- Ratusan Kades Hadiri Pelantikan SMSI Lahat
- Tekankan Objektivitas dalam Sidang Pankar Pamen dan Pama Triwulan I Tahun 2026
- Satu Warga Tewas, Puluhan Pasien Rumah Sakit di Manado Dievakuasi akibat Gempa dan Tsunami
- Pastikan Aset Negara di Bawah TNI AD Tertib Administrasi dan Punya Kepastian Hukum
- Jembatan SP 4 Plakat Tinggi Ambrol, Kondisi Jalan Mendesak Diperbaiki
Seruan Damai Ciptakan Situasi Kamtibmas yang Kondusif di Sumsel
PALEMBANG, SIMBUR – Menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang kondusif di Sumatera Selatan membutuhkan seruan damai dari semua perbedaan. Seruan damai itu dilakukan terkait situasi politik nasional yang saat ini sedang dalam tahap sidang sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK). Seruan tersebut melibatkan Forkopimda, tokoh masyarakat, agama, adat, mahasiswa sampai ormas-ormas se Sumsel. Hal itu diungkap Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara pada halalbihalal Polda Sumsel yang digelar di hotel Aston, Senin (17/6).
Kapolda mengatakan, seruan damai yang terbalut halalbihalal itu bertujuan untuk mempererat jalinan silaturahmi dengan berbagai pihak dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan. Bagi Kapolda, bersatunya umara dan ulama akan membuat negara menjadi kuat.
“Pertemuan hari ini pada prinsipnya dimaksudkan untuk mempererat hubungan silaturahmi untuk meningkatkan kekeluargaan antara Polda Sumsel dengan unsur Forkopimda dan stakeholder lainnya dalam rangka menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif di Sumsel. Acara halalbihalal ini adalah inisiasi dari Polda Sumsel, Binmas khususnya setelah berpuasa sebulan penuh,” ujarnya seraya menambahkan jika undangan yang datang jumlahnya sekitar 300 orang.
Intinya, lanjut Kapolda, dengan silaturahmi, semua pihak saling memaafkan walau di dalam perbedaan, khususnya pada saat pelaksanaan pemilu serentak beberapa waktu lalu. “Kita saling memaafkan dari keberbedaan, karena baru saja kita dihadapkan dengan Pemilu. Dari keberagaman yang terjadi baik Pileg dan Pilpres. Jadi kita melakukan silaturahmi dan memperkokoh persatuan dan kesatuan khususnya di Sumsel dan umumnya Indonesia,” tambahnya.
Senada, Pangdam II Sriwijaya, Mayjen TNI Irwan SIP Mhum menilai jika seluruh pihak harus bersatu dan bekerja sama, serta melepaskan ego sektoral yang ada demi terwujudnya kesatuan. “Dalam beberapa kesempatan saya sampaikan bahwa kita membentuk suatu pemerintah, suatu kerukunan atau rumah tangga saja kita harus bersatu. Kalau antara anggota keluarga saja tidak bersatu, tdak bisa rumah tangga itu bahagia,” ujarnya.
Apalagi, lanjut Mayjen TNI Irwan, pemerintah daerah, Polri, TNI, alim ulama, kejaksaan, pengadilan semua bekerja sama dan mempunyai fungsi masing-masing. “TNI hebat sendiri itu tidak bisa, ada Polri di situ. Penegakan hukumnya nanti ada Kejaksaan dan Pengadilan. Di situlah kebersatuan kita. Tidak bisa negara ini dibentuk oleh satu kelompok saja. Disinilah kedewasaan kita dalam berpolitik, bermasyarakat, bersosialisasi selalu menjaga. Egonya mungkin tidak terlalu ditonjolkan karena di situ saling menjaga persatuan, fungsi masing-masing, persaudaraan. Memang seperti itu, kita ditakdirkan berbeda dan tidak bisa sama,” ungkapnya.
Sementara, Wakil Gubernur Sumsel, Mawardi yahya berharap forum silaturahmi semua unsur di Sumsel tidak hanya dilakukan sekali dalam setahun, karena dapat menjadi forum saling berbagi informasi terkait situasi dan kondisi Sumsel untuk tujuan yang lebih baik. “Harapan kami, acara ini bukan hanya dilakukan sekali dalam setahun, mungkin enam bulan sekali atau tiga bulan sekali yang berbentuk acara pertemuan atau silahturahmi. Karena melalui silaturahmi inilah mungkin ada informasi yang tersendat atau salah paham, dengan forum silaturahmi mungkin informasi tersebut bisa tersampaikan, kita bisa tahu dan mencapai tujuan bersama-sama,” harapnya.
Dilanjutkan, dengan adanya pengertian antar tokoh, antar golongan, antar umat dapat menjadikan Sumsel damai. Melalui kedamaian, persatuan dan kesatuan itulah tentu Sumsel dapat berpacu untuk kemajuan. Pada akhirnya, rakyat Sumsel yang akan menikmati apabila hasil kerja keras para tokoh, stakeholder berhasil mencapai tujuan.
“Acara ini adalah Halal Bihalal, tentunya kita sudah berpuasa tentunya saling (memaafkan), apalagi di Sumsel ini pasca Pileg dan Pilpres harapan kami uneg-uneg, perselisihan diserahkan ke pihak penegak hukum dan sesuai dengan UU yang berlaku. Jangan sampai masyarakat Sumsel terbawa-bawa mungkin oleh provokasi yang tentunya akan merusak persatuan dan kesatuan,” tegasnya.
Seruan Damai yang dibacakan bersama oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Sumsel antara lain, Pertama, mendukung penuh dan mengapresiasi stinggi-tingginya kinerja TNI-Polri serta penyelenggara Pemilu 2019 yang telah menyukseskan pemilu serentak aman, damai, dan tertib.
Kedua, mendukung tegaknya supremasi hukum, menolak segala tindakan inskonstitusional dan intervensi terhadap jalannya proses sidang perselisihan pemilu 2019. Mempercayakan sepenuhnya kepada mekanisme hukum yang berlaku sesuai UU.
Ketiga, menolak segala bentuk tindakan kerusuhan serta tindakan-tindakan anarkis lainnya yang mengarah kepada terjadinya perpecahan. Keempat, berkomitmen mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan/atau golongan demi menjaga kesatuan dan persatuan serta keutuhan NKRI. (dfn)



