- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
- Hadapi Medan Sulit, Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Koala Dua Belas
- Lumbung Energi Jadi Beban Moral, Layanan Listrik di Sumsel Harus Lebih Baik
- Jalan Berlumpur Jadi Ajang Berfoto Warga Desa
- Banjir Rendam Bayung Lencir, Warga Terisolasi dan Butuh Bantuan
Sumsel Masih Lima Besar Persentase Kematian Tertinggi di Indonesia
JAKARTA, SIMBUR – Sumatera Selatan masih bertengger pada lima besar provinsi di Indonesia dengan persentase kematian tertinggi. Data tersebut disampaikan langsung oleh Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito. “Persentase meninggal tertinggi berada di Jawa Timur 7,15 persen, Sumatera Selatan 5,37 persen, Nusa Tenggara Barat 5,20 persen, Bengkulu 4,49 persen dan Jawa Tengah 4,36 persen,” ungkap Wiku saat memberi keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (17/11).
Wiku mengatakan, penanganan kasus kematian pekan ini juga patut diapresiasi karena terjadi penurunan sebesar 8,9 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Meski demikian, pekan ini masih ada lima besar provinsi yang masih perlu menekan angka kematiannya, yakni Jawa Tengah naik 38, Kalimantan Timur naik 13, Jambi naik 6, Kepulauan Riau naik 4 dan Kepulauan Bangka Belitung naik 3.
“Saya berpesan kepada seluruh provinsi terutama dengan kenaikan kasus positif tertinggi pekan ini, maka pemerintah setempat berpeluang memperbaiki angka kematian dengan memastikan seluruh kasus positif baru ditangani dengan baik, utama pasien gejala sedang, berat dan berat terutama komorbid,” tegasnya.
Wiku menambahkan, perkembangan kasus Covid-19 nasional terjadi peningkatan kasus positif sebesar 17,8 persen. “Peningkatan ini cukup signifikan dibandingkan biasanya. Biasanya terjadi kenaikan hanya dikisaran 5 sampai 8 persen saja selama ini. Ini adalah perkembangan ke arah yang kurang baik, karena kasus positif terus mengalami peningkatan,” ujarnya.
Pekan ini, pada lima besar provinsi, kenaikan kasus tertinggi mencapai 2.377 kasus baru dari Jawa Tengah. Dibandingkan pekan lalu, kenaikan kasus tertinggi berada di Jawa Tengah dengan 919 kasus baru. Dari lima besar provinsi pekan lalu, apresiasi diberikan pada Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat yang pekan ini tidak lagi masuk lima besar.
Selain Jawa Tengah, provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi pekan ini diantaranya Jawa Barat naik 875 kasus, DKI Jakarta naik 778 kasus, Banten naik 262 kasus dan Lampung naik 204 kasus. Ketiga provinsi teratas diminta segera berbenah. “Pekan in, Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta masih menjadi masih berada di posisi tiga teratas. Ini adalah hal penting yang harus kita selesaikan. Karena Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI dan Banten adalah provinsi dengan kota-kota besar padat penduduk dan kegiatan sosial ekonominya sudah berjalan,” ujarnya.
Wiku juga menegaskan kepada pemerintah daerah agar menekan angka pertambahan kasus positif. Para pelanggar diminta untuk ditindak tegas pada masyarakat yang berkerumun, dan tidak melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. “Jangan sampai apa yang kita alami pekan lalu terulang lagi di pekan ini,” tegas Wiku.
Pada angka kesembuhan nasional pekan ini perkembangannya masih sangat disayangkan. Karena angka kesembuhan masih menurun dan menjadi pekan keempat secara berturut-turut. Perlambatan pekan ini sebesar 9,3%. “Hampir 10 persen. Bahkan lebih besar dari pekan sebelumnya. Ini adalah kondisi yang menprihatinkan. Seharusnya jumlah kesembuhan harus dijaga agar kesembuhan bertambah,” imbuh Wiku.
Pada pekan ini, Wiku menyebut ada lima provinsi dengan penurunan kesembuhan tertinggi. Diantaranya Sumatera Barat turun 1.377, Aceh turun 810, Riau turun 660, Banten turun 521 dan Jawa Tengah turun 342. Untuk daerah dengan persentase kesembuhan terendah pekan ini berada di Papua (51,36 persen), Lampung (51,97 persen), Jambi (68,23 persen), Sulawesi Tengah (70,8 persen) dan Sulawesi Barat (72,62 persen).
