- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Warga Dambakan Jembatan
MUARA ENIM, SIMBUR – Sejak puluhan tahun warga desa Danau Tampang, kecamatan Sungai Rotan, Muara Enim mendambakan jembatan. Jembatan tersebut diharapkan dapat menghubungkan desa mereka dengan desa lainnya yang ada di seberang sungai Lematang.
Desa yang dihuni kurang lebih 600 kepala keluarga ini terpisahkan oleh bentangan sungai Lematang terhadap kota kecamatan Sungai Rotan dan beberapa desa lainnya. Adapun penghubung desa ini ke desa lainnya dengan kendaraan air berupa perahu atau ketek dengan ongkos yang cukup tinggi dalam satu kali melakukan penyeberangan.
Yoanda (50) warga dusun 1 desa Danau Tampang ini menjelaskan kepada media ini bahwa warga telah berkali-kali mengusulkan agar pemerintah daerah mampu membangunkan jembatan yang menghubungkan desa mereka ke seberang sungai Lematang. “Kami telah mengusulkan agar dibangunnya jembatan permanen ataupun jembatan gantung sebagai penghubung desa kami ke desa Danau Baru sejak zaman pemerintahan masih sistem kerie. Hingga kini masih belum dibangunkan pada hal dari setiap Musrenbang dari tingkat desa hingga kabupaten kita sampaikan. Apalagi dalam reses anggota DPRD Dapil III selalu kita ungkapkan, tapi hingga kini jembatan itu tak kunjung hadir di desa kita,” terang Yoanda, Sabtu (15/12).
Lanjut Yoanda, dengan tidak adanya jembatan penghubung ke sembarang sungai warga setempat mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP maupun SMA karena di desa tersebut hanya ada sekolah dasar, sedangkan sekolah menengah berada di pusat kecamatan.
“Anak sekolah dan warga yang bekerja di sebarang sana, kalau tidak ada perahu tidak bisa berangkat sekolah ataupun ke perkebunan. Apalagi biaya penyeberangan cukup tinggi. Setiap harinya kami harus mengeluarkan biaya Rp5 ribu setiap penyeberangan dilakukan. Besar harapan kami agar adanya jembatan yang menghubungkan desa kita ke sebarang sungai,” harap Yoanda.
Sementara itu, tokoh masyarakat desa Danau Tampang, Hengky mengatakan bahwa desa tersebut merupakan desa yang termasuk tertinggal. Itu karena sulitnya transportasi menuju ke seberang sungai.
“Kami merasa desa ini sangat terisolir dibandingkan desa lainnya apalagi di beberapa wilayah lain yang ada di kabupaten Muara Enim sudah memiliki akses menyeberang ke seberang sungai. Di seberang sungai itu tidak ada desa tapi sudah ada jembatan. Sementara, desa ini dihuni oleh ribuan warga tidak ada perhatiannya sampai berpuluh – puluh tahun berharap agar ada jembatan,” ujar Hengky. (dpt)



