Zona Orange Palembang Tidak Diakui di Sumsel

# Pasien Positif Covid-19 di Sumsel 1.498 Orang dengan 771 Kasus Aktif

#Closed Cases: Sembuh 670 dan Meninggal 57 Orang

PALEMBANG, SIMBUR – Zona orange yang diklaim Wali Kota H Harnojoyo menjadi kado pahit saat hari ulang tahun (HUT) ke-1337 Kota Palembang. Pasalnya, status zona orange Covid-19 dengan skor 1,9 bagi Kota Palembang itu tidak diakui di Sumatera Selatan. Hal itu diungkap tim pakar epidemiologi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan.

“(Zona orange) Kota Palembang akan kami analisis lebih lanjut dan secepatnya mengundang mereka (Pemkot Palembang) untuk diskusi bersama,” ungkap epidemiolog Dr Iche Andriyani Liberty SKM MKes saat video conference, Selasa (16/6).

Sebagai juru bicara sekaligus tim pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan, Dr Iche menyampaikan rilis hasil analisis epidemiologi di Sumsel sampai 15 Juni 2020. “Terkonfirmasi dari 1.448 kasus positif dan 651 pasien sembuh, angka kesembuhan di Sumsel mencapai 44,96 persen. Angka kesembuhan ini lebih tinggi dari nasional 38,5 persen,” ungkapnya.

Untuk angka kesembuhan, lanjut Iche, sudah dianalisis per dua minggu. Dijelaskannya, hasil analisis pada 17-31 Mei 2020, ada penambahan sembuh 130 orang, kemudian pada 1-15 Juni sekitar 436 orang. “Terlihat ada peningkatan 200 persen atau dua kali lipat lebih kasus sembuh dari kasus positif,” paparnya.

Hasil analisis kedua, lanjut Iche, jumlah kasus meninggal hingga 15 Juni 2020 ada 57 orang (3,94 persen). “Angka meninggal juga di bawah angka nasional 5,6 persen,” jelasnya seraya menambahkan, meskipun angka konfirmasi positif masih tinggi tentu bukan untuk ditakuti dan bukan berarti keadaan Sumsel buruk. “Hal ini bukti tracing yang agresif. Jumlah pemeriksaan sampel yang meningkat,” ungkapnya.

Iche menjelaskan, karena reproduksi efektif (Rt) di Sumsel di angka1,09, pihaknya meminta masyarakat selalu menerapkan protokol kesehatan. “Kami juga selalu mengimbau mal untuk menerapkan protokol kesehatan karena satgas terus memantau,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Yusri, juru bicara lain pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumsel mengatakan, pihaknya akan mendiskusikan mengenai zonasi pewarnaan pada peta. Menurut Yusri, kalau mengacu peta data gugus tugas pusat (Bapenas dan BNPB) itu sepertinya belum tepat.

“Range datanya begitu besar karena berbicara Indonesia. Kita masih bicara kabupaten (kota). Kalau kami terapkan (peta data pusat) di provinsi nanti banyak kabupaten (kota) yang menjadi warna hijau padahal kondisinya tidak demikian. Range data nasional sangat besar,” tegas Yusri.

Yusri menambahkan, Gugus Tugas Sumsel tidak berdasarkan basis data tapi transmisi lokal yang dari awal. “Kami masih mengacu pada pewarnaan peta yang kami buat sebagai acuan dalam menyampaikan komunikasi terhadap gradasi warna peta,” terang Yusri.

Dia mengungkap, pihaknya tidak mengenal zona merah tapi transmisi lokal. “Pemaknaan warna peta (daerah) jangan disamakan dengan pusat karena beda. Warna yang berbeda dalam pembacaan peta punya tujuan yang berbeda,” jelasnya.

Terkait sampel, kata Yusri, masih terus diperiksa dan diverifikasi. Dirinya mengungkap bahwa sekarang lama waktu tunggu sampel di laboratorium 2-3 hari. Dijelaskannya pula, pemeriksaan sampel idealnya 3.500 per 1 juta penduduk. Kalau yang diminta pemerintah pusat, idealnya per hari 20 ribu sampel. “Kami perkuat laboratorium. Akan menambah labor PCR yaitu RS Pusri dan RS Siti Fatimah pada awal Juli mendatang. Selama ini ada dua laboratorium di BBLK dan RSMH. Kapasitas 500-800 spesimen atau jika dikonversi sekitar 200-400 orang,” urainya.

Yusri memaparkan, kasus positif Covid-19 di Sumsel menjadi 1.498 orang. Ada penambahan 50 kasus baru. “Kasus konfirmasi positif baru per tanggal 16 Juni 2020 mengalami penambahan sebanyak 50 orang. Penambahan itu berasal dari Palembang 49 orang dan Muara Enim 1 orang,” ungkap Yusri.

Menurut Yusri, jumlah kasus yang sudah selesai (closed cases) 727  (57 kasus meninggal ditambah 670 kasus sembuh). “Sementara kasus yang masih aktif dan dalam proses menunggu hasil bisa sembuh atau tidak sebanyak 771 orang,” terangnya.

Adapun jumlah orang dalam pantauan (ODP) sebanyak 7.608 orang, selesai dalam pantauan 5.865 orang, dan masih dipantau sebanyak 1.743 orang. Sementara, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 807 orang. Sebanyak 319 sudah selesai pengawasan, serta masih dalam pengawasan 488 orang.

Pasien dinyatakan sembuh berjumlah 670 orang. Ada penambahan kasus sembuh 19 orang. “Terdiri dari OKU 9 orang, Ogan Ilir 1 orang, Lubuklinggau 5 orang, Lahat 2 orang, dan Banyuasin 2 orang,” urainya seraya menyebutkan, kasus pasien meninggal 57 orang. “Tidak ada penambahan kasus meninggal,” tandasnya.(kbs)