila ingin menjadikannya aquascape, diperlukan sejumlah bahan dan peralatan tambahan seperti pasir malang, pasir bali, silica, pupuk dasar, rumah bakteri, carpet seed (rumput) bebatuan, akar rasamala dan/atau kayu rentek. Ditambah peralatan dan difusser CO2 agar tanaman air seperti anubias nana, pakis lidah, amazon sword, ludwigia repens, jungle vallisneria, giant hairgrass, dan java moss dapat tumbuh dan berkembang di dalam aquascape. “Sekarang lebih banyak yang hobi aquascape daripada ikan akuarium dan predator,” tandasnya.(maz)