- Deninteldam II/Sriwijaya Gagalkan Pengiriman 1 Kg Sabu dari Palembang ke Empat Lawang
- Kerja Sama BKN dan Microsoft Indonesia, Latih 145 Ribu ASN Hadapi Era AI
- SMSI Petakan Pengaruh Politik Global dan Masa Depan Pers Nasional
- Kemendagri Perkuat Penanggulangan Kemiskinan di Sumatera Selatan
- Lindungi Profesi Humas dengan Sertifikasi, Sinergi Gerakan Indonesia Bicara Baik dan Program Public Service Obligation
Pasang Kamera dan Box Trap, Atasi Konflik Manusia dengan Harimau di Sumsel
PALEMBANG, SIMBUR – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru memberikan perhatian khusus terhadap keresahan masyarakat di kota Pagaralam, Kabupaten Lahat dan Muara enim. Mereka mengalami teror binatang buas, salah satunya harimau sumatera.
Sejauh ini Pemprov Sumsel sudah membentuk Satgas khusus yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Lahat Kementerian LHK, Dishut Prov Sumsel (UPTD KPH Semendo). Satgas tersebut berkoordinasi dengan Camat Semende Darat Laut, Kades Muara Dua dan masyarakat untuk mengantisipasi serangan harimau tersebut. “Masalah ini sudah saya sampaikan kepada Menteri,” terang Gubernur saat Rakor di Pagar Alam beberapa waktu lalu.
Saat ini tim Satgas pun telah melakukan upaya pemasangan 8 unit camera trap dan satu unit box trap di beberapa titik yang menurut laporan sering terlihatnya harimau tersebut. Kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel Panji Tjajanto mengatakan, saat ini pemasangan trap box dan camera trap sudah hampir rampung dikerjakan.
“Ada 8 camera trap yang kami pasang dan 1 unit box trap di Semendo. Besok Senin pukul 07.30 akan diadakan rapat koordinasi di Pemkab Muara Enim, dalam upaya penanganan konflik harimau dan manusia ini,” kata Pandji, Minggu (29/12).
Menurut Pandji, hal itu dilakukan guna melihat pergerakan harimau yang sudah meresahkan dan mengancam keselamatan manusia. “Itu sesuai instruksi Gubernur. Tim Satgas juga terus berkoordinasi dengan masyarakat. Saat ini, antisipasi dan penanganan dilakukan titik-titik yang menjadi prioritas,” tuturnya.
Bahkan, lanjutnya, antisipasi tersebut akan melibatkan beberapa NGO yakni FHK, WCS, ZSL. Dimana beberapa NGO tersebut akan memberikan bantuan camera trap sebanyak 55 unit. “Kami juga akan melibatkan beberapa pihak untuk penanggulangannya. Camera trap juga rencananya akan kita tambah yang merupakan bantuan NGO,” terangnya.
Menurutnya, masuknya harimau itu ke perkebunan warga diduga lantaran habitat mereka terganggu. Namun hal itu masih dalam penyelidikan. “Bisa jadi juga karena terganggunya rantai makanan, sehingga harimau tersebut keluar dari habitatnya. Kita juga mengimbau agar masyarakat terus menjaga kelestarian lingkungan. Dan jangan sekali-sekali mengganggu habitat hewan,” tutupnya.(kbs)



