- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Sumsel 1.680 Orang, Dampingi Sekolah dan Awasi Ruang Publik
# Kasus Aktif 875, Closed Cases 805
# Pasien Sembuh 739 dan Meninggal 66 Orang
PALEMBANG, SIMBUR – Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri tentang Panduan Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid-19 bakal diberlakukan di Provinsi Sumatera Selatan. Karena itu, fasilitas kesehatan khususnya puskesmas perlu mendampingi sekolah sebelum kegiatan belajar mengajar secara tatap muka berlangsung. Jika sudah memenuhi semua daftar periksa (ceklist) kesiapan sekolah, baru siswa diperbolehkan masuk.
“Sektor pendidikan sangat berisiko. Apalagi anak usia sekolah. Sampai tingkat SMP masih sulit untuk mengawasi mereka menerapkan protokol kesehatan. Karena itu, penyuluhan dan sosialisasi puskesmas bersama Dinkes provinsi akan mendampingi. Sampai sekolah siap, baru siswa masuk,” ungkap Dr Iche Andriyani Liberty SKM MKes, juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel, saat video conference, Jumat (19/6).
Epidemiolog Unsri itu juga sangat mengharapkan agar masyarakat terus meningkatkan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. “Tegakkan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan agar tidak meningkatkan jumlah kasus positif,” imbaunya.
Terkait pencabutan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) khususnya di Kota Palembang, Iche menambahkan, itu merupakan kewenangan daerah, kewenangan pejabat setempat. Untuk Kota Palembang, lanjut Ichen setelah dilakukan diskusi bersama Dinas Kesehatan provinsi, ternyata memang ada peningkatan penanganan Covid-19. Termasuk beberapa indikator seperti kajian epidemiologi, survaillance dan kesehatan masyarakat. “Akan tetapi, reproduction number (Rt) atau tingkat penularan Covid-19 masih di angka 1. Inilah yang harus diwaspadai warga Kota Palembang meskipun PSBB tidak dilanjutkan,” jelasnya.
Iche menambahkan, untuk kajian epidemiologi dilakukan per minggu dan dua minggu sekali. Memang untuk Sumsel, kata dia, nilai Rt masih lebih dari 1. Meski demikian, kapasitas pemeriksaan laboratorium terus meningkat. Tracing masif. “Masyarakat jangan longgar dan turun kewaspadaannya terhadap Covid-19,” harapnya.
Iche memaparkan, kasus positif Covid-19 di Sumsel menjadi 1.680 orang. Ada penambahan 84 kasus baru pada Jumat, 19 Juni 2020. “Kasus konfirmasi positif baru per tanggal 19 Juni 2020 mengalami penambahan sebanyak 84 orang,” ungkapnya.
Penambahan itu, lanjut Iche, berasal dari Palembang 78 orang, Banyuasin 1 orang, Pali 2 orang, Musi Rawas 1 orang, Empatlawang 1 orang dan Muara Enim 1 orang. “Sehingga jumlah kasus positif Covid-19 di Sumsel menjadi 1.680 orang,” terangnya.
Menurut Iche, jumlah kasus yang sudah selesai (closed cases) 805 (66 kasus meninggal ditambah 739 kasus sembuh). “Sementara kasus yang masih aktif dan dalam proses menunggu hasil, bisa sembuh atau tidak sebanyak 875 orang,” terangnya.
Adapun jumlah orang dalam pantauan (ODP) sebanyak 7.842 orang, selesai dalam pantauan 6.014 orang, dan masih dipantau sebanyak 1.828 orang. Sementara, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 834 orang. Sebanyak 371 sudah selesai pengawasan, serta masih dalam pengawasan 463 orang.
Pasien dinyatakan sembuh berjumlah 739 orang. Ada penambahan kasus sembuh 29 orang. “Terdiri dari Palembang 28 orang dan OKU Selatan 1 orang,” urainya seraya menambahkan, kasus pasien meninggal 66 orang. “Ada penambahan 1 kasus meninggal dari Palembang,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Yusri juru bicara lainnya mengatakan, pemeriksaan secara masif terhadap kerumunan orang di ruang publik belum sepenuhnya dapat dilakukan. Menurut Yusri, pemeriksaan orang harus melihat banyak faktor.
“Pemeriksaan di ruang publik bisa dilakukan apabila kami menemukan kasusnya. Karena kami mempertimbangkan risiko dan kemampuan kapasitas laboratorium,” tegasnya.
Yusri mengatakan, pihaknya tidak bisa memprediksi akan terjadi lonjakan kasus. “Kalau disiplin masyarakat meningkat maka kasusnya turun. Begitu juga sebaliknya,” ujarnya.
Dijelaskannya, posisi sampel masih 10 ribuan. Pihaknya masih melihat kemampuan laboratorium. “Jika sudah mampu memeriksa sampel seribu per hari, maka kami akan melakukan tes masif terutama di ruang publik,” harapnya.
Yusri menyimpulkan, kasus meningkat karena adanya kontak orang. “Maka dari itu aktivitas kehidupan normal baru tetap harus mematuhi protokol kesehatan,” terangnya.(kbs)



