- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Jalin Hubungan Dagang, Budaya Jadi Pintu Gerbang
PALEMBANG, SIMBUR – Saat ini kebudayaan dan pariwisata sudah menjadi satu paket unggulan sebuah daerah agar lebih dikenal tidak hanya di dalam negeri tetapi juga mancanegara. Tidak sampai di situ saja, kebudayaan dan pariwisata juga dapat digunakan sebagai alat untuk tujuan mempererat hubungan dagang yang akan bermuara pada peningkatan ekonomi suatu daerah.
Sumatera Selatan (Sumsel) yang besar dengan Kerajaan Sriwijaya sekitar abad 7 sampai abad 14, meninggalkan jejak ragam budaya yang tentunya sangat menarik bagi siapa saja khususnya di benua Eropa. Terkait hal itu, Duta Besar RI untuk Rumania dan Republik Moldova, M Amhar Azeth mencoba mengenalkan Pulau Sumatera khususnya Sumsel kepada warga Eropa Timur, lewat Festival Indonesia yang akan berlangsung September mendatang di Republik Moldova.
“Festival Indonesia (FI) yang digelar di sana sebenarnya adalah soal budaya Indonesia, tapi yang akan dikembangkan adalah empat Provinsi di Sumatera (Riau, Sumsel, Sumbar, dan Aceh). Namun yang paling penting dari semua itu adalah hubungan perdagangan yang harus ditingkatkan. Karena ada beberapa komoditi Indonesia yang belum masuk ke Eropa Timur,” ujarnya usai menemui Gubernur Sumsel, Jumat (26/7).
Menurutnya, Indonesia di mata penduduk Eropa Timur khususnya Moldova cukup bagus, tetapi memang belum begitu banyak dikenal di negara-negara Eropa Timur. Mereka lebih banyak mengenal Bali dan Jawa saja. “Kami akan membawa khusus Sumatera karena di Indonesia Timur sudah dikelola oleh Dubes Selandia Baru. Kegiatan tersebut adalah budaya, perdagangan, perkebunan, peternakan, dan kesehatan,” ungkapnya.
Dilanjutkan, penduduk Eropa lebih senang untuk mempertahankan budaya-budaya yang sudah lama. “Kalau kita tampilkan tentang Sriwijaya, mereka akan sangat tertarik. Buktinya ketika ada event di sana, mereka menunggu (penampilan) dari Indonesia. Selama ini, yang mengisi acara itu dari Bali dan Jawa. Nah kita ubah itu dari Sumatera,” cetusnya.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Aufa Syahrizal Syarkomi SP MSc meyakini jika Sumsel memiliki potensi besar baik dari aspek budaya maupun komoditi unggulan, untuk dikenalkan kepada penduduk Eropa Timur.
“Itu adalah peluang yang bagus untuk diambil oleh Sumsel. Melalui Festival itu, sifatnya akan memperkenalkan dulu bahwa Sumatera juga adalah bagian dari Indonesia. Kami akan mengenalkan Sumsel melalui jalur kebudayaan dan pariwisata, apalagi Sumsel dikenal dengan kebesaran Sriwijaya. Intinya, budaya sebagai pintu gerbang,” tegas Aufa.
Event yang akan dilaksanakan 12-15 September 2019 tersebut, akan diwakili oleh kelompok kesenian Kabupaten Lubuklinggau. “Tim kesenian kemungkinan akan diwakili Kabupaten Lubuklinggau. Tetapi itu tim yang berangkat, untuk keseniannya secara keseluruhan adalah kesenian Sumsel,” pungkasnya. (dfn)



