Bodies of Care, Respons Kepedulian Koreografer atas Perubahan Budaya dan Gestur Tubuh akibat Pandemi Covid-19

JAKARTA, SIMBUR – Sepuluh koreografer asal Indonesia dan Jerman berkolaborasi menggelar Bodies of Care, pertunjukan berdasarkan instruksi melalui radio Norrm. Narasi instruksi direkam dalam format enam trek audio yang dapat diakses secara daring mulai Sabtu (25/9).

Kepala Bagian Program Budaya di Goethe-Institut Indonesien, Dr Ingo Schöningh mengatakan, karya eksperimental ini berupaya memandang secara kritis terkait pemahaman dan praktik keseharian mengenai isu kepedulian dalam konteks perawatan komunitas. “Sehubungan dengan perubahan radikal yang terjadi dalam budaya dan gestur tubuh sebagai akibat dari pandemi Covid-19,” kata Dr. Ingo Schöningh melalui keterangan resmi yang diterima redaksi, Jumat (24/9).

Ingo menambahkan, karya tersebut digelar sebagai respons terhadap persoalan-persoalan
mendasar mengenai kepedulian —siapa peduli atau tidak peduli terhadap siapa—beragam dalam berbagai konteks lokal dan global. “Semua orang diundang dalam aktivasi karya Bodies of Care tanpa memandang zona waktu dan tempat domisili,” jelasnya seraya menyampaikan, pihaknya mengundang publik untuk mengeksplorasi hubungan antara seni tari dan sikap peduli melalui kegiatan tersebut.

Dijelaskan pula, Bodies of Care merupakan karya eksperimental yang diproduksi dan diorganisasi oleh Goethe-Institut Indonesien dan Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp. Karya ini diciptakan oleh sepuluh koreografer bersama seniman Melati Suryodarmo serta kolektif media dan performans asal Jerman, Ligna.

Menurut Ingo, karya ini merupakan hasil proses pengembangan artistik secara daring yang intensif yang melibatkan kesepuluh koreografer dan penari. Mereka berkolaborasi dalam serangkaian lokakarya eksploratif dari Juni sampai September 2021. “Para koreografer terpilih ini mencoba untuk mendefinisikan kepedulian dan perawatan komunitas dalam hubungannya dengan profesi mereka sebagai koreografer yang sejatinya merupakan bentuk kepedulian terhadap komunitas di sekitar mereka,” jelasnya.

Sepanjang lokakarya, tambah Ingo, mereka mencipta dengan.menyelaraskan kenyataan digital dan analog dalam menjalani budaya peduli melalui konteks sosial yang beragam, sambil menjalin hubungan antarsesama kolaborator dari beberapa pulau di Indonesia dan kota-kota di Jerman. “Mereka bersama-sama menciptakan instruksi koreografis yang mengundang publik dari berbagai belahan dunia untuk berpartisipasi secara individual maupun kolektif,” tutupnya.

Adapun kesepuluh koreografer Indonesia yang terlibat terdiri dari Abdul Hadi (Bandung), Kurniadi Ilham (Jambi), dan Densiel Lebang (Jakarta/Toraja). Selanjutnya, I Nyoman Krisna Satya Utama (Bali), Ela Mutiara (Sukabumi), Mekratingrum Hapsari (Solo), dan I Made Yogi Sugiartha (Bali). Sementara, koreografer terdiri dari Eva Borrmann (Nürnberg, Jerman), Izabella Maria Herzfeld (Berlin, Jerman), Marlen Pflueger dan Yasmina Lammler (Berlin, Jerman).(red)

Share This: