- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Swab Gratis di Puskesmas bagi yang Kontak Erat dengan Pasien Covid-19
JAKARTA, SIMBUR – Pemeriksaan uji spesimen melalui tes usap atau Swab Polymerase Chain Reaction (PCR) bagi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien positif Covid-19 tidak dikenakan biaya atau gratis. Hal itu diungkap Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo.
Menurut Doni, pemerintah pusat telah memberikan reagen ke berbagai daerah untuk melakukan uji sampel spesimen virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan dan puskesmas dapat memberikan pelayanan dan penanganan Covid-19 gratis berbasis data.
“Untuk yang di puskesmas seharusnya gratis (tidak dipungut biaya), karena reagen itu diberikan dari pusat, dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Satgas COVID-19. Kemudian juga pemerintah provinsi/kabupaten/kota juga ada yang menyelenggarakan (pengadaan) reagen sendiri,” jelas Doni di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Jumat (9/10).
Dalam hal ini, Doni juga meminta agar ada yang melapor apabila masih ada pihak yang memberikan beban biaya bagi masyarakat untuk melakukan tracing, dari kontak erat salah satu pasien Covid-19 dengan Swab PCR. “Kalau mungkin masih ada pungutan-pungutan, mohon kami bisa diinformasikan, sehingga kami bisa mencari solusinya,” tegas Doni.
Lebih lanjut, Doni menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin masyarakat terbebani untuk melakukan pemeriksaan spesimen, sehingga solusi terbaik akan selalu diupayakan dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19.
“Beban kepada masyarakat tidak boleh terlalu berat, apalagi untuk melakukan pemeriksaan spesimen. Sejauh ini, mereka yang kontak erat dilakukan tracing itu seharusnya gratis. Tidak boleh ada pungutan sebesar apapun. Seharusnya gratis,” imbuhnya.
Sebelumnya, Doni yang juga menjabat sebagai Kepala BNPB menjelaskan bahwa selain memberikan reagen kepada beberapa daerah, Pemerintah Pusat melalui Satgas Penanganan Covid-19 dan Kemenkes juga telah dan akan terus menyalurkan mesin PCR dan laboratorium guna percepatan dan pemerataan uji spesimen berbasis reagen.
Menurut catatan Doni, awalnya Pemerintah Indonesia hanya memiliki 1 laboratorium yang berfungsi yakni Balitbankes Kemenkes. Kemudian seiring perkembangannya, laboratorium dapat diperbanyak hingga 374 unit dan tersebar di sejumah daerah dengan kapasitas dari uji sampel mencapai rata-rata di atas 35 ribu spesimen.
“Sekarang ini sudah ada 374 laboratorium. Suatu angka yang sangat besar. Demikian juga kemampuan testing per hari yang semula per hari 2 ribu kemudian meningkat 10 ribu, 20 ribu, 30 ribu. Nah sekarang sudah rata-rata di atas 35 ribu,” jelas Doni.
Di sisi lain, Doni mengakui bahwa capaian uji spesimen itu belum merata di seluruh Indonesia. Hal itu masih menjadi tantangan bagi pemerintah. Kendati demikian, ada beberapa dearah yang memiliki kemampuan uji spesimen yang telah sesuai standar WHO dan kondisi itu akan terus ditingkatkan.
“Sudah ada yang meningkat. Jakarta termasuk yang cukup tinggi angka pemeriksaan spesimennya. Kami terus bergerak untuk bisa merata ke seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Doni.
Diketahui, dari data Kementerian Kesehatan per 9 Oktober 2020, pasien sembuh terus bertambah. Pasien sembuh dari Covid-19 bertambah sebanyak 3.607 kasus. Dengan jumlah kumulatif sudah menembus angka 247.667 kasus.
Penambahan kesembuhan harian tertinggi berasal dari DKI Jakarta sebanyak 850 kasus dan kumulatifnya menembus angka 69.110 kasus. Diikuti Jawa Barat dengan tambahan 563 kasus dan kumulatifnya mencapai 16.529 kasus. Jawa Timur menambahkan ketiga terbanyak kesembuhan harian dengan 306 kasus dan kumulatifnya mencapai 39.913 kasus. Provinsi ini secara kumulatif masih berada di urutan kedua. Namun secara kumulatifnya, Jawa Tengah berada di urutan ketiga dengan 18.097 kasus termasuk tambahan hari ini sebanyak 210 kasus.
Sementara pada tambahan pasien terkonfirmasi positif hari ini sebanyak 4.094 kasus dan kumulatifnya mencapai 324.658 kasus. Kasus Covid-19 yang masih aktif hari ini sejumlah 65.314 orang.
Sebaran daerah dengan kasus tertinggi harian berada di DKI Jakarta dengan tambahan 943 kasus dan kumulatifnya mencapai 84.315 kasus. Diikuti Jawa Barat dengan 504 kasus dan kumulatifnya berada di urutan ketiga mencapai 26.763 kasus. Ketiga terbanyak harian berada di Jawa Tengah dengan tambahan 412 kasus dan kumulatifnya urutan keempat tertinggi dengan 25.673 kasus.
Secara kumulatif nasional, urutan kedua terbanyak masih berada di Jawa Timur dengan kumulatif 46.405 kasus. Termasuk tambahan hari ini sebanyak 310 kasus.
Selain itu, kasus pasien meninggal harian bertambah sebanyak 97 kasus. Hingga saat ini total pasien meninggal dunia menembus angka 11.677 kasus. Kasus kematian tertinggi hari ini ditemukan di DKI Jakarta dengan 21 kasus dan kumulatifnya urutan kedua mencapai 1.855 kasus.
Jawa Timur dengan tambahan harian kedua terbanyak dengan 20 kasus dan kumulatifnya tertinggi sejumlah 3.394 kasus. Sementara Jawa Tengah juga menambahkan 10 kasus harian dan kumulatifnya 1.482 kasus. Kasus kematian dalam jumlah harian yang sama tercatat di Kalimantan Timur dengan 10 kasus dan kumulatifnya 404 kasus.
Selain itu per hari ini jumlah suspek ada 149.115 kasus dan spesimen selesai diperiksa sebanyak 44.700 spesimen. Untuk sebaran wilayah masih berada di 34 provinsi dan bertambah lagi 1 daerah menjadi 500 kabupaten/kota. (red)



