- Tetesan Air Sumber Kehidupan, Wujud Kepedulian Kasad di Brigif 8/GC
- Hadapi Medan Sulit, Tinjau Pembangunan Jembatan Gantung Koala Dua Belas
- Lumbung Energi Jadi Beban Moral, Layanan Listrik di Sumsel Harus Lebih Baik
- Jalan Berlumpur Jadi Ajang Berfoto Warga Desa
- Banjir Rendam Bayung Lencir, Warga Terisolasi dan Butuh Bantuan
Bantai Istri hingga Tewas, Suami Bunuh Diri di Sungai Musi
PALEMBANG, SIMBUR – Isak tangis keluarga mengiringi kepergian Linda Fitri (38). Almarhumah dimakamkan di TPU Puncak Sekuning. Dia diduga korban pembunuhan di tangan suaminya sendiri, Febrianto, warga Kemang Manis Jalan Sepakat No 101 RT 02 RW 01 Kecamatan Ilir Barat (IB) Kota Palembang. Suami korban diduga melompat ke Sungai Musi. Motornya sengaja ditinggal di atas Jembatan Kertapati Minggu (10/2) sekitar pukul 15.30 WIB.
Kasat Reskrim Polretsa Palembang Kompol Yon Edi Winara SH SIK mengatakan, akan melakukan olah TKP usai mendapat laporan dari warga. “Kami akan melakukan evakuasi jenazah korban ke RS Bayangkara Palembang. Terdapat 24 luka tusukan dan tebasan di seluruh bagian tubuh korban,” ujar Edi.
Terkait Febrianto, suami korban yang diduga bunuh diri dengan cara melompat ke Sungai Musi, pihaknya sudah menidaklanjuti. “Kami sudah berkordinasi dengan tim SAR Palembang untuk melakukan pencarian di sekitar Sungai Musi. Tim kami sudah terjun ke lapangan untuk menyelidiki kasus ini,” ujarnya.
Setelah dibunuh oleh suaminya sendiri, jasad korban diautopsi di RS Bhayangkara. Setelah itu, jenazah dikembalikan ke rumah duka untuk dimakamkan di TPU Puncak Sekuning.
Menurut ibu kandung korban, Mubinah(60), sangat trauma atas tragedi yang dialami putrinya. “Motor Jupiter kami jingok di rumah. Memang lakinyo katik di rumah. Anak aku tadi lah teguling di TKP ruang tamu. Tidak ada suara cekcok semalam terdengar sekali. Biaso jualan pempek-pempek, ini idak. Pas ngantar ayuk ke Tanggo Buntung ke Kuto bayar ojek bae. Itulah gawi lakinyo musim ujan ni biaso jualan di Kemang,” ungkapnya.
Dikatakannya, Linda anak ketujuh. Tidak ada firasat yang dialaminya. “Kebetulan anak aku yang bujang ulang tahun dari Lampung sekalian traning ke Palembang. Kami buat tumpeng, rami- rami makan. Memang anaknya yang kecik diajak balek. Bapaknya idak tau, ribut di rumah bapaknya di Sekip. Seandai Febrianto (menantunya) mati, bawaklah ke sano (rumah orang tuanya),” tutup Mubina.(cjs01)



