Jembatan Musi IV Penuh Coretan, Pemkot Palembang Dinilai Gagal Atasi Vandalisme

PALEMBANG, SIMBUR  – Maraknya aksi vandalisme yang masih sering terjadi di Kota Palembang, menjadi antiklimaks bagi kota yang sudah dikenal dunia internasional ini. Apalagi, aksi tersebut bahkan terjadi di Jembatan Musi IV yang baru saja diresmikan dan menjadi salah satu kebanggaan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang saat ini.

Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah, H Wijaya menilai jika vandalisme yang terjadi di Jembatan Musi IV adalah cerminan kegagalan Pemkot Palembang dan kepolisian. “Bentuk-bentuk vandalisme adalah cermin kegagalan pihak kepolisian dalam menegakkan keamanan dan cermin kegagalan pemerintah Kota Palembang dalam menciptakan ketertiban,” ungkapnya saat dikonfirmasi Simbur, Kamis (7/2).

Baginya, penanggulangan aksi tersebut penegakan hukum baik dalam bidang keamanan atau ketertiban harus mampu bersinergi. Apabila tidak terealisasi supremasi hukum dalam rangka penanggulangan bentuk-bentuk vandalisme.

“Di dalam tatanan bernegara di negara ini ada tiga aspek. Pertama, aspek pertahanan yang dilakukan oleh TNI. Kedua, keamanan yang menjadi tugas pokok dan fungsi Kepolisian. Ketiga, ketertiban yang merupakan fungsi dari pemerintah daerah dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP), dinas perhubungan, dinas sosial dan dinas tata kota. Tetapi untuk penegak ketertiban adalah Satpol PP,” jelasnya.

Selain itu, vandalisme merupakan salah satu bentuk luapan emosional atau kreasi yang tidak tersalurkan, dan itu tergantung pada tulisan atau coretannya. “Kalau tulisan itu dalam bentuk nama-nama itu adalah kegagalan eksistensi diri. Kalau kalimat-kalimatnya kotor (porno) itu adalah gejala kejiwaan. Kalimat seperti itu adalah cermin penyimpangan perilaku orang yang melakukan vandalisme,” ujarnya seraya menambahkan jika perlu sebuah shock therapy kepada para pelaku vandalisme.

Sementara, Kepala SatPol PP Kota Palembang, Alex Ferdinandus mengatakan bahwa aksi vandalisme yang terjadi di Jembatan Musi IV terjadi saat petugas atau aparat tidak berada di lokasi. “Patroli kami lakukan tiga kali sehari. Hanya saja aksi vandalisme itu sifatnya aksidentil, kalau tidak ada petugas atau aparat mereka melakukan itu (vandalisme),” jelasnya.

Untuk mengatasi aksi vandalisme di Jembatan Musi IV, SatPol PP sudah melakukan patroli dan berkoordinasi dengan beberapa pihak seperti ketua RT, lurah, camat dan tokoh masyarakat di sana. “Semuanya harus (dilakukan) terpadu. Jika SatPol PP hanya mencegah-mencegah saja itu (tidak efektif) juga. Harus ada andil dari semua pihak di lingkungan itu. Kalau masyarakat di sana ikut mencegah juga, saya pikir itu tidak akan terjadi. Pihak Kepolisian sudah turun (patroli) di sana,” katanya seraya menambahkan jika pihaknya sudah menerima instruksi Wali Kota Palembang untuk melakukan patroli di lokasi tersebut. (dfn)