- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Kasus ISPA di Sumsel Meningkat Dua Bulan Terakhir
PALEMBANG, SIMBUR – Kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Sumsel mengalami peningkatan di dua bulan terakhir. Pada bulan Juli, kasus ISPA tercatat sebanyak 40.874 kasus, dan meningkat hampir 10 persen di bulan Agustus menjadi 50.862 kasus. Namun, sejumlah pihak menolak jika peningkatan kasus ISPA dikarenakan semakin memburuknya kualitas udara di Sumsel akibat asap dari karhutla.
Kabid Pencegahan dan Pengobatan Dinkes Sumsel , Ferri Yanuar SKM M Kes mengatakan jika ISPA merupakan penyakit umum yang tanpa ada kabut asap pun masih menjadi 10 penyakit yang paling sering ditemui di seluruh Puskesmas yang ada di Sumsel. “ISPA adalah penyakit umum yang terjadi sepanjang bulan/tahun. Jadi kalau 10 penyakit terbanyak di Puskesmas itu pasti (termasuk) ISPA. Jadi kalau tidak dikaitkan dengan karhutla, kasus ISPA juga tetap ada,” katanya.
Dilanjutkan, rekor jumlah kasus ISPA tertinggi masih dipegang oleh Kota Palembang dikarenakan jumlah penduduknya paling banyak. “Dari data yang diperoleh dari 17 kabupaten/kota jumlah penderita ISPA di Sumsel per Agustus 2019 berjumlah 50.862 orang. Usia di bawah 5 tahun 7.042 kasus dan di atas 5 tahun 4.821 kasus per Agustus 2019,” ungkapnya sembari mengecek lembaran-lembaran data yang dipegangnya.
Terkait, Dinkes Sumsel telah melakukan berbagai upaya antisipasi agar dapat menekan jumlah kasus ISPA yang saat ini sedang disorot karena buruknya kualitas udara. “Antisipasi kami dengan menyosialisasikan ke masyarakat terkait kondisi lingkungan saat ini sebagai upaya melindungi diri. ISPA itu kan sebenarnya infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Asap (karhutla) sifatnya memudahkan, karena asap menyebabkan iritasi. Karena itu tetap menjaga kebersihan. Kalau ada kasus terkait itu (asap) pasti dilaporkan. Untuk korban jiwa karena ISPA sampai saat ini belum ada laporan yang masuk ke kami,” pungkasnya. (dfn)



