Bukan Sekadar Hafal tapi Amalkan Alquran

MUARA ENIM, SIMBUR – Sebanyak 50 maha santri pondok pesantren Ibadurrahman mengikuti Haflahtul Wada Akhirus Sanah, Minggu (20/6). Kegiatan yang di laksanakan di Ballrom Hotel Griya Sintesa Lantai 2 tersebut merupakan  acara Haflahtul Wada atau wisuda Tahfidz Alquran Nasional pertama di Muara Enim.

Mudiruna pesantren Ibadurrohman Ustaz Syuryadi SE. MSh dalam kesempatan itu memberikan pesan kepada para santri sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan. “Nanti akan melalui fase yang panjang. Fase yang berliku-liku. Maka ayo mulai dari akhir. Anak-anakku sekalian sesungguhnya kehidupan kalian yang sebenarnya adalah selesai acara Haflatul Wada ini. Satu  tahun waktu yang terlalu singkat untuk menanamkan nila-nilai. Mungkin capaian santri belum begitu menggembirakan tapi Ibadurrohman sangat konsen dengan nilai-nilai,” ujarnya.

Beliau juga berpesan, agar tidak mengaku jadi santri kalau lisannya tajam, kawan sakit tidak diurusi, melihat piring yang berantakan dibiarkan, bahasa gesture/ tubuh merendahkan orang. “Ada banyak tempat untuk menghafal diluar akan tetapi jika hanya sekadar lancar, burung beo itu dilatih tiap hari hafalannya lancar. Namun yang diinginkan santri-santri ini bukan sekadar hafal juga mengamalkan  Alquran. Itu jauh lebih penting,” paparnya.

Santri Ibadurrohman, kata dia, diajarkan dengan segenap kasih sayang. Di sini tidak ada kekerasan, tidak ada bullying. “Mimpi kami adalah surga diantara taman-taman surga. Disini kami mendidik anak dengan segenap kasih sayang. Bukan hanya itu, rentetan doa selalu dibacakan dipenghujung malam, setiap sujud dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, anak-anak ini diajarkan bervisi besar. “Bukan berarti saya berlari dari takdir untuk memimpin Muara Enim ini ke depan, bahkan Indonesia ini dipimpin oleh orang-orang yang bertakwa. Apa yang terjadi di Muara Enim hari ini biarlah terjadi.  Tidak perlu mengutuk gelapnya malam, ayo nyalakan lilin-lilin kehidupan yang suatu saat akan menjadi obor yang besar,” ujarnya.

Di antara para santri ada yang akan berangkat ke beberapa universitas di luar negeri seperti Yaman, Turki, mesir, beberapa ke Jakarta untuk persiapan masuk ke lipia. Dia juga menegaskan, akan mengultimatum terutama anak-anak yang akan berangkat ke Turki. “Mungkin takdir saya tidak menjadi pemimpin Muara Enim. Saya memimpikan suatu saat kalian akan menjadi pemimpin-pemimpin itu. Saya akan melihat perubahan-perubahan itu. Saya keliling Eropa enam tahun atau paling lama 1 tahun setelah santri berada di Turki untuk mensyiarkan Alquran di sana,” ujarnya.

Diketahui rasanya belum ada santrinya dari berbagai daerah di nusantara. “Alhamdulillah di Ibadurrohman santri berdatangan lintas provinsi dan pulau bahkan di lintas negara seperti Malaysia,” tutupnya.(rel)

Share This: