Bus Telat hingga Internet Ngadat, Akses Mimin Medsos Lebihi Wartawan Peliput Asian Games di Palembang

PALEMBANG, SIMBUR – Di balik kelengkapan main press center (MPC) Asian Games di Palembang, ternyata masih menyimpan kekurangan. Masalah transportasi dan akses komunikasi menjadi persoalan krusial yang harus dicarikan solusi dan penyelesaian. Sejumlah wartawan di MPC Palembang mengaku kerap terkendala bus ke venue dan internet yang sering ngadat.

Bukan hanya itu, ulah oknum mimin (admin media sosial) nakal terkadang melebihi kapasitas wartawan dalam menyampaikan informasi seputar pertandingan Asian Games yang akan berlangsung pada 18 Agustus hingga 2 September mendatang. Wartawan mengaku pernah dilarang bahkan sempat diusir saat meliput pertandingan. Akan tetapi, mimin medsos yang diduga “dipelihara” justru bebas mengakses dan menyiarkan pertandingan Asian Games 2018.

Dr Inanda Karina Astari Fatma SSi MSi, Director of IT, Broadcast, and Social Media Departement of Asian Games di Palembang mengimbau, persoalan bus segera dicarikan solusinya. “Sopir diberikan jadwal pertandingan, sehingga dapat standby mengantar wartawan,” ungkapnya saat konferensi pers usai Opening Ceremony of the Palembang Sub Main Media Centre Followed by Media Briefing di Sriwijaya Promotion Center (SPC) Jakabaring Sport City, Palembang, Jumat (17/8).

Ditanya soal akses internet ngadat, dirinya mengatakan, khusus untuk media disiapkan 50  akses free wifi. Menurutnya, ada cukup banyak akses poin internet di media center (MPC) sehingga bisa melayani internet. “Manajemen building baru dalam persiapan, mungkin karena kurangnya komunikasi antara penyedia listrik dengan provider internet,” ungkapnya.

Terkait ulah mimin medsos nakal, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemprov Sumsel itu mengatakan, dalam local committee (panitia lokal), media sosial ada di deputi komunikasi. “Dalam manajemen lokal dijadikan satu. Kenapa admin medsos bisa masuk dalam akses Asian Games? Tentu menjadi tanggung jawab kami atas admin-admin (medsos) tersebut. Semoga pemberitaan Asian Games di Palembang tetap baik,” terangnya.

Purwanto Hari, General Manager PT Telkom Palembang yang kebetulan hadir mengatakan, pihaknya segera memaksimalkan layanan internet bagi wartawan peliput Asian Games di Palembang. Menurut Hari, pihaknya masih masa optimasi, memasang jaringan dan memaksimalkan bandwith. “Kami akan maksimalkan apa yang ada di sini, dengan jaringan fiber atau modem. Kalau ada keluhan, silakan lapor ke posko kami. Mohon Diskominfo agar akses IP yang tidak perlu di-off-kan dan ditertibkan,” tegasnya.

Sementara itu, Tony Mariadass, member of OCA berkebangsaan Malaysia mengaku puas dengan sedikit kecewa terhadap persiapan Asian Games di Palembang. “Saya kecewa sedikit pada athlete village (Wisma Atlet). Biasanya athlete village itu ada international room, tidak bisa dicampur. Hasil kami melawat semalam, ada ruang tapi tidak bisa dicampur antara atlet dengan negara,” ungkap Tony dengan logat Melayu seraya menambahkan, “Demi keamanan dan keselamatan, kami tidak memperkenankan wartawan masuk ke wisma atlet,” tegasnya.

Mengenai wartawan yang dilarang bahkan sempat diusir ketika ingin meliput pertandingan, Tony mewakili OCA meminta maaf atas kejadian tersebut. “Kami minta maaf (atas insiden tersebut) karena mereka (panitia) terbatas pada peraturan (Inasgoc),” jelasnya.

Soal transportasi wartawan, Tony menambahkan, memang ada transpor untuk wartawan dri media center ke venue yang beroperasi setiap tiga puluh menit. “Kami akan tambah armada mulai hari ini. Ada satu shuttle bus lagi dari venue ke venue. Bus wartawan tidak boleh dicampur dengan penonton, khusus disediakan untuk media,” imbaunya.

Di tempat yang sama, Zulyadi Ihsan dari Inasgoc mengatakan, ada sedikit miskomunikasi dan perlu koordinasi. “Volunteer (pemandu) yang kami rekrut kurang berpengalaman melaksanakan Asian Games. Kalau ada yang kurang berkenan sialakan disampaikan,” ungkapnya.

Mengenai bus, atlet tidak boleh satu mobil dengan wartawan. “Bus tidak dilengkapi stiker. Tetap sediakan 3 bus ke venue. Bus atlet juga tidak bisa dicampur dengan wartawan,” akunya.

Menanggapi akses internet, lanjut dia, memang ada masalah daya. “Karena listrik sering down sehingga menyebabkan internet ngadat,” terangnya.

Ihsan juga menekankan soal mimin medsos. “Makanya yang mendaftar perusahaan media. Mereka (mimin medsos) punya akun pribadi. Akses ini infonya dari Diskominfo. Sebenarnya medsos resmi itu ada 10. (Mimin medsos) Tidak boleh merekam pertandingan,” tutupnya.(maz)