Rekonstruksi Moda Transportasi, LRT Palembang Belum Terintegrasi

# Butuh Kebijakan Baru

 

 

PALEMBANG, SIMBUR – Kehadiran moda transportasi kereta api ringan atau Light Rail Transit (LRT) di Palembang, sampai saat ini belum menjadi moda populer bagi masyarakat. Rendahnya tingkat okupansi menjadi salah satu indikator bagaimana proyek bernilai Rp10,9 triliun tersebut masih belum menarik minat masyarakat dan menjadikannya moda transportasi utama.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menilai jika LRT yang saat ini masih dalam tahap uji coba, masih membutuhkan kebijakan-kebijakan baru. Hal itu disampaikan saat kunjungan kerja di Balai LRT, Selasa (16/7).

Dikatakan Budi, pihaknya berupaya untuk mengintegrasikan LRT dengan fasilitas atau moda transportasi kota yang ada, karena tidak bisa dipisahkan. Kehadiran LRT juga diharapkan mensubtitusi angkutan yang ada. Pihaknya harus memastikan LRT memberikan suatu makna terutama berkaitan berkurangnya kemacetan, bertambah baiknya udara di Palembang.

“Saya nanti meminta kepada Wali Kota untuk mengintegrasikan angkutan kota dengan LRT, keduanya mesti saling melengkapi. Lintasan yang ideal adalah moda tersebut tidak boleh sejajar tapi tegak lurus. Saya lihat di sini masih ada yang sejajar,” ungkapnya.

Itulah, lanjut Budi, yang mengakibatkan di satu sisi okupansi LRT masih rendah, dan jalan Sudirman masih macet. “Palembang (LRT) masih perlu kebijakan-kebijakan untuk merekonstruksi lintasan moda transportasi, sehingga bisa diandalkan sebagai angkutan utama dan moda-moda yang lain adalah supporting LRT,” ujarnya.

Selain itu, kedatangan Menhub ke Palembang juga bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap semua apa yang telah dilakukan di Palembang. Apalagi, saat ini LRT dikatakan masih dalam tahap uji coba, sehingga harus terus dipantau dan dievaluasi.

“Saya memang secara berkelanjutan melakukan evaluasi terhadap semua yang dilakukan. Diketahui bahwa LRT Palembang masih (tahap) uji coba. Artinya memang ada perangkat-perangkat yang sedang dilakukan percobaan, agar mencapai suatu puncak performa,” ungkapnya.

Dari apa yang dilakukan, lanjut Menhub, memang ada beberapa hal berkaitan dengan teknis yang harus diselesaikan. Teknis itu menurut Budi, akan dimaksimalkan setelah uji coba, sehingga akan dicapai suatu jarak tempuh yang selama ini satu jam mungkin bisa menjadi 45 menit. Kedua adalah pathway yang selama ini 24 sampai 48 menit.

“Harapannya, total waktu tempuh plus pathway itu ada satu jam, sehingga orang bisa memastikan dari Bandara SMB II sampai tempat yang terjauh adalah satu jam. Pada saat itu, maka ekspektasi masyarakat terhadap waktu tempuh bisa dipenuhi,” ujarnya seraya menegaskan jika dirinya bertugas untuk mensosialisasikan LRT yang sudah dibuat dan harus dipakai dan dimanfaatkan oleh masyarakat. (dfn)