Narasi Tunggal Hindari Salah Persepsi Publik

PALEMBANG, SIMBURNEWS – Juru Bicara (Jubir) Presiden, Johan Budi menegaskan, untuk menjadi public relation (PR) ataupun humas suatu lembaga harus mempunyai kompetensi. Hal ini diungkapkannya saat menjadi pemateri pada Sinergi Aksi Informasi Komunikasi Publik (SAIK) 2017, di Palembang, Rabu (22/11).

Menurutnya, humas sebagai palang pintu informasi terhadap publik. Oleh karena itu, humas harus benar-benar yang mempunyai kompetensi. “Saat ini humas harus berubah dan cepat mengikuti perkembangan,” katanya saat menjadi pembicara bersama dengan Nukman Luthfie.

Terkait adanya narasi tunggal, mantan jubir Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini menegaskan hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi informasi yang bertabrakan. “Karena hal ini nantinya akan menimbulkan salah persepsi bagi publik terhadap pemerintah,” ungkapnya.

Johan melanjutkan, salah persepsi tersebut dapat menyebabkan komunikasi tidak clear, tidak jelas, dan tidak tepat sasaran. Sehingga, yang ditangkap publik adalah persepsi yang salah. “Keberhasilan pemerintah tidak sampai kepada publik, sehingga menjadi bahan material untuk fitnah dan presiden menjadi sasaran kemarahan publik,” tegasnya seraya menambahkan agar informasi harus jelas, akurat, dan terpercaya.

Pada kesempatan yang sama, Nukman Luthfie menambahkan, bahwa ketika suatu press release disebar di media sosial akan menimbulkan kesan yang berbeda. Karena, menurutnya, media sosial ini berbeda dengan media mainstream.

“Media sosial itu sifatnya santai, berbeda dengan press release yang harus jelas. Ketika press release dipindah ke media sosial ini sudah beda,” jelasnya.

Oleh karena itu, ketika PR atau Humas akan membagikan sesuatu dalam media sosial harus memerhatikan content (isi) dari yang dibagikan tersebut sehingga bisa dilihat bagaimana conversation (respon) dari publik terhadap postingan itu. “Salah satu content yang menarik untuk diposting adalah dalam bentuk grafik, misalnya pertumbuhan penduduk, grafik BPS dan grafik-grafil lainnya sehingga ini akan lebih menarik,” ujarnya.

Dirinya juga menegaskan, agar dalam memposting sesuatu, humas ataupun admin dari media sosial pemerintahan ini memberikan informasi yang singkat, padat, tapi casual. Misalnya dengan memposting gambar dan teks, ini ini efeknya akan lebih besar dibandingkan dengan teks saja.

Selain itu, Nukman melanjutkan, selain membuat content yang menarik, harus diperhatikan juga kapan saja waktu followers dari media sosial itu aktif. “Media sosial ini juga harus memberikan respon, jangan selesai memposting sudah, selesai. Interaktif, ini penting misalnya bisa dengan membuat kuis selain menjawab pertanyaan. Atau cari orang yang bisa mempromosikan misalnya selebgram, blogger, youtuber dan lainnya, pasti ada dari masing-masing daerah,” pungkasnya. (yrl)