- Nilai-Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo, Tegaskan Integritas, Niat Murni, dan Kesederhanaan sebagai Teladan Bangsa
- Keok Praperadilan, Dua Beranak Tersangka Suap Proyek Irigasi di Muara Enim Dilimpahkan ke Pengadilan
- Pulang Ibadah Haji, Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKU Timur Susul Dua Rekannya Masuk Bui
- Kodam II/Sriwijaya Tancap Gas, Palembang Pimpin Progres Koperasi Desa Merah Putih
- Deninteldam II/Sriwijaya Gagalkan Pengiriman 1 Kg Sabu dari Palembang ke Empat Lawang
Sweeping Kapal Pencuri Harta Karun
PALEMBANG, SIMBURNEWS – Luasnya wilayah perairan Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi hal yang memerlukan treatment yang jitu agar program poros maritim Presiden Joko Widodo bisa tercapai. Kapal asing tak berizin, tentu akan masuk dalam pengawasan dan penjagaan Direktorat Polisi Perairan (Polair) Polda Sumsel.
Direktur Polair Polda Sumsel, Kombes Pol Robinson Siregar mengatakan bahwa wilayah perairan Sumsel bukan hanya laut tetapi juga sungai. Untuk wilayah laut, Polair memiliki wilayah sampai ke selat Bangka karena program Presiden untuk meningkatkan keamanan poros maritim. “Kegiatan kami untuk menjaga stabilitas kamtibmas khususnya di perairan Sumsel, kami membagi tugas karena di Sumsel ada empat satuan polisi air (Satpolair) yaitu Palembang, Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI),” jelasnya dikonfirmasi Simbur, Jumat (22/9).
Untuk mencegah terjadinya tindak pidana, Polair Polda Sumsel memiliki pangkalan-pangkalan sandar yang berjumlah 13, dimana setiap pangkalan dilengkapi dengan kapal polisi baik itu kapal fiber atau kapal kayu speed lidah. Terkait potensi barang muatan kapal tenggelam (BMKT) yang menjadi cagar budaya, Polair Sumsel tetap melakukan patroli rutin untuk menjaga perairan Sumsel. “Patroli itu adalah semua kegiatan pengamanan dan pencegahan. Tinggal sekarang patrolinya difokuskan ke mana,” ujarnya. (mrf)
(Baca berita selengkapnya di surat kabar Simbur Sumatera edisi Oktober 2017)



