- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Sosialisasi Gerakan Masker melalui Tokoh Agama
JAKARTA, SIMBUR – Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 akan memfokuskan gerakan membiasakan bermasker selama dua minggu ke depan. Penggunaan masker sendiri merupakan salah satu protokol kesehatan yang tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain. Strategi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan masker dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya pendekatan keagamaan melalui sosialisasi maupun peran serta tokoh agama.
Koordinator Satgas Covid Nahdlatul Ulama (NU) dr. Muhammad Makky Zamzami MARS menjelaskan bahwa NU turut mengkampanyekan gerakan bermasker melalui media sosial. Dengan cara membuat “twibbon”. ‘Saya NU dan saya bermasker’. Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat, tetapi turut dilakukan oleh para kyai yang juga mengenakan masker. “Para tokoh-tokoh kami pasangkan dengan quote-nya ‘Saya NU, dan saya bermasker’, ada Gus Mus ada Kyai Said,” ungkap Dokter Makky.
Selain itu, perwakilan dari Gerakan Masjid Bangkit drg Arief Rosyid Hasan MKM menyatakan bahwa bersama Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla, Gerakan Masjid Bangkit telah berkoordinasi dengan hampir satu juta masjid yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus menggaungkan penerapan protokol kesehatan setelah melakukan azan salat Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. “Pakai masker dan dua yang lain ya, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Berulang-ulang sekarang kami sampaikan ke pengurus masjid di seluruh Indonesia untuk melakukan itu,” kata dokter Arief yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda di Dewan Masjid Indonesia.
Dokter Arief menegaskan langkah-langkah yang berlandaskan lokalitas budaya juga diperlukan ketika melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Penggunaan bahasa daerah dan penyederhanaan informasi dapat menjadi alternatif cara penyampaian secara langsung. “Kekuatan budaya Indonesia yang luar biasa harus dimanfaatkan, kita harus bisa memetakan potensi masyarakat daerah, karena lokalitas masing-masing yang berbeda,” tutup Dokter Arief.
Wakil Sekretaris Muhammadiyah Covid-19 Command Centre Pusat (MCCC), Deni Wahyudi Kurniawan, Muhammadiyah juga ikut serta dalam membiasakan gerakan bermasker ini melalui edukasi dan sosialisasi. Lewat penjelasan mengenai panduan menggunakan masker yang baik hingga membagikan sekitar 432.000 masker keseluruh relawan Muhammadiyah yang tersebar. “Kami dorong supaya mereka mengerti dengan kampanye melalui sosial media dan juga panduan, lalu kita memberikan sebisa mungkin maskernya kepada masyarakat,” ucap Deni melalui ruang dialog digital.
Sementara itu, Ketua Umum Squad Penanggulangan Bencana Indonesia (PBI) Subur Rojinawi menjelaskan bahwa PBI yang merupakan gabungan dari sekitar 86 lembaga NGO telah turut bergerak langsung untuk membagikan masker langsung kepada masyarakat. “Komunitas bergerak secara langsung untuk terjun ke lapangan dengan menargetkan pasar, jalan, dan sekolah yang sudah mulai masuk baik di Jakarta maupun di daerah guna membagikan masker,” ungkap Subur.
Sangat Penting saat Pandemi
Masker wajib dipakai saat pandemi Covid-19. Terutama ketika bepergian keluar rumah. Masker menjadi hal yang esensial karena mampu menangkal virus ataupun bakteri yang akan masuk ke mulut ataupun hidung seseorang.
Dokter Budi Santoso mengingatkan bahwa menggunakan masker penting karena merupakan penghalang atau “barrier” agar ludah atau cipratan terhalangi ketika sedang mengobrol, batuk, atau bersin. Sebagai cara untuk melindungi diri sendiri dan orang lain terutama kelompok rentan agar tidak tertular Covid-19.
“Misalkan kalau tidak pakai masker semuanya bisa menyembur. Kalau pakai masker semuanya terhalangi. Walaupun anak muda tidak ada gejala yang muncul tapi tetap harus melindungi orang lain dan lingkungan apalagi kelompok rentan. Jadi, salah satu pencegahannya penularan itu tetap harus menggunakan masker walaupun tidak ada gejala,” jelasnya.
Secara garis besar terdapat tiga jenis masker yaitu masker kain, masker medis atau masker bedah, dan masker N95 atau KN95. Masker kain merupakan masker yang dapat digunakan untuk masyarakat terutama yang sehat dan saat berada di tempat kerumunan. Umumnya masker kain dapat ditemui dimana saja karena harganya yang murah dan dapat dipakai berulang kali. Sedangkan masker medis atau masker bedah adalah masker yang digunakan oleh tenaga kesehatan atau orang yang sakit dan hanya dapat digunakan satu kali pemakaian. Ketiga adalah masker N95 dimana efektivitasnya itu mencapai 95% untuk menyaring partikel virus yang berukuran kurang lebih 0,3 – 10,1 mikron. Umumnya, masker N95 digunakan untuk tenaga medis yang melakukan tindakan yang dapat menimbulkan aerosol seperti pada tindakan operasi.
Dokter Budi juga menjelaskan bahwa ketika menggunakan masker harus memerhatikan kebersihan dan kelayakan pada masker seperti sebelum memakai masker kondisi tangan harus bersih, memastikan bahwa masker dalam kondisi yang bersih dan tidak rusak, serta memastikan tidak ada celah ketika memakai masker. Apabila ingin makan atau minum sebaiknya masker dilepas dan disimpan pada tempat atau plastik yang bersih.
“Kemudian harus pastikan bahwa memang mulut, hidung, dan dagu semuanya tertutupi. Misalnya kalau mulutnya saja tertutupi, kalau misalnya kita bersin dari hidung, dari hidung masih keluar,” kata dokter Budi.
Sementara, dr Shela Rachmayanti turut menjelaskan mengenai cara melepas masker yang benar agar tidak terkontaminasi virus atau bakteri yang menempel di masker. “Pertama pastikan tangan sudah steril dan pegang bagian dari talinya, kemudian pegang bagian dari talinya dan jangan menyentuh bagian depan maskernya, serta buka secara perlahan agar tidak ada risiko penularan,” jelas dokter Shela.
Dokter Shela juga mengingatkan setelah melepas masker kain disarankan untuk dicuci menggunakan air dan sabun agar virus dan bakteri yang menempel luruh atau mati, serta menjemurnya di bawah sinar matahari. Sedangkan apabila menggunakan masker medis, dianjurkan untuk membungkus dengan plastik atau diletakkan pada tempat sampah khusus infeksius agar tidak terjadi kontaminasi.(red)