“Sekali lagi saya berpesan pada seluruh provinsi, betul-betul dapat meningkatkan kualitas penanganan Covid-19, jadikan momen ini sebagai kesempatan mendongkrak angka kesembuhan dan menekan angka kematian,” pesan Wiku.
Sementara itu, penurunan jumlah daerah zona orange cukup banyak, dari 370 kabupaten/kota pekan lalu, menjadi 345 kabupaten/kota pada pekan ini. “Ini adalah langkah yang kami harapkan. Sejak awal pandemi, kabupaten/kota dengan zona orange paling banyak diantara zona risiko lainnya,” jelas Wiku.
Namun yang menjadi catatan, zona merah atau zona risiko tinggi, dari 27 kabupaten/kota menjadi 28 kabupaten/kota. Juga pada zona kuning atau risiko rendah, terjadi peningkatan dari 97 menjadi 121 kabupaten/kota. Lalu pada zona hijau tidak ada kasus baru meningkat dari 9 kabupaten/kota menjadi 10 kabupaten/kota. Dan pada zona hijau tidak terdampak menurun dari 11 menjadi 10 kabupaten/kota.
Apresiasi diberikan pada 53 kabupaten/kota yang berpindah dari zona oranye ke zona kuning. Wiku menambahkan, hal ini berarti mengalami perubahan yang baik setelah berminggu-minggu tidak ada perubahan pada zona orange, akhirnya mengalami perubahan yang baik dari risiko sedang menjadi risiko rendah.
“Kepada provinsi-provinsi lainnya yang masih bertahan di zona orange atau zona merah, mohon dapat menekan angka kasus positif dan angka kematian, serta terus meningkatkan angka kesembuhan agar dapat segera berpindah ke zona kuning dan zona hijau,” ujarnya.
Pekan ini, yang menjadi sorotan pada 17 kabupaten/kota. Yang sebelumnya berada di zona oranye berpindah ke zona merah. Hal ini menandakan perkembangan ke arah yang kurang baik pada daerah-daerah tersebut. Ke-17 kabupaten/kota tersebut didominasi Pulau Jawa, diantaranya Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Rincian Kabupaten/kota tersebut diantaranya di Jawa Barat terdapat di Bandung, Tasikmalaya, Purwakarta dan Kota Cimahi. Di Jawa Tengah terdapat di Banjarnegara, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Kendal, Tegal dan Brebes. Jawa Timur ada di Lumajang. Di Banten di Kota Cilegon. Untuk di luar Jawa terdapat di Sumatera Barat di Kota Payakumbuh, Lampung di Pesawaran dan Kalimantan Tengah di Barito Timur. Dan Kepulauan Riau di Kota Tanjungpinang.
Disamping itu, hasil evaluasi dari Satgas Penanganan Covid-19 terhadap masa libur panjang baru-baru ini khusus 2 provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah mengalami peningkatan positivity rate atau penambahan kasus terkonfirmasi positif.
Data 21 – 27 Oktober 2020, sebelum libur panjang, di Jawa Tengah sebesar 13,53 persen dan Jawa Barat sebesar 15,4 persen. Setelah libur panjang pada 4 – 10 November 2020, terjadi peningkatan di Jawa Tengah menjadi 17,4 persen dan Jawa Barat menjadi 16,31 persen. “Ini menandakan terjadi peningkatan penularan yang sangat signifikan pada dua provinsi tersebut,” katanya.
Untuk itu, Wiku meminta daerah-daerah yang mengalami perubahan yang kurang baik, seharusnya menjadikan hal ini pengingat dan meningkatkan upaya penanganan Covid-19 di wilayahnya masing-masing. Kedepankan kerjasama kolaborasi antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat, agar upaya penanganan dapat terjadi dengan lebih maksimal.
Dikatakan Wiku, Satgas Penanganan Covid-19 meminta para pelanggar protokol kesehatan ditindak tegas. Satgas Penanganan Covid-19 daerah bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, diminta menegakkan disiplin tanpa pandang bulu terhadap para pelanggar, sesuai peraturan yang berlaku.
“Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Oleh karena itu, kami meminta siapapun untuk mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah, sebagai upaya pencegahan sekaligus perlindungan dari penularan Covid-19,” tegasnya.
