- Rindam II/Sriwijaya Gembleng 365 Calon Prajurit Siswa di Lahat
- Satu Korban Tewas akibat Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah
- Nilai-Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo, Tegaskan Integritas, Niat Murni, dan Kesederhanaan sebagai Teladan Bangsa
- Keok Praperadilan, Dua Beranak Tersangka Suap Proyek Irigasi di Muara Enim Dilimpahkan ke Pengadilan
- Pulang Ibadah Haji, Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKU Timur Susul Dua Rekannya Masuk Bui
Terima Arahan, Beri Masukan
JAKARTA, SIMBURNEWS – Tanpa disadari, perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia kerap mendapat arahan dari Presiden. Hal itu diketahui dari hasil pertemuan Ketua Aptisi Pusat, Budi Djatmiko beserta jajaran dengan Presiden Joko Widodo, didampingi Menteri Sekretaris Negara, Praktikno, di Istana Negara Jakarta, Rabu (23/8) sekitar pukul 14.30 WIB.
Dalam pertemuan itu, Presiden RI Joko Widodo berbicara tentang radikalisme di Indonesia, khususnya di lingkungan kampus, serta permasalahan di perguruan tinggi. “Ada enam arahan Presiden yang disampaikan pada pertemuan tersebut,” ungkap M Budi Djatmiko kepada Simbur Sumatera.
Menanggapi itu, Aptisi pun memberikan masukan kepada Presiden. Dikatakan Budi, pihaknya bersedia mengilangkan radikalisme, tetapi jangan sampai mendeskriditkan agama tertentu, dan menjatuhkan martabat pimpinan agama, karena riset membuktikan yang ucapamnya dapat dipercaya masyarakat di antaranya dose/guru, ulama, dan mahasiswa.
Sebagai ketua Aptisi, Budi prihatin dengan kecepatan berpikir Presiden dalam menghadapi perubahan tetapi tidak diikuti jajaran kementerian dan eselon 1 dan 2. “Sangat lambat dan kurang adaptif dengan perubahan yang diharapkan Presiden,” imbuhnya. (mrf)
(Baca berita selengkapnya di surat kabar Simbur Sumatera edisi September 2017)



