- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Gerhana Matahari Cincin pada 21 Juni 2020, Salat Kusuf di Lapangan Terapkan Protokol Kesehatan
# Terlihat Juga di 17 Daerah di Sumsel, Tidak Berpengaruh pada Cuaca
PALEMBANG, SIMBUR – Gerhana matahari cincin akan terjadi pada Minggu, 21 Juni 2020. Hal itu berdasarkan pantauan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Meski demikian, fenomena alam tersebut tidak berpengaruh pada kondisi cuaca di Sumatera Selatan.
“Iya benar tanggal 21 Juni 2020 akan terjadi gerhana matahari cincin. Fenomena ini tidak berpengaruh kepada cuaca di Sumsel,” ungkap Desindra Deddy Kurniawan, kepala Stasiun Meteorologi SMB II kepada Simbur, Jumat (19/6).
Desindra menambahkan, gerhana matahari cincin akan teramati sebagian di 432 kota dan kabupaten dari 31 provinsi di Indonesia. Di Sumatera Selatan, lanjut Desindra, akan terlihat di 17 daerah yakni Palembang, Lubuklinggau, Rupit, Muara Beliti, Tebingtinggi, Pagaralam, Lahat, Muara Enim, Sekayu, Talang Ubi, Muaradua, Baturaja, Prabumulih, Martapura, Pangkalan Balai, Indralaya, dan Kayuagung.
Gerhana yang teramati dari Sumatera Selatan berupa gerhana matahari sebagian dengan magnitudo gerhana terentang antara 0,009 di Pagaralam hingga 0,054
di Palembang. Secara umum, gerhana di Sumatera Selatan akan dimulai pada pukul 14.31 WIB, puncak gerhana terjadi pada pukul 15.04 WIB, dan gerhana akan berakhir pada pukul 15.36 WIB. “Durasi gerhana yang teramati di Sumatera Selatan rata-rata adalah 0,78 jam,” terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palembang, H Saim Marhadan mengimbau masyarakat yang akan melakukan salat gerhana tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. “Kalau memungkinkan bisa lakukan salat gerhana (kusuf) karena hukumnya sunah. Salat gerhana dilakukan di lapangan. Protokol kesehatan tetap harus diutamakan. Alangkah lebih baik dilakukan saat terjadinya gerhana dengan memperbanyak mengucapkan istigfar,” jelas Saim kepada Simbur.
Dijelaskannya pula, salat menyadarkan manusia gerhana itu hanya fenomena alam. Tidak mengarah untuk menyembah matahari. “Jangan berpikiran terjadi gerhana itu akan datang musibah. Jangan ada kepercayaan yang mengarah kepada syirik. Sebelum salat untuk istigfar yang mengarahkan kita untuk bermuhasabah. Jangan melakukan kesyirikan karena ini hanya fenomena alam. Jangan menyembah matahari dan bulan, manusia hanya menyembah Allah swt,” imbau Saim.
Diketahui, gerhana matahari adalah peristiwa terhalangnya cahaya matahari oleh bulan sehingga tidak semuanya sampai ke bumi. Gerhana matahari cincin terjadi ketika matahari, bulan, dan bumi tepat segaris dan pada saat itu piringan bulan yang teramati dari bumi lebih kecil daripada piringan matahari. Akibatnya, saat puncak gerhana, Matahari akan tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya.
Wilayah yang terlewati jalur cincin pada Gerhana Matahari Cincin 21 Juni 2020 ini adalah Kongo, Sudan Selatan, Ethiopia, Yaman, Oman, Pakistan, India, Cina, dan Samudera Pasifik. GMC 21 Juni 2020 ini juga dapat diamati di sedikit Afrika bagian Utara dan Timur, Asia (termasuk Indonesia), Samudra India, sebagian negara Eropa, Australia bagian Utara, dan Samudera Pasifik berupa Gerhana Matahari Sebagian.(kbs)



