Ingin Bangun Rumah Sakit, Sampai Akhir Hayat Mengabdi pada Dunia Pendidikan

PALEMBANG, SIMBUR – Awan duka menyelimuti satu rumah di kompleks Barangan Indah, Jl Tanjung Barangan, Palembang, Selasa (2/10) pagi hingga siang. Ratusan pelayat hadir untuk mengantar jenazah Prof Ir Bochari Rachman MSc, pemilik sekaligus Rektor Universitas Bina Darma Palembang. Bochari Rachman meninggal dunia dalam usia ke-77 tahun setelah dirawat secara intensif di RS RK Charitas Palembang. Almarhum wafat pada Selasa (2/10) dini hari sekitar pukul 01.50 WIB.

Banyak kenangan baik dan cita-cita Prof Ir Bochari Rachman MSc semasa hidupnya. Karena itu, keluarga, kerabat, handai taulan, rekan kerja dan mahasiswanya sangat merasa kehilangan sosok pribadi yang mengayomi dan bermanfaat bagi orang banyak. Dr Sunda Ariana MPd MM, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Universitas Bina Darma sekaligus putri kandung Prof Ir Bochari Rachman MSc mengungkapkan, masih ada cita-cita sang ayah yang belum terlaksana.

“Keinginan (almarhum) masih banyak sekali, seperti mau buat rumah sakit. Sampai sekarang belum terlaksana. Kalau memang memungkinkan, insya Allah. Karena biayanya (bangun rumah sakit) mahal, tapi anak-cucu akan mengusahakan keinginan bapak,” ungkapnya kepada wartawan di rumah duka, Selasa (2/10).

Sunda juga sangat merasa kehilangan sosok pribadi yang bijak, baik sebagai orang tua maupun sebagai pimpinan. “Kalau sebagai ayah, bapak itu orangnya demokratis. Anak-anak diarahkan tapi tidak dipaksa untuk memilih. Bapak punya visi yang jauh ke depan sehingga sebagai anak dan bawahan harus siap berlari bersama bapak, tidak boleh jalan santai,” kenang Sunda sambil mengusap air mata.

Ditanya apakah ada firasat sebelumnya, Sunda mengatakan iya. “Di RS Charitas sudah tiga kali masuk ICU. Dari dokter rencananya mau dipindah ke RS Harapan Kita Jakarta. Akan tetapi, ada isyarat, dokter bilang high risk kalau dibawa. Dokter tidak mengatakan langsung tapi kami sudah memahami,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Hermanto Wijaya, owner Jaya Raya Solution yang mengaku sebagai anak angkat Prof Bochari Rachman mengatakan memang almarhum punya keinginan untuk mendirikan rumah sakit. “Hanya yang belum terealisasi, rumah sakit. Rencananya akan dibangun di gedung A (kampus lama Universitas Bina Darma), kerja sama dengan Malaysia. Rumah sakit itu cita-citanya,” ungkap Hermanto yang sama-sama bergabung di organisasi sosial Lion Club Palembang.

Diungkap Hermanto, almarhum merupakan sosok yang sangat sabar. “Beliau dapat menyesuaikan. Sebagai orang tua bisa, jadi anak-anak, bisa. Di Lion Clubs  beliau sosok pengayom dan sangat toleran. Kenal beliau saat aksi sosial. Saya sering buat jalan setapak,” ungkapnya.

Bukan saja pendidik, tambah Hermanto, ada tiga fungsi sosok Bochari Rachman, sebagai seorang ayah dan teman. “Dia bukan hanya pekerja, tapi menguasai bisnis juga. Memang tidak disangka. Kami sempat ketemu di gedung Bina Darma delapan bulan lalu,” imbuhnya.

Demikian Prof Dr H Slamet Widodo MS MM, Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2 Dikti, dahulu Kopertis) Wilayah II Sumbagsel juga merasa sangat kehilangan tokoh pendidikan tinggi di Sumatera Selatan. “Sangat kehilangan sekali. Kenal beliau sejak dari Unsri. Beliau ini dulu di Lembaga Penelitian (Unsri). Saya sering diskusi tentang Kopertis,” jelasnya.

Tiga hari lalu,  Slamet Widodo mengaku sempat membesuk ke rumah untuk konsultasi. “Keluhan beliau itu di jantung. Saat membesuk, kebetulan ada dr Hardi Darmawan, direktur RS Charitas. Beliau jadi pasiennya sudah 18 tahun. Saya sangat kehilangan, sebagai tokoh pendidikan sampai akhir hayatnya mengabdi pada dunia pendidikan. Sifat kebapakannya mengayomi dan selalu sabar,” ungkap dia.

Akan halnya, Prof dr Hardi Darmawan MPH&TM FRSTM DAFK, direktur RS RK Charitas Palembang sekaligus dokter pribadi dan keluarga itu turut hadir ke rumah duka. Prof Hardi pun sangat mengenal baik almarhum, karena Prof Ir Bochari Rachman sudah belasan tahun menjadi pasiennya.

“Seorang pribadi yang betul-betul luar biasa integritasnya, sangat tekun. Visinya jauh ke depan dan bermanfaat untuk orang banyak. Dulu kami sama-sama di Unsri. Sekarang hubungan antara dokter dengan pasien,” ungkap dr Hardi. (tim)