- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Kapal Rusak, Penumpang Sempat Telantar di Pelabuhan TAA
# Perbaiki Sistem Manajemen Transportasi
PALEMBANG, SIMBURNEWS – Momen libur Tahun Baru menjadi kesempatan bagi warga Sumatera Selatan (Sumsel) untuk melakukan perjalanan mudik maupun hanya sekadar piknik. Salah satu moda transportasi yang diminati adalah transportasi laut yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan pulau lainnya, termasuk Bangka Belitung.
Terkadang persoalan teknis dari moda tersebut menjadi momok tersendiri bagi para calon penumpang. Hal tersebut juga dialami calon penumpang yang terpaksa harus antre memasuki kapal di pelabuhan Tanjung Api Api (TAA). Kemacetan mengular akibat adanya kapal feri yang diduga mengalami kerusakan.
Informasi yang diterima Simbur, akibat terjadi kerusakan kapal berdampak pada kemacetan yang mengular sepanjang satu kilometer. “Lebih dari 30 mobil tidak bergerak dan belum masuk kapal. Kami telantar sejak pukul 08.00 pagi,” ungkap Winarno, honorer di salah satu pemerintah kabupaten di Sumsel.
Menanggapi itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan (Plt Kadishub) Provinsi Sumsel, Nelson Firdaus mengatakan, sebenarnya memang ada kapal yang sedang docking (bersandar). Saat ini sudah diantispasi dengan penambahan tiga kapal.
“Tentang kapal rusak itu kan tadinya memang ada satu (kapal) yang docking. Makanya ditambah tiga kapal lagi (tiga trip) sebagai langkah antisipasi. Kalaupun penambahan tersebut masih kurang, kami akan coba untuk penuhi dengan bekerjasama dengan operator. Intinya, kami siap dan memang sudah diantisipasi jauh-jauh hari bahwa jika terjadi lonjakan penumpang maka akan ada penambahan kapal,” ungkapnya, dikonfirmasi Simbur, Sabtu (30/12).
Dirinya mengatakan bahwa dari informasi petugas di lokasi, salah satu faktor terjadinya kemacetan disebabkan peningkatan jumlah calon penumpang jelang akhir tahun ini. “Memang penumpangnya yang membludak karena terjadi peningkatan penumpang. Tim kami sudah berada di lokasi baik dari Kepolisian, Dishub, dan lainnya sudah berada di lokasi,” jelas Nelson yang sebelumnya menjabat Kabid Lalu Lintas Dishub Provinsi Sumsel ini.
Masih kata Nelson, dirinya berharap agar masyarakat menggunakan jasa (moda) transportasi dengan sebaik-baiknya, dan tidak perlu khawatir akan kekurangan armada kapal. “Masyarakat tidak perlu khawatir terjadi kekurangan (moda) transportasi, karena tim kami selalu siap di lokasi, dan ikuti saja aturannya (sistem penyeberangan). Selain itu, kami juga berharap kepada masyarakat untuk tetap menjaga situasi dan keamanan agar tetap kondusif,” harapnya.
Selain itu, Nelson mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga fisiknya selama dalam perjalanan, khusunya yang menggunakan kendaraan pribadi. Hal yang tidak boleh dilupakan yaitu mengecek kendaraan apakah dalam kondisi layak atau tidak dipakai untuk berkendara.
“Masyarakat harus jaga kesehatan di dalam perjalanan, sehingga diharapkan saat pergi dan pulangnya tetap selamat sampai tujuan. Itu memang menjadi imbauan kami khususnya yang mengendarai kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat. Kendaraan yang dipakai jangan lupa untuk dicek kondisinya,” imbaunya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Prof Dr Ir Hj Erika Buchari MSc mengatakan jika terjadinya kemacetan di TAA akibat adanya kapal penyeberangan yang rusak, lebih ke persoalan manajemen (pengelolaan).
“Itukan persoalan antisipasi. Kan (sebelumnya) sudah tahu jika masalah (arus) mudik banyak orang yang akan menyeberang. Cobalah sebelum hari H, (kapal) diperiksa dulu apakah sudah jalan atau belum (dalam kondisi layak beroperasi). Jadi hal itu sebetulnya masalah manajemen (pengelolaan) baik itu mananemen jadwal, kerja dan lainnya. Selain itu perlu juga untuk memperbaiki sumber daya manusianya (SDM),” ungapnya.
Dijelaskan Prof Erika, pengelolaan tersebut dalam artian jumlahnya berapa, mana yang harus diperbaiki dan mana yang perlu dipersiapkan. Karena menurutnya, kebanyakan dari masyarakat jalannya by nature (alami). Ketika sudah mentok, baru dikerjakan. Hal tersebut dikatakan tidak bisa seperti itu, sebenarnya harus diantisipasi.
Masih kata Prof Erika, pengelolaan tersebut dalam artian jumlahnya berapa, mana yang harus diperbaiki dan mana yang perlu dipersiapkan. Karena menurutnya, kebanyakan dari masyarakat jalannya by nature (alami). Ketika sudah mentok, baru dikerjakan. Hal tersebut dikatakan tidak bisa seperti itu, sebenarnya harus diantisipasi.
“Manajemennya itu (yang utama), karena akan terlihat tidak profesional. Kalau di luar negeri itu ada yang namanya Port Authority (otoritas pelabuhan), kalau di Indonesia masih berbentuk UPT. Dari pihak itulah bisa ditentukan kapal yang akan tiba atau akan dikembangkan lagi. Jadi, mereka berprogram (yang) menghasilkan,” ujarnya.
Ini juga masalah kapal, tambah dia, sudah tahu mau Natal dan Tahun Baru, sudah tahu frekuensi (penumpang) akan meningkat. “Seharusnya diantisipasi apakah (kapal) sudah beres atau belum. Jelasnya, kalau ada satu saja kapal yang rusak itu memang akan mengganggu,” tambahnya.(mrf)