Satgas Penanganan Covid-19 juga mengingatkan bahwa upaya penanganan Covid-19 dapat dilakukan dengan baik, apabila koordinasi antara pemerintah, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dijalankan secara efektif. “Langkah penanganan seperti ini sudah berhasil dijalankan Thailand yang sudah diapresiasi Badan Kesehatan Dunia,” ungkapnya.
Wiku menerangkan, Thailand diketahui memiliki kasus pertama Covid-19 pada 13 Januari 2020. Dan merupakan negara pertama di luar Tiongkok yang melaporkan kasus Covid-19. Pada 10 hari sebelumnya, Thailand telah mengaktivasi program kedaruratan untuk mecegah wabah besar yang melibatkan respon seluruh masyarakat atau full society response. “Dengan didasari bukti ilmiah dan didukung kepemimpinan kolektif. Respon ini hasil pembelajaran dari pengalaman penanganan Sars pada tahun 2003,” jelas Wiku
Melalui manajemen kesehatan masyarakat yang baik, sistem kesehatan di Thailand mampu beradaptasi dengan kebutuhan. Negara itu berhasil menginformasikan dan memobilisasi masyarakat untuk melakukan tindakan pencegahan, deteksi atau testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan) maupun treatment (perawatan). Upaya itu membuahkan hasil yang baik dengan terjadinya penurunan kasus pada bulan April dan Mei.
Dalam penanganan Covid-19 di Thailand, subjek yang berperan penting adalah kader desa, orang-orang biasa yang berkontribusi untuk membantu penanganan Covid-19 di lingkungan terdekat. Dan dibawah pengawasan dinas kesehatan setempat. Jumlahnya saat ini kurang lebih 1 juta orang dari total 69 juta populasi di Thailand. “Dengan modal nilai gotong royong yang dimiliki Indonesia, sudah seharusnya kesuksean ini dapat kita raih. Bersatunya seluruh elemen masyarakat melawan Covid-19, tanpa terbelah, merupakan kunci kemenangan melawan pandemi ini,” jelasnya.
Berkaca dari Thailand, maka perlu adanya penguatan kolaborasi dengan masyarakat. Pemerintah daerah dapat melakukan rekrutmen tenaga kesehatan profesional yang dapat ditugaskan untuk melakukan upaya tracing. Hal ini sudah dilakukan oleh berbagai provinsi salah satunya DKI Jakarta. “Ingat, kolaborasi Pemerintah dan masyarakat ini merupakan kunci utama suksesnya penanganan Covid-19,” pesan Wiku.
Diketahui, data terkini per 17 November 2020, penambahan kasus positif 3.807 kasus, jumlah kasus aktif 60.426 kasus atau 12,7 persen, dibandingkan rata-rata dunia sebesar 28,04 persen. Jumlah kesembuhan kumulatif 398.636 kasus atau 84 persen, dibandingkan rata-rata dunia 69,55 persen. Kasus meninggal kumulatif 15.393 atau 3,2 persen rata-rata dunia 2,41 persen. “Hal ini menunjukkan bahwa penanganan Covid-19 di Indonesia sudah on the track (jalur yang tepat). Bahkan dengan rendahnya kasus aktif di Indoensia, kita berperan dalam menekan kasus aktif di tingkat global,” ujarnya.
Ia melanjutkan, dari data perbandingan per 8 November 2020, persentase kasus aktif Indonesia sebesar 12,16 persen, lebih rendah dibandingkan kasus aktif dunia 27,16 persem. Melihat data perbandingan per 15 November 2020, kasus aktif Indonesia sebesar 12,72 persen, masih lebih rendah dari rata-rata dunia 28,18 persen.
Dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara, Myanmar 21,75 persen dan Malaysia 25,97 persen. Di negara Eropa seperti Jerman 35,4 persen, Swiss 46,67 persen, Perancis 90,66 persen dan Belgia 91,7 persen. Dibandingkan Amerika Serikat berada di angka 37,12 persen. “Capaian ini tidak boleh membuat lengah. Harus terus meningkatkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam menekan kasus aktif ini,” pesan Wiku.
Indonesia katanya bisa belajar dari negara-negaea yang berhasil menekan kasus aktifnya. Seperti Singapura 0,09 persen, Thailand 2,43 persen, Filipina 6,68 persen dan Jepang 10,65 persen. Masyarakat dapat berkontribusi membantu pemerintah dengan disiplin mematuhi protokol kesehatan dimanapun dan dalam setiap aktivitas yang dilakukan.(red)



