Sriwijaya dalam Bahaya

PALEMBANG, SIMBURNEWS – Diklaim sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya yang diketahui sebagai kerajaan maritim terbesar di zamannya, Sumatera Selatan (Sumsel) tentunya memiliki potensi besar akan benda-benda cagar budaya. Khususnya, terkait dengan barang muatan kapal tenggelam (BMKT) atau biasa disebut dengan harta karun di sepanjang pesisir timur serta Sungai Musi dan anak-anak sungainya.

Nurhadi Rangkuti, arkeolog senior mengaratakan, dari Selat Bangka hingga Selat Malaka merupakan jalur maritim Kerajaan Sriwijaya sampai ke perairan Jawa dan Indonesia timur.  Untuk BMKT yang ditemukan baru di Cirebon, lalu ada sisa kapal di Rembang, Jawa Tengah.

“Di Selat Bangka kami belum menemukan kapal tenggelam. Tapi, yang di sungai-sungai seperti teluk Cengal, memang ada kapal (bekas kapal purba) namun barang muatannya sudah tidak ada,” ungkapnya dikonfirmasi Simbur, Jumat (22/9).

Dijelaskan Rangkuti, cagar budaya bisa di darat maupun di perairan. Jika sudah diteliti dan mengandung nilai-nilai arkeologi, itu memang menjadi cagar budaya. Masalahnya, cagar budaya yang ada di perairan sangat sulit untuk dijaga, tidak seperti yang ada di darat.

“Secara umum, temuan bisa dikategorikan sebagai cagar budaya jika usianya sudah 50 tahun, namun nanti akan dinilai pentingnya baik itu nilai kebudayaan, kesejarahan dan lain-lain. Nilai penting itulah yang akan menjadi acuan dari penentuan statusnya,” jelasnya.

Terkait pencurian harta karun, Rangkuti mengaku jika aksi tersebut masih marak. Salah satunya karena benda cagar budaya yang berada di perairan sangat susah untuk diawasi. Terkadang titik koordinat yang meleset atau mungkin mendapatkan informasi yang kurang tepat dari nelayan. Namun, sebenarnya banyak sekali titik koordinat (potensi harta karun), tinggal kapan eksekusi akan dilakukan,” bebernya. (mrf)

 

 

(Baca berita selengkapnya di surat kabar Simbur Sumatera edisi Oktober 2017)